Lebaran (2): Makmeugang, Daging di Setiap Balik Pintu

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 13 Juli 2015 18:39
Lebaran (2): Makmeugang, Daging di Setiap Balik Pintu
Aib bagi warga di Aceh, jika ada orang yang tidak makan daging di hari Makmeugang. Tradisi temurun Sultan Iskandar Muda.

Dream - Ramadan tersisa beberapa jam. Tetapi atmosfir kegembiraan menyambut hari kemenangan sudah terasa. Ratusan orang meriung di pinggir jalan Berauwe, Banda Aceh. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan. Mereka berjejal. Berdesakan di lapak bambu beratap terpal yang muncul dadakan.

Bau amis bercampur aroma keringat berebutan menyusup ke dalam hidung. Panasnya matahari siang itu tidak menyurutkan gairah belanja orang-orang yang sejak tadi berebut tempat.

Sementara dengan sedikit beraksi, pedagang memamerkan daging-daging segar dan merah yang mereka gantung di bawah atap lapak. Pembeli membolak-balik daging meneliti dan memilih bagian daging untuk mereka beli.

" Ayo dipilih. Dijamin masih segar," teriak si pedagang sambil pamer suara bilah pisaunya yang terus diasah.

Yang terpikat buru-buru mengoroh kocek. Tanpa menawar. Sebagian masih usaha meminta potongan harga. Maklum banderol daging sapi naik 'gila-gilaan', dua kali lipat. Jika di hari biasa Rp80 ribu perkilogram, kini Rp160 ribu perkilogram.

Tapi itu tidak menghalangi warga di sana membeli daging demi tradisi Meugang menyambut hari raya Idul Fitri, esok hari.

Menurut riwayat, Meugang pertama kali dilakukan pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Sang Sultan, Iskandar Muda memerintah dari 1607 hingga 1636 M. Istilah Makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan.

Semua berawal ketika Sultan ingin memastikan rakyatnya bisa menikmati daging. Kerjaaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging.

Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis. " Ini sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran kerajaan, raja mengajak rakyatnya ikut bergembira," kata Badruzzaman Ismail Ketua Majelis Adat Aceh, menceritakan asal mula adat Meugang.

Sultan kemudian memaklumkan kebiasaan ini menjadi tradisi menyambut puasa, Idul Fitri dan Idul Adha, Ketika Belanda menginvasi Aceh pada 1873, kerajaan kalah dan bangkrut.

Tradisi dari Sultan boleh berakhir, namun rakyat Aceh tetap melanjutkan kebiasaan itu dengan membeli sendiri daging. Sebagian pada hari itu, warga mengundang anak yatim ke rumahnya untuk makan daging sapi bersama. Ada juga yang membawanya ke masjid, santap bareng tetangga dan warga lain.

Badruzzaman bahkan menyebut warga Aceh akan merasa sedih bila hari Meugang tidak membeli atau makan daging sapi. Bahkan bagai aib. Kaya miskin seakan wajib memilikinya.

Beri Komentar