Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rancangan Ariy Arka (Foto: Deki Prayoga/Dream)
Dream - Bumi Pertiwi sedang menjerit. Ia semrawut. Hutannya dilahap si jago merah. Banjir menggenang di Ibu Kota. Virus Corona merajalela. Lepas tak terkendali, menggemparkan dunia.
Selang tiga bulan di 2020, alam semesta porak-poranda. Bencana di mana-mana. Manusia dengan segala ambisi dan hiruk-pikuknya terkadang membuat Bumi Pertiwi luka.
Seorang perancang busana ikut merasa resah. Ariy Arka, merantau jauh dari Medan prihatin dengan keadaan alam dan lingkungan Ibu Kota yang semakin morat-marit.
Dengan sentuhan kreatif, ia menumpahkan kegelisahan itu dalam karya mode bertajuk 'Kemelut' untuk label busana abee. Sebuah persembahan sewindu berkarya, di pagelaran busana tunggal yang mengisi panggung Fashion Rhapsody 2020.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Kritik sang desainer terhadap kondisi alam yang kacau balau tertuang di 48 set busana. Terdiri dari 36 setelan pria yang menjadi fokus utama koleksi, berdampingan dengan 12 busana wanita dalam satu payung bertema 'Harmoni Bumi'.
" Semua orang punya arah dan tujuan, dan untuk mencapai itu tidak mudah. Perjalanannya luar biasa. Ada suka duka. Semua dirangkum menjadi energi yang luar biasa yaitu 'Kemelut'. Berawal dari tidak adanya kepastian. Saya dulu tidak pernah bermimpi jadi desainer," tutur Ariy kepada Dream di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Ada pesan khusus yang ingin Ariy sampaikan. " Orang-orang terlalu sibuk di Ibu Kota, banyak yang tidak acuh. Bencana, virus, itu semua akibat dari ulah manusia. Banyak yang tidak peduli dengan sesama, apalagi dengan lingkungan. Kita ini human, ayo tingkatkan rasa humanity kita," ujarnya.
'Kemelut' dibuka dengan tragis. Teror sampah plastik melilit hewan-hewan tak berdosa. Mencekik mereka yang terjebak, lemas dan menangis tak berdaya. Di hadapan manusia yang masih bersikap arogan. Acuh tak acuh, menutup mata.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Latar teatrikal bertema Secret Forest menampar para penonton dengan gambaran bumi yang tengah mengalami kehancuran. Model berjalan dengan angkuh. Menendang, merusak dan mencabik tanaman hijau yang semula menghiasi runway.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Aplikasi bordir bermotif abstrak dan geometris terpampang di busana mereka. Dibubuhkan secara acak. Memenuhi bagian punggung, dada dan lengan busana.
Bentuknya bermacam-macam. Ayam jago, burung kakak tua, genangan banjir hingga virus corona. " Bordirnya terbuat dari kain perca sisa limbah fashion. Dalam satu baju bisa memakai lima teknik bordir sekaligus," jelas Ariy.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Galau dan semrawut, Ariy Arka memadukan berbagai jenis bahan dari tekstur dan ketebalan berbeda. Beludru, rajut, denim, twill, organdi dan tulle serentak dalam satu mahakarya.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Ariy menyuntikkan 'Kemelut' dengan gaya street style androgyn, ciri khas label abee. Siluet lurus dan serba longgar nan apik untuk kawula muda, cocok pula untuk mereka yang berhijab. Karyanya tampil dalam bentuk terusan, blouse, rok berkantung besar, celana komprang dan aneka jaket.

Foto: Deki Prayoga/Dream
Tangannya tak berhenti mengolah limbah. Sisa bahan terpal, karung plastik, twill dan denim disulap menjadi tas beraneka ukuran. " Semua elemen dari industri fashion harus kembali lagi ke alam. Banyak desainer memakai alam sebagai inspirasi mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan ini bisa digunakan untuk koleksi baru," kata Ariy.
Dream – Suasana alam di Muara Danau Toba tertuang dalam karya Ariy Arka di pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018. Dia membawa serta kain tenun ulos khas Tapanuli Utara untuk mempertegas koleksi yang bertajuk " Muara" .
" Saya ingin menggambarkan suasana di salah satu tempat hilir mudik para masyarakat yang hendak menuju dan dari Pulau Sibandang tempat penghasil tenun di Danau Toba," ungkap Ariy Arka di JCC, Rabu 28 Maret 2018.
Desain karya Ariy menonjolkan ciri khasnya yang asimetris, cheerful dan playful dibalut dengan warna natural, seperti coklat, krem, kuning, merah, oranye, hijau, hitam dan putih.

" Warna-warna yang dipakai, diambil dari akar- akar batang dan daun-daun yang tumbuh di sekitar Danau Toba," tuturnya.
Pria yang pernah menggelar show di Australia ini menggunakan bahan serat benang 100% cotton, cotton dobi, cotton line dan kayu alami yang dikombinasikan dengan bordir burung bangau.

" Karena di pinggiran Danau Toba banyak sekali burung-burung bangau yang berterbangan," katanya.
Sejak awal terjun di dunia fashion design, Ariy menggunakan garis desain anak muda yang lebih enerjik dan bermain di aksen warna, agar lebih mencintai produk dalam negeri.
" Rancangan ini ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan luar negeri berusia 20-45 tahun yang cinta akan kreasi lokal dan budaya Indonesia" .
Dream - Puncak acara Fashion Rhapsody 2020 resmi dibuka. Perhelatan bertajuk 'Harmoni Bumi' ini merupakan gagasan mode yang didedikasikan untuk menjaga kelestarian alam.
Keempat desainer sekaligus founder, yakni Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara dan Yulia Fandy, beritikad menularkan gairah berkarya mode yang bertanggung jawab untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari bumi pertiwi.

" Korelasi fashion dan manusia sangatlah erat. Banyak desainer yang memakai alam untuk dijadikan sebagai inspirasi busana mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan itu bisa digunakan untuk koleksi terbaru. Lewat isu lingkungan ini, kami tergerak menciptakan Fashion Rhapsody," tutur Ariy Arka, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody di Jakarta, Rabu 26 Februari 2020.
Suasana alam mulai terasa ketika memasuki area perhelatan. Runway dibuat dengan tema dekorasi alam yang berbeda setiap harinya. Tema tersebut adalah Savana, Silk Lagoon, Secret Forest dan Wysteria.

" Kami ingin menjadikan alam lebih baik, mengurangi pemakaian plastik, memberdayakan sampah menjadi karya di panggung fashion," kata Yulia Fandy, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody.

Acara ini mempersembahkan lebih dari seribu set busana hasil karya perancang mode Tanah Air. Opening Ceremony dimeriahkan oleh parade fashion dari perwakilan desainer.

Mereka diantaranya Ria Miranda, Kami, Tuty Adib, Lia Soraya, Dewi Gta, Adinda Moeda, Kursien Karzai, Rya Baraba, Mora Aesthetic X ZD, Dana Duriyatna Sugeng Waskito dan Rasyid Salim.
Karya mode yang ditampilkan mencakup busana pria dan wanita, modest wear serta busana etnik yang memakai karya wastra Nusantara. Acara turut menampilkan partisipasi Dekranasda Kabupaten Lingga yang membawa batik khas Riau.

" Desain ready to wear dengan garis potongan simpel yang bisa dipakai sehari-hari, kami ingin menunjukkan bahwa Lingga juga punya batik yang memiliki ciri khas sendiri," ujar Rasyid Salim, desainer pewarkilan Dekranasda Kabupaten Lingga.
Tak hanya perancang mode, selebriti juga turut memeriahkan gelaran ini. Seperti Melly Goeslaw yang menutup opening ceremony dengan koleksi dari brand Aleabe.

Digelar di The Tribrata Dharmawangsa pada 26-29 Februari 2020, acara masih akan dimeriahkan oleh berbagai artis dan desainer seperti Laudya Cynthia Bella, Ivan Gunawan, Fenita Arie, Nina Nugroho dan banyak lagi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya