Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kemelut, Karut-marut Bumi Pertiwi di Mata Ariy Arka

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Senin, 2 Maret 2020 12:13
Kemelut, Karut-marut Bumi Pertiwi di Mata Ariy Arka
Menggambarkan sikap manusia yang arogan dan acuh tak acuh.

Dream - Bumi Pertiwi sedang menjerit. Ia semrawut. Hutannya dilahap si jago merah. Banjir menggenang di Ibu Kota. Virus Corona merajalela. Lepas tak terkendali, menggemparkan dunia.

Selang tiga bulan di 2020, alam semesta porak-poranda. Bencana di mana-mana. Manusia dengan segala ambisi dan hiruk-pikuknya terkadang membuat Bumi Pertiwi luka.

Seorang perancang busana ikut merasa resah. Ariy Arka, merantau jauh dari Medan prihatin dengan keadaan alam dan lingkungan Ibu Kota yang semakin morat-marit.

Dengan sentuhan kreatif, ia menumpahkan kegelisahan itu dalam karya mode bertajuk 'Kemelut' untuk label busana abee. Sebuah persembahan sewindu berkarya, di pagelaran busana tunggal yang mengisi panggung Fashion Rhapsody 2020.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Kritik sang desainer terhadap kondisi alam yang kacau balau tertuang di 48 set busana. Terdiri dari 36 setelan pria yang menjadi fokus utama koleksi, berdampingan dengan 12 busana wanita dalam satu payung bertema 'Harmoni Bumi'.

" Semua orang punya arah dan tujuan, dan untuk mencapai itu tidak mudah. Perjalanannya luar biasa. Ada suka duka. Semua dirangkum menjadi energi yang luar biasa yaitu 'Kemelut'. Berawal dari tidak adanya kepastian. Saya dulu tidak pernah bermimpi jadi desainer," tutur Ariy kepada Dream di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ada pesan khusus yang ingin Ariy sampaikan. " Orang-orang terlalu sibuk di Ibu Kota, banyak yang tidak acuh. Bencana, virus, itu semua akibat dari ulah manusia. Banyak yang tidak peduli dengan sesama, apalagi dengan lingkungan. Kita ini human, ayo tingkatkan rasa humanity kita," ujarnya.

1 dari 5 halaman

Bumi Ditindas

'Kemelut' dibuka dengan tragis. Teror sampah plastik melilit hewan-hewan tak berdosa. Mencekik mereka yang terjebak, lemas dan menangis tak berdaya. Di hadapan manusia yang masih bersikap arogan. Acuh tak acuh, menutup mata.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Latar teatrikal bertema Secret Forest menampar para penonton dengan gambaran bumi yang tengah mengalami kehancuran. Model berjalan dengan angkuh. Menendang, merusak dan mencabik tanaman hijau yang semula menghiasi runway.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Aplikasi bordir bermotif abstrak dan geometris terpampang di busana mereka. Dibubuhkan secara acak. Memenuhi bagian punggung, dada dan lengan busana.

Bentuknya bermacam-macam. Ayam jago, burung kakak tua, genangan banjir hingga virus corona. " Bordirnya terbuat dari kain perca sisa limbah fashion. Dalam satu baju bisa memakai lima teknik bordir sekaligus," jelas Ariy.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

2 dari 5 halaman

Olahan Limbah

Galau dan semrawut, Ariy Arka memadukan berbagai jenis bahan dari tekstur dan ketebalan berbeda. Beludru, rajut, denim, twill, organdi dan tulle serentak dalam satu mahakarya.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ariy menyuntikkan 'Kemelut' dengan gaya street style androgyn, ciri khas label abee. Siluet lurus dan serba longgar nan apik untuk kawula muda, cocok pula untuk mereka yang berhijab. Karyanya tampil dalam bentuk terusan, blouse, rok berkantung besar, celana komprang dan aneka jaket.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Tangannya tak berhenti mengolah limbah. Sisa bahan terpal, karung plastik, twill dan denim disulap menjadi tas beraneka ukuran. " Semua elemen dari industri fashion harus kembali lagi ke alam. Banyak desainer memakai alam sebagai inspirasi mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan ini bisa digunakan untuk koleksi baru," kata Ariy.

3 dari 5 halaman

IFW 2018, Hiruk Pikuk Toba dalam Desain Karya Ariy Arka

Dream – Suasana alam di Muara Danau Toba tertuang dalam karya Ariy Arka di pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018. Dia membawa serta kain tenun ulos khas Tapanuli Utara untuk mempertegas koleksi yang bertajuk " Muara" .

" Saya ingin menggambarkan suasana di salah satu tempat hilir mudik para masyarakat yang hendak menuju dan dari Pulau Sibandang tempat penghasil tenun di Danau Toba," ungkap Ariy Arka di JCC, Rabu 28 Maret 2018.

Desain karya Ariy menonjolkan ciri khasnya yang asimetris, cheerful dan playful dibalut dengan warna natural, seperti coklat, krem, kuning, merah, oranye, hijau, hitam dan putih.

Karya Ariy Arka IFW 2018

" Warna-warna yang dipakai, diambil dari akar- akar batang dan daun-daun yang tumbuh di sekitar Danau Toba," tuturnya.

Pria yang pernah menggelar show di Australia ini menggunakan bahan serat benang 100% cotton, cotton dobi, cotton line dan kayu alami yang dikombinasikan dengan bordir burung bangau.

Karya Ariy Arka IFW 2018

" Karena di pinggiran Danau Toba banyak sekali burung-burung bangau yang berterbangan," katanya.

Sejak awal terjun di dunia fashion design, Ariy menggunakan garis desain anak muda yang lebih enerjik dan bermain di aksen warna, agar lebih mencintai produk dalam negeri.

" Rancangan ini ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan luar negeri berusia 20-45 tahun yang cinta akan kreasi lokal dan budaya Indonesia" .

4 dari 5 halaman

Fashion Rhapsody 2020, Karya Desainer Demi Harmoni Bumi

Dream - Puncak acara Fashion Rhapsody 2020 resmi dibuka. Perhelatan bertajuk 'Harmoni Bumi' ini merupakan gagasan mode yang didedikasikan untuk menjaga kelestarian alam.

Keempat desainer sekaligus founder, yakni Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara dan Yulia Fandy, beritikad menularkan gairah berkarya mode yang bertanggung jawab untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari bumi pertiwi.

Fashion Rhapsody

" Korelasi fashion dan manusia sangatlah erat. Banyak desainer yang memakai alam untuk dijadikan sebagai inspirasi busana mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan itu bisa digunakan untuk koleksi terbaru. Lewat isu lingkungan ini, kami tergerak menciptakan Fashion Rhapsody," tutur Ariy Arka, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody di Jakarta, Rabu 26 Februari 2020.

Suasana alam mulai terasa ketika memasuki area perhelatan. Runway dibuat dengan tema dekorasi alam yang berbeda setiap harinya. Tema tersebut adalah Savana, Silk Lagoon, Secret Forest dan Wysteria.

Fashion Rhapsody

" Kami ingin menjadikan alam lebih baik, mengurangi pemakaian plastik, memberdayakan sampah menjadi karya di panggung fashion," kata Yulia Fandy, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody.

Fashion Rhapsody

5 dari 5 halaman

Tampilkan Karya Desainer dan Selebriti

Acara ini mempersembahkan lebih dari seribu set busana hasil karya perancang mode Tanah Air. Opening Ceremony dimeriahkan oleh parade fashion dari perwakilan desainer.

Fashion Rhapsody

Mereka diantaranya Ria Miranda, Kami, Tuty Adib, Lia Soraya, Dewi Gta, Adinda Moeda, Kursien Karzai, Rya Baraba, Mora Aesthetic X ZD, Dana Duriyatna Sugeng Waskito dan Rasyid Salim.

Karya mode yang ditampilkan mencakup busana pria dan wanita, modest wear serta busana etnik yang memakai karya wastra Nusantara. Acara turut menampilkan partisipasi Dekranasda Kabupaten Lingga yang membawa batik khas Riau.

Fashion Rhapsody

" Desain ready to wear dengan garis potongan simpel yang bisa dipakai sehari-hari, kami ingin menunjukkan bahwa Lingga juga punya batik yang memiliki ciri khas sendiri," ujar Rasyid Salim, desainer pewarkilan Dekranasda Kabupaten Lingga.

Tak hanya perancang mode, selebriti juga turut memeriahkan gelaran ini. Seperti Melly Goeslaw yang  menutup opening ceremony dengan koleksi dari brand Aleabe.

Melly Goeslaw

Digelar di The Tribrata Dharmawangsa pada 26-29 Februari 2020, acara masih akan dimeriahkan oleh berbagai artis dan desainer seperti Laudya Cynthia Bella, Ivan Gunawan, Fenita Arie, Nina Nugroho dan banyak lagi.

Beri Komentar