Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Nasi merupakan makanan pokok orang Indonesia. Panganan yang banyak mengandung karbohidrat ini telah menjadi asupan utama kebanyakan orang di negeri ini. Tak lengkap rasanya bila makan tanpa sepiring nasi.
Ada banyak makanan olah berbahan dasar nasi, misalnya saja nasi goreng, nasi kuning, nasi uduk, lontong dan masih banyak lainnya. Kandungan lemak yang dikatakan lebih jahat dari nasi ternyata ditipis oleh sejumlah ilmuan yang telah melakukan penelitian terhadap nasi.
Sejumlah ilmuan dari Ohio State University telah mengungkapkan bahwa karbohidrat lebih bahaya daripada lemak. Pasalnya karbohidrat ternyata jauh lebih berbahaya dari lemak jenuh seperti yang terkandung pada gorengan.
Ilmuwan berhasil mengungkap bahwa bahaya yang bisa ditimbulkan oleh makanan yang mengandung lemak jenuh seperti gorengan hanya meningkatkan resiko gagal jantung. Sementara itu, karbohidrat justru membawa tiga kali resiko asam lemak yang bisa dikaitkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung serta diabetes.
Melihat fakta tersebut, bisa dipastikan bahwa mengkonsumsi nasi bisa membawa efek yang lebih berbahaya daripada mengkonsumsi gorengan yang notabene sering disebut makanan yang berbahaya oleh banyak orang.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, ketika karbohidrat berkurang dan lemak jenuh meningkat, jumlah total lemak jenuh yang ada dalam darah tidak meningkat. Dalam keadaan seperti itu, asam lemak yang bernama asam palmitoleic, yang memiliki kaitan dengan karbohidrat, justru menyebabkan berbagai penyakit.
Peningkatan asam lemak yang disebut tadi menunjukkan bahwa zat karbohidrat yang diubah oleh tubuh menjadi lemak ternyata tidak dibakar oleh tubuh.
Penasaran dengan penjelasan ini? Yuk selengkapnya Baca di sini
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya