Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi
Dream - Kotoran bayi (feses) saat buang air besar memang menyimpan informasi penting tentang kondisi kesehatannya. Kebiasaan makan, penyakit dan masalah kesehatan lain bisa diketahui dari pemeriksaan fesesnya.
Tapi tak hanya itu, dari feses bayu juga bisa diketahui IQ yang dimilikinya. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan tim dari University of North Carolina School of Medicine, Amerika Serikat.
Penelitian ini melibatkan pengujian feses 89 anak berusia satu tahun. Hasilnya kemudian dipisahkan menjadi tiga kategori berbeda berdasarkan komposisi bakteri feses. Satu tahun kemudian, kemampuan kognitif dari 89 anak yang sama diuji sesuai dengan Mullen Scales of Early Learning, dan hasilnya mengejutkan.
" Diketahui anak-anak yang fesesnya mengandung keragaman mikrobiome yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih rendah," ujar Rebecca Knickmeyer, PhD, psikiater yang juga kepala penelitian, seperti dikutip dari Kidspot.
Microbiome sendiri sebuah komunitas kuman yang terjadi secara alami dalam tubuh kita. Bakteri hidup secara alami pada kulit kita, dalam usus kita, di mulut kita atau saluran pernapasan, dan dalam saluran kemih kita. Kuman-kuman tersebut menurut penelitian, ketika jenisnya sangat banyak pada feses bayi, maka kemampuan kognitifnya kelak akan lebih rendah.
" Ini adalah langkah pertama penelitian yang menemukan hubungan antara mikrobiome dengan perkembangan kognitif anak. Kami harus menggali lebih dalam lagi melalui penelitian lanjutan," ujar Alexander Carlson, an MD/PhD, yang juga salah satu peneliti.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari