Dream - Suara gemuruh itu mendadak padam. Puluhan ribu manusia yang berjubel tak lagi bersuara. Semua mata terpaku pada layar raksasa di sudut stadion. Mengamati apakah bola sudah melewati garis atau masih tertahan di mulut gawang. Air muka mereka seragam. Tegang.
Lima detik kemudian sorak-sorai membahana. Menggema hingga ke langit Porto Alegre. Menandai gol rumit pada laga Prancis kontra Honduras itu. Gol perdana di ajang Piala Dunia yang ditentukan melalui teknologi garis gawang.
Dan kreator gol itu adalah Karim Benzema. Bomber Prancis asal Lyon. Dari sudut sempit di sebelah kanan gawang, dia melepaskan tendangan voli. Bola membentur tiang gawang. Memantul liar ke mulut gawang. Kiper Valladares berhasil menerkam bola di mulut gawang. Namun setelah dilihat dengan teknologi baru itu, bola ternyata sudah melewati garis gawang. Gol!
Sore itu Benzema memang tampil trengginas. Dia berhasil mengacak-acak pertahanan Honduras. Dada lawan kerap berdesir setiap dia menggiring bola. Merasa was-was tak mampu membendungnya. Dan akhirnya, Benzema benar-benar menjadi bintang setelah menceploskan dua dari tiga gol Prancis pada laga perdana Grup E Piala Dunia Brasil itu.
“ Ini Piala Dunia pertama saya dan saya pikir kami semua senang dengan hasil ini. Sangat penting untuk memenangkan pertandingan ini,” tutur Benzema ke o.canada.com.
Bertanding di Piala Dunia memang menjadi mimpi Benzema sejak kecil. Hasrat itu semakin menggebu setelah menyaksikan pertandingan final Piala Dunia 1998 melalui televisi. Kala itu, dia terpesona dengan penampilan penyerang Brasil, Ronaldo. Sehingga dia menjagokan Tim Samba daripada si Ayam Jantan, julukan tim nasional negaranya. “ Namun saya mengubah dukungan setelah Zidane memasukkan dua gol,” tutur dia.
Sejak kecil, Benzema memang mengidolakan Ronaldo. Dan kekaguman itu masih berlaku hingga kini. “ Idola waktu kecil saya masih menjadi pemain favorit saya. Saya belajar dari melihat pertandingannya, videonya. Saya melahapnya. Saya kadang-kadang masih menonton DVD dia. Dia masih menjadi satu-satunya acuan saya,” kata dia.
“ Saya juga melihat video Zizou (Zidane), tapi Ronaldo yang selalu membuat saya bermimpi,” tambah Benzema.
Kini, setelah 16 tahun memendam mimpi, giliran Benzema yang unjuk gigi. Dia telah membuktikan kepada dunia. Menjadi predator buas gol di lapangan hijau. Menggantikan para idola yang sudah menggantung sepatu karena termakan usia.
***
Dilahirkan di Kota Lyon, 19 Desember 1987, Benzema seolah sudah ditakdirkan menjelma sebagai pemain bola berbakat. Kemampuan anak ke tiga dari delapan bersaudara ini sudah terlihat sejak kanak-kanak saat masih bermain bola di jalanan. Meski kemampuannya lebih menonjol dari kawan-kawan, dia selalu rendah hati dan selalu mau belajar.
“ Dia bermain bola sepanjang hari. Begitu pula di bulan Ramadan, tak berhenti. Dia baru pulang menjelang gelap kemudian merebahkan badan menunggu buka puasa,” kata Hafid, ayah Benzema.
Benzema memang tumbuh dalam lingkungan yang taat. Sang ayah, yang merupakan imigran asal Desa Tighzert, Beni Djellil, Aljazair, ini selalu mengajarkan agar kedelapan anaknya tak meninggalkan salat. Sehingga, di sela-sela latihan di waktu kecil itu, Benzema kerap kali pulang untuk salat. Dan kemudian berlatih kembali.
Pelajaran itu dilakukan hinga kini. Meski bergabung dengan Real Madrid yang haus prestasi, dia tak pernah meningalkan puasa saat Ramadan. Dokter tim berjuluk Los Merengues ini bahkan rela menyediakan formula khusus untuk menjaga kebugaran Benzema selama berpuasa. Dan hasilnya Benzema masih bisa berprestasi meski dalam kondisi puasa.
***
Benzema memulai karirnya sejak usia delapan tahun. Klub pertamanya adalah Bron Terraillon SC. Klub lokal di kotanya. Benzema yang sewaktu kecil dipanggil dengan nama Coco ini menjelma sebagai bocah ajaib. Kilau Benzema terlihat kala Bron Terraillon melawan Lyon pada pertandingan akademi di bawah usia 10 tahun. Kala itu si Coco mencetak dua gol.
Lyon yang menjadi klub terbesar di kota itu pun kepincut. Pejabat Lyon dengan segera melamar ke Presiden Bron Terraillon, Serge Santa Cruz. Semula pinangan itu ditolak. Namun kemudian Benzema diizinkan pindah. Dalam usia sembilan tahun, Benzema resmi menjadi anggota akademi Lyon.
Selama menimba ilmu di Lyon, Benzema menjadi anak gawang. Bersama murid lainnya, dia setia berada di pinggir lapangan kala tim senior bermain. Dia bertugas mengambil bola yang keluar lapangan. Pengalaman inilah yang menambah ilmunya tentang bermain bola. Sebab, dia dengan leluasa bisa mengamati pemain-pemain top beraksi.
Benzema kemudian masuk tim usia 16 Lyon. Saat itulah kemampuannya semakin terasah. Benzema mampu mencetak 38 gol dalam kompetisi nasional untuk usia 16 tahun. Dan pada musim 2004-2005, Benzema masuk tim cadangan Lyon. Dia memulai debut profesionalnya pada 11 Desember 2004.
Sejak itulah dia bergaul dengan nama-nama beken di jagat bola. Seperti Michael Essien, Sylvain Wiltord, Florent Malouda, dan Eric Abidal. Karena dianggap anak bawang, Benzema kerap menjadi bahan tertawaan. Namun, sang junior ini malah memberikan peringatan kepada seniornya itu. “ Jangan tertawa, saya di sini untuk mengambil tempatmu.”
Benzema tampil untuk tim senior Lyon sejak 2004 hingga awal 2009. Kemampuannya terus terasah dari pertandingan ke pertandingan. Prestasinya mengkilap. Dalam 144 kali pertandingan, dia mampu mencetak 66 gol. Inilah yang membuat Real Madrid jatuh cinta.
Pada Juli 2009 Benzema resmi diboyong ke Santiago Bernabeu, markas Madrid. Tim kaya raya itu harus merogoh kocek US$ 44 juta. Angka ini memang kalah jauh dari Cristiano Ronaldo dan Kaka, dua bintang dunia yang juga didatangkan Madrid dari Manchester United dan AC Milan.
Meski demikian, bukan berarti Benzema kalah kualitas. Meski sempat terlihat sulit di masa awal, prestasinya mencorong di kemudian hari.
Kini, sudah hampir enam musim kompetisi dia arungi bersama Madrid. Selama itu, dia sudah tampil dalam 254 pertandingan dengan mencetak 123 gol di semua kompetisi.
Beberapa pekan lalu, dia malah menjadi penentu kemenangan Madrid atas Liverpool dalam laga Liga Champion Eropa. Kemenangan penting itu membuat Los Galacticos berhak melaju ke fase selanjutnya.
Sebagai pesepakbola muslim, prestasi Benzema memang terus mengkilap di Real Madrid yang bertabur pemain bintang. Di antara pesepakbola bintang, cahaya Benzema tetap bersinar terang. (eh)