Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi Video Games. (Foto: Shutterstock)
Dream – Sebuah studi belum lama ini mensurvei 1.000 pengemudi tentang dampak permainan komputer, film, dan acara TV terhadap perilaku mengemudi. Hasilnya, 40 persen responden menyebut video game memicu munculnya pemikiran cara mengemudi buruk terlihat keren.
Dikutip dari Carscoops, Rabu 27 Maret 2019, studi di Inggris ini menunjukkan 1 dari 3 pengemudi merasa film dan acara TV tak terlalu berdampak pada cara mengemudi yang berbahaya. Namun, 29 persen responden setuju jika sikap mengemudi yang negatif bisa saja dipengaruhi oleh tayangan film seperti The Fast and Furious.
Studi yang dilakukan oleh ahli mengemudi untuk anak-anak di bawah usia 17 tahun, Young Driver menunjukkan 1 dari 10 (9%) responden mengakui tontonan berupa aksi kebut-kebutan membuat mereka membayangkan akan terlihat lebih keren dan berusaha mencobanya.
Jumlah responden yang berpendapat sama bertambah menjadi 22 persen untuk mereka yang berusia 18-24 tahun.
Ketika responden yang merupakan orang tua ditanya tentang kemungkinan pemberian kesempatan anaknya untuk ugal-ugalan, hanya ada 11 persen yang setuju.
Riset ini juga menekankan bahwa separuh pengemudi muda yang kuliah, mengalami kecelakaan pada enam bulan pertama sejak lolos tes mengemudi.
Riset ini juga mengungkap fakta bahwa satu dari lima pengemudi di Inggris biasanya akan mengalami kecelakaan dalam beberapa bulan pertamanya mengemudi.
Pakar remaja, Nicola Morgan, mengatakan otak remaja masih berkembang dan terus berkembang sampai mereka berusia 20 tahun. Bagian otak yang paling akhir untuk berkembang adalah prefrontal cortex.
Bagian ini bertugas sebagai pusat pengendali dan penting untuk tugas seperti pengendalian diri, pembuat keputusan, analisis risiko, dan menolak.
“Pada usia 17 tahun, remaja pada umumnya tak punya pusat kendali yang dikembangkan sepenuhnya,” kata dia.
Morgan mengatakan pusat kendali ini bisa membantu mereka untuk membuat keputusan dan mengendalikan emosi, termasuk emosi. Kalau berani ambil risiko, tak tertutup kemungkinan remaja akan mengesampingkan keselamatan.
“Bahkan, jika tidak bermaksud demikian, mereka mungkin lebih didorong oleh kegembiraan,” kata dia. (Sah)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari