Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Lubang Ozon Raksasa (Sumber:Youtube/European Space Agency)
Dream - Banyak hikmah yang sering kali tak disadari umat manusia saat harus menjalani isolasi mandiri karena wabah virus corona. Di tengah pandemi penyakit Covid-19 yang meluas ke ratusan negara, sejumlah indikator polusi di negara yang menerapkan lockdown menunjukkan penurunan tajam.
Yang terbaru, para ilmuwan menemukan sebuah pemandangan unik yang terjadi di atmosfer. Para ahli menemukan sebuah lubang langka dan berukuran sangat besar telah terbuka di lapisan ozon di atas Kutub Utara.
Para ilmuwan masih terus meneliti untuk mengetahui penyebab munculnya ozon tersebut sekaligus dampak dari pandemi corona terhadap keadaan atmosfer.
Berikut adalah hasil penelitian yang telah kami rangkumkan dari New York Post untuk Sahabat Dream.
Dalam penelitian selama beberapa hari terakhir, Para peneliti menganalisa bahwa lubang tersebut terjadi akibat dari suhu rendah di atmosfer di atas kutub utara.
Para ahli memperkirakan lubang itu akan menghilang dalam beberapa minggu mendatang dan mungkin tidak akan menimbulkan masalah bagi manusia.
"Tahun ini memiliki suhu yang tidak biasa sehingga menyebabkan tingkat awan stratosfer kutub yang langka, dan yang menyebabkan penipisan ozon yang aneh," ungkap Paul Newman, kepala peneliti ilmu bumi di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Md.
Lubang ozon itu tidak terkait dengan penutupan pandemi virus corona -meskipun telah menyebabkan polusi udara menurun drastis dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
"Lubang itu pada dasarnya merupakan keingintahuan geofisika," Vincent-Henri Peuch, direktur Copernicus Atmosphere Monitoring Service, menjelaskan kepada The Guardian.
“Kami memantau kondisi dinamis yang tidak biasa, yang mendorong proses penipisan kimia ozon. [Dinamika itu] memungkinkan suhu yang lebih rendah dan pusaran yang lebih stabil daripada biasanya di Kutub Utara, yang kemudian memicu pembentukan awan stratosfer kutub dan perusakan katalitik ozon. ”
Menurut laporan The Guardian, terlalu dini untuk menentukan apakah kondisi pusaran kutub Arktik yang stabil terkait dengan pemanasan global atau bagian dari variabilitas cuaca stratosfer normal.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


WNI Diduga Tewas saat Jadi Tentara Rusia, Apakah Kewarganegaraan Indonesia Bisa Hilang?



Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire