Menembus Rakhine

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 15 September 2017 21:05
Menembus Rakhine
Menempuh bahaya demi Rohingya. Berikut perjalanan berbahaya itu.

Dream - Menyedihkan. Deretan gubuk itu sungguh kumuh. Dinding terbuat dari anyaman bambu. Sudah usang. Sebagian sudah berkelir hitam. Ditumbuhi jamur. Di beberapa bagian bahkan sudah keropos digerogoti rayap.

Bagian atap, tak kalah memprihatinkan. Terbuat dari seng. Dimakan karat di sana-sini. Ditambal spanduk dan terpal, compang-camping. Parit-parit dangkal mengitari pondok-pondok mungil, berukuran tiga kali lima meter, itu. Air hitam mampat. Bau tak sedap menyeruak, menusuk hidung.

Kisah para penghuninya sungguh menggodot hati. Bocah-bocah tak terawat. Sebagian besar tanpa busana. Hidung penuh ingus. Kulit tampak kusam. Di beberapa bagian terlihat dihinggapi penyakit. Gatal. Dan, itu menular.

Lihatlah badannya. Kurus kering, nyaris tinggal tulang terbalut kulit. Perut buncit. Tulang-tulang iga di atasnya bertonjolan. Mereka mengalami gizi buruk. Hampir mirip jerangkong hidup.

“ Saya sempat gendong salah satu anak di sana, tulang punggungnya melengkung,” tutur Ahmad Fikri, Direktur Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Tanggap Bencana, Ahmad Fikri.

Tempat yang dikunjungi Fikri itu merupakan pengungsian di Sittwe, Myanmar. Seratus ribu orang lebih tinggal di sana. Mereka adalah etnis Rohingya yang menjadi korban konflik di Negara Bagian Rakhine. Fikri menyaksikan penderitaan mereka dengan mata kepala sendiri.

Fikri menembus Sitwee pada Ramadan lalu. Dia masuk mulai 7 Juni 2017. Membawa bantuan senilai Rp250 juta untuk para pengungsi. Tak mudah menembus wilayah ini. Sebab, konflik membuat penjagaan diperketat di sana-sini.

Bagaimana kisah perjalanan Fikri ke pengungsian yang sangat memprihatinkan itu? Berikut petikan wawancara jurnalis Dream.co.id, Muhammad Ilman Nafi'an dengan Ahmad Fikri.

Kapan Anda ke Sittwe?
Saya berangkat tanggal 7 Juni, sekitar 14 hari. Berarti pulang sekitar tanggal 20, sebelum Lebaran. Saya membawa satu relawan, jadi berdua.

Apa yang Anda lakukan di sana?
Kami membawa misi kemanusiaan yang fokus membantu makanan, logistik, dan bantuan air dalam bentuk, namanya program 'Water and Sanitation'. Semacam MCK –mandi, cuci, kakus. Tapi yang berhasil kami bangun pompa air, karena di sana enggak ada listrik. Kami bangun 10 pompa, sangat kurang.

Di sana sedang terjadi konflik, bagaimana Anda mengurus izin?
Waktu itu saya pertama mendapat surat jalan dari Akim (aliansi kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar). Kemudian dari Kedutaan Besar. Dari sana kami juga menyampaikan, dibantu mitra lokal selama penyaluran bantuan di sana.

Barang bantuan dari mana?
Beli di sana, karena kan kami enggak mau berisiko dari sini, beratnya bagaimana, packing-nya, lebih kepada teknis sih di sana. yang kami bawa antara lain delapan item, beras, minyak, kacang-kacangan, bawang, garam, susu, dan mie. Totalnya Rp250 juta.

Belianya di Sittwe, jadi kami dibantu oleh mitra untuk beli logistiknya. Di sana ada pasar-pasar yang masih bisa kami akses. Belinya diangsur, jadi kami buat planning dulu sedemikian rupa agar yang kami beli sesuai dengan kebutuhan.

Jadi memang tiap tempat delapan itemnya beda-beda, ada yang lebih butuh beras, kacang-kacangan prkstis. Sebenarnya di Sittwe sendiri enggak dua Minggu, karena saya lima hari itu di Yangon dan tersisa delapan sampai sembilan hari. Nah, waktu itu sempat ada badai saya dua hari enggak ke mana-mana. Badai di Sittwe.

Bagaimana Anda dari Yangon menuju ke Sittwe?
Ya kira-kira satu setengah jam naik pesawat. Jadi kira-kira, dari Bali mungkin ke Surabaya.

Perjalanan menuju pengungsian bagaimana?
Saya sih melihat ada pos penjagaan. Ya mobil lalu lalang saja, enggak banyak mobil juga.

Karena kami di sana berada di wilayah konflik maka kami lebih mendengar arahan-arahan mitra. Jadi kalau mitra bilang bangunannya hanya bisa di lokasi ini enggak bisa ke dalam banget ya kami ikuti. Masalah kordinasi lapangan yang memang kami harus banyak mengikuti saran dari mitra.

Kabarnya selama dalam mobil gordennya selalu ditutup?
Ya itu bagian dari arahan mitra untuk mempercepat proses perjalanan, atau mungkin juga itu jangan-jangan kebiasaan orang sana saja. Kami memang yang lagi tugas saja, jadi ada perasaan gimana gitu .

Perjalanan aman-aman saja. Bantuan kemanusiaan itu relatif mudah. Meskipun harus banyak koordinasi. kalau gorden mobil ditutup itu karena saat kami membawa bantuan lebih kepada kehati-hatian, khawatirnya ada acara apa atau acara ini kok enggak ada izin, khawatirnya gitu.

Itu kan gantian sopir beda agama, bagaimana ceritanya?
Saya perhatikan sih mungkin karena situasi di kota itu lebih memahami orang Buddha mereka yang jemput. Masuk kampnya itu jadi diganti karena belum paham. Jadi secara teknis itu rutenya orang sana yang lebih paham.

Lihat langsung konflik di sana?
Enggak. Karena kan kami itu wilayah yang scure. Dan memang tidak berada di wilayah konflik. Yang konflik itu di daerah Maungdaw.

Kondisi kamp pengungsian bagaimana?
Kalau kampnya itu terbuat dari gedek –anyaman bilah-bilah bambu. Kalau yang sudah lama kelihatan gedeknya sudah mulai hitam. Atapnya itu dilapis dengan terpal, kalau yang sudah lama itu terpalnya dari spanduk-spanduk bantuan atau sudah dicmapur seng-seng bekas. Enggak seperti gubuk-gubuk kumuh miskin di Indonesia.

Ukuran pondok-pondoknya berapa besar?
Saya pernah foto itu ukuran tiga kali enam atau sekitar tiga kali lima meter. Dan itu padat, ada yang diisi delapan orang. Rata-rata mereka satu keluarga itu ada enam orang.

Jumlah total pengungsi di sana berapa?
Kalau yang saya dapat, jumlah di kamp pengungsian itu ada sekitar 120 ribu, yang di Sittwe.

Fasilitas di pengungsian?
Listrik enggak ada. Kalau air disiapkan fasilitasnya, ada semacam blok-blok. Kalau di blok ini ada fasilitas air MCK, tapi enggak mencukupi. Makanya kami juga nanti ke depan membantu penambahan lokal toilet.

Kondisi air?
Selalu mengalir, karena dia dipompa sendiri. Jadi selalu mengalir. Karena kan enggak ada listrik juga .

Bagaimana ekspresi para pengungsi saat pertama lihat Anda?
Ya memang mungkin karena jarang ketemu orang asing, meskipun wajahnya sama. Saya enggak tahu perasaan mereka seperti apa, apa harap-harap cemas atau apa banyak pertanyaan di benaknya. Tapi memang setelah kami dari sana memberikan bantuan memberi salam, kelihatan senang. Salim, pada salaman bahkan anak-anak saya keluar dari situ pegangin, megang tangan. Ngajak kami ajak main, wah itu senang.

Kalau saya melihat itu gimana ya, yang pasti kami masuk semua orang melihat kami. Paling kami nyapa 'assalamualaikum'. Baru nanti ketika jelas ada keperluan apa, bawa bantuan, mereka mulai sumringah dan kami pulang diantar sampai ke mobil kayak diarak.

Ada kekhawatiran dari mereka?
Ya itu kan normal ya (merasa khawatir). Meksipun boleh jadi ada perasaan apa. Karena selama kami di sana mereka lebih banyak bertanya kami dari mana, apa kabar, gitulah. Seperti ketemu orang asing pada umumnya .

Aktivitas pengungsi di kamp apa saja?
Kalau di pinggir jalan ada warung-warung kecil, ada yang membawa barang, tapi saya enggak tahu itu untuk apa. Tapi warung-warung itu ada yang menjual makanan ringan kayak gitu.

Kan ada beberapa yang gembala sapi. Ada sawah di seputaran kamp itu, ada pertanian, tapi siapa pemiliknya dan bagaimana prosesnya saya tidak mendalami. Karena fokus kami menyalurkan bantuan. Tapi memang ada aktivitas ekonomi, masih jalan atau setidaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari.

Ada komunitas lain selain Rohingya di kamp?
Yang saya lihat sih Rohingnya saja sih. Kalau saya enggak mengetahui, karena kalau dari daftar namanya kan ada yang kelihatan nama Muslim dan enggak kelihatan. Misal Husein, Jamal. Tapi kalau namanya sudah berbahasa lain saya enggak tahu apakah Muslim atau non?

Perbedaan di desa dan kamp?
Beda, kalau di desa pindah ke kamp itu desanya mengalami konflik. Tapi masih banyak juga desa-desa aman. Tapi memang sama miskin.

Tapi pembantaian seperti diberitakan itu benar?
Yang pasti, di sana ada kamp pengungsian dan kalau ada kamp pasti ada sesuatu. Dari kabar yang beredar di media itulah yang terjadi, saya hanya melihat dampaknya saja yang terjadi, yaitu kampnya itu. Kalau melihat, saya tidak secara langsung melihat.

Konflik agama gimana?
Kalau yang saya rasakan di Kota Sittwe mereka biasa-biasa saja, ketemu say halo saja gitu. Karena kan mereka berpeci Muslim dan aktivitas seperti biasa. Di Yangon baik-baik saja. Kan kalau mau sholat juga kan mereka melewati banyak orang. Dan ada masjid di pasar. Di pasar kan lebih banyak orang lokal, orang Myanmar asli, dan itu biasa-biasa saja .

Apa yang disampaikan pengungsi kepada Anda?
Mereka lebih banyak berterima kasih atas bantuannya, kemudian kapan mau datang lagi, yang seperti itu.

Kondisi anak-anak?
Kondisi anak-anak memang kelihatan dampak paling besar. Saya tidak melihat sekolah-sekolah di sana atau proses pendidikan yang layak. Ada kegiatan pendidikan, tapi tidak layak fasilitasnya.

Kemudian masalah gizi, keliahatan memang gizi mereka sangat buruk, perutnya agak buruk. Kulitnya kusam. Penyakit kulit. Dan yang saya temukan, saya sempat gendong, tulang punggung nya melengkung. Beberapa anak saya perhatikan jalannya tidak normal, seperti penyakit tulang.

Belum lagi banyak yang tidak berbusana. Kelihatan beberapa, istilah kita itu ingusan dan anak-anak kelihatan sekali dan itu memang dampak dari kamp-kamp yang kurang memadai. Jadi, situasinya penyakit mudah berkembang.

Apa yang Anda rasakan saat melihat itu?
Perasaan saya, ingin membawa bantuan yang lebih banyak, kemudian membantu lebih sering dengan program-program yang bermanfaat. Program kesehatan yang perlu ditingkatkan di samping logistik yang utama. Pangan, sandang.

Yang saya perhatikan ada anak-anak yang sedang ngaji, pakaiannya yang seharusnya Muslim itu harus tertutup bagian-bagian tertentu, tapi karena pakaiannya enggak dalam, hanya menutup kepala lah kira-kira.

Masih terdengar azan di sana?
Mungkin lebih kepada enggak ada listrik ya. Azan sih azan. Saya ke beberapa tempat ada suara azan, pernah saya sholat Jumat pakai speaker, itu di desa-desa. Kalau di kamp belum pernah sholat dan –kalau berkunjung– di luar waktu sholat.

Tapi kalau di desa-desa ada azan, kalau enggak terdengar mungkin enggak ada listrik ya. Beberapa masjid yang saya kunjungi menggunakan disel. Jadi setiap jam sholat diselnya dinyalakan jadi tetap terdengar sih.

Kalau azan, doanya keluar speakernya lancar saja. Saya sholat tarawih kencang-kencang saja. Saya di penginapan terdengar suara azan tapi memang enggak seperti di Indonesia ya. Karena jarak penginapan dengan masjid enggak nyampe satu kilo, jadi terdengar.

Enggak ada listrik, memang wilayahnya bagaimana?
Nah itu yang kurang saya perhatikan. Kalau tiang-tiang listrik sih banyak dan sampai ke wilayah permukiman dan kamp juga banyak dan mungkin kemampuan pembangkitnya yang kurang besar. Jadi prioritas gedung-gedung penting mungkin kalau warga di masjid swadaya saja.

Ada juga saya lihat solar cell dan masang di lapangan kscil-kecil tapi saya enggak tahu itu buat penerbangan di rumah saja atau malam hari.

Ada pembatasan jam berkunjung?
Pembatasan itu karena ada badai kemarin, jadi jangan lama-lama. Begitu sih instruksi dari mereka. Kecuali jangan smapai kemalaman, bahaya. Dia cuma bilang itu.

Kenapa bahaya?
Enggak, tidak dijelaskan karena apa. Ya karena kami diarahkan seperti itu. Ya ikut saja. Kemudian waktu kami juga terbatas dan beberapa paket bantuan yang kami salurkan dan biar kekejar, lompat-lompat saja.

Pemerintahnya bantu enggak?
Saya enggak tahu. Tapi yang paling banyak dari lembaga PBB, saya lihat dari spanduk-spanduk pernah ditinggalkan dan ada program-program yang sudah jadi di temboknya pengungsi ada lembaga PBB. Bantuannya saya kurang tahu persis.

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie