Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock
Dream - Selama ini Sahabat Dream mungkin sering mendengar istilah makanan pokok atau makanan pendamping. Pernahkah kamu mendengar makanan fungsional yang jarang terdengar di telinga masyarakat?
Konsep makanan fungsional sebetulnya sudah ada di Jepang sejak tahun 80an. Definisi pangan fungsional itu adalah pangan yang mempunyai khasiat dan fungsional yang ekstra di luar fungsional zat gizi.
“ Tidak untuk sumber gizi tapi meningkatkan kesehatan,” jelas dr. Widjaja Lukito, Anggota Tim Pakar Program Indofood Riset Nugraha pada acara Program Indofood Riset Nugraha, Rabu 31 Agustus 2022.
Dikenal akan manfaatnya dalam mengoptimalkan kesehatan tubuh dan menurunkan risiko terserang penyakit, makanan fungsional ini dikembangkan di Indonesia.
Makanan fungsional dibagi menjadi dua yakni konvensional dan modifikasi. Jenis konvensional adalah makanan yang memang sudah mengandung zat gizi di dalamnya tanpa perlu dimodifikasi.

“ Misal tempe berprotein, itu konvensional, kalau. Punya sifat lain ada sumber antioksidan misal punya mikroorganisme lain, ini berfungsi memberi khasiat ekstra,” tambah dr. Widjaja.

Berbeda dengan konvensional, makanan fungsional modifikasi umumnya telah diolah dan diperkaya dengan nutrisi tambahan.
“ Misalnya bahan makanan yang karbohidrat beberapa sulit dicerna, karena itu ada tambahan kandungan fiber tinggi jadi kalau dikonsumsi kenyang tidak meningkatkan gula darah,” tambah dr. Widjaja Lukito.

Meningkatkan upaya eksplorasi sumber pangan baru yang berasal dari laut dan darat, baik sumber daya nabati maupun hewani, Indofood melalui Program Indofood Riset Nugraha tahun akademik 2022/2023 mengajak mahasiswa S1 tingkat akhir untuk meneliti potensi pangan Indonesia.
Program ini terbuka bagi mahasiswa S1 dari berbagai jurusan yang tengah menyelesaikan tugas akhir. Objek penelitian adalah sumber pangan yang berasal dari pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan serta perternakan.
Adapun cakupan bidang penelitian meliputi bidang agro teknologi (budidaya), teknologi proses dan pengolahan, gizi dan kesehatan masyarakat, serta bidang sosial, budaya, ekonomi dan pemasaran. Untuk mendapatkan dana penelitian, mahasiswa harus mendaftarkan proposal penelitiannya melalui website Indofood mulai tanggal 1 hingga 30 September 2022.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya