Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Model Elzatta Citra Kirana Dan Chacha Frederica (Foto: Instagram.com/elzattahijab)
Dream - Beberapa tahun terakhir, sustainable fashion merupakan tren ramah lingkungan yang mulai diberdayakan para desainer dan produsen.
Tapi, tentunya hal ini tidak bisa semerta-merta diterapkan secara merata. Arti dan penerapan sustainable fashion pun berbeda-beda bagi setiap perusahaan.
Vice President Elzatta & Dauky, Tika Latifani menganggap sustainable fashion perlu diterapkan secara keseluruhan. Tidak hanya terfokus pada produk ramah lingkungan.
" Itu proses perjalanan panjang. Nggak hanya dari produk, 360 banget di company. Mungkin, pertama-tama bagaimana perusahaan treat karyawan, treat vendor. Dari perusahaan itu bagaimana resource-nya sustainable," katanya di JW Marriott, Jakarta Selatan, Kamis kemarin.

Baginya, perusahaan perlu membenahi sistemnya terlebih dulu sebelum memproduksi koleksi ramah lingkungan.
Ia merasa kesejahteraan karyawan merupakan hal yang lebih penting, apalagi untuk sebuah perusahaan mass production.
" Kami sadar betul, kami mass production dan sudah mengarah ke situ (sustainable fashion). Mungkin hal kecil yang sudah dilakukan adalah pengurangan penggunaan kertas, nggak pakai botol plastik, pasti karyawan bawa tumbler, bagaimana gaji karyawan atau vendor dengan fair, itu sangat diperhitungkan."

Tahun lalu, brand fashion yang telah memiliki cabang di berbagai daerah ini sempat meluncurkan produk sustainable fashion.
Meskipun respons pasarnya baik, namun belum bisa dipasarkan secara menyeluruh atu dilakukan terus menerus.
" Alhamdulillah responsnya baik, tapi untul dipasarkan menyeluruh belum bisa. Kemarin yang kami bikin benar-benar handmade. Itu kan butuh waktu dan harganya beda. Belum sesuai dengan keinginan market, tapi laku," imbuhnya.
Dream - Puncak acara Fashion Rhapsody 2020 resmi dibuka. Perhelatan bertajuk 'Harmoni Bumi' ini merupakan gagasan mode yang didedikasikan untuk menjaga kelestarian alam.
Keempat desainer sekaligus founder, yakni Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara dan Yulia Fandy, beritikad menularkan gairah berkarya mode yang bertanggung jawab untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari bumi pertiwi.

" Korelasi fashion dan manusia sangatlah erat. Banyak desainer yang memakai alam untuk dijadikan sebagai inspirasi busana mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan itu bisa digunakan untuk koleksi terbaru. Lewat isu lingkungan ini, kami tergerak menciptakan Fashion Rhapsody," tutur Ariy Arka, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody di Jakarta, Rabu 26 Februari 2020.
Suasana alam mulai terasa ketika memasuki area perhelatan. Runway dibuat dengan tema dekorasi alam yang berbeda setiap harinya. Tema tersebut adalah Savana, Silk Lagoon, Secret Forest dan Wysteria.

" Kami ingin menjadikan alam lebih baik, mengurangi pemakaian plastik, memberdayakan sampah menjadi karya di panggung fashion," kata Yulia Fandy, Founder dan Desainer Fashion Rhapsody.

Acara ini mempersembahkan lebih dari seribu set busana hasil karya perancang mode Tanah Air. Opening Ceremony dimeriahkan oleh parade fashion dari perwakilan desainer.
© Dream
Mereka diantaranya Ria Miranda, Kami, Tuty Adib, Lia Soraya, Dewi Gta, Adinda Moeda, Kursien Karzai, Rya Baraba, Mora Aesthetic X ZD, Dana Duriyatna Sugeng Waskito dan Rasyid Salim.
Karya mode yang ditampilkan mencakup busana pria dan wanita, modest wear serta busana etnik yang memakai karya wastra Nusantara. Acara turut menampilkan partisipasi Dekranasda Kabupaten Lingga yang membawa batik khas Riau.
© Dream
" Desain ready to wear dengan garis potongan simpel yang bisa dipakai sehari-hari, kami ingin menunjukkan bahwa Lingga juga punya batik yang memiliki ciri khas sendiri," ujar Rasyid Salim, desainer pewarkilan Dekranasda Kabupaten Lingga.
Tak hanya perancang mode, selebriti juga turut memeriahkan gelaran ini. Seperti Melly Goeslaw yang menutup opening ceremony dengan koleksi dari brand Aleabe.
© Dream
Digelar di The Tribrata Dharmawangsa pada 26-29 Februari 2020, acara masih akan dimeriahkan oleh berbagai artis dan desainer seperti Laudya Cynthia Bella, Ivan Gunawan, Fenita Arie, Nina Nugroho dan banyak lagi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya