Desainer (1) Tiga Bintang Bisnis Hijab

Reporter : Ismoko Widjaya
Senin, 1 September 2014 17:54
Desainer (1) Tiga Bintang Bisnis Hijab
Memulai bisnis dari bawah. Mempekerjakan banyak orang. Menginsiprasi orang banyak.

Dream - Disuguhi minuman. Disodori camilan. Dan di situ, Anda bisa bertingkah seperti di rumah sendiri. Silahkan mencoba baju sesuka hati. Coba apa saja. Tak selera, letakan saja. Tak perlu malu-malu merapihkan. Pada butik yang ditaburi ornamen kayu ini, Anda benar-benar dimanjakan. Buang semua rasa malu, apalagi rasa canggung.

Pemilik butik itu adalah Dian Wahyu Utami, yang kondang dengan nama Dian Pelangi itu, memang sengaja memanjakan para pembeli. “ Supaya betah. Pelanggan bisa nyaman memilih busana yang dia suka,” jelas Dian kepada Dream, tentang layanan di rumah sendiri itu, akhir pekan lalu.

Dian sengaja mendesain butiknya nyaman dan teduh. Rumah butik itu dikitari pepohonan. Memang asri. Gemercik air di lantai dasar, meneduhkan hati, seperti membenam keramaian Kemang, pusat makanan dan butik di Jakarta Selatan itu.

Layanan serba " rumah sendiri" itu dikemas, setelah Dian Pelangi menekuni bisnis hijab ini bertahun-tahun. Dia meyakini bahwa bisnis ini bakal mengkilap bila pembeli merasa dekat. Tak canggung bertanya. Mencoba. Sampai puas. Sebab kepuasan pembeli adalah keharusan menuju sukses. Dian sudah membuktikan resep ini.

Dari butiknya di Kemang itu, bisnis hijabnya merambah ke mana-mana. Busana besutannya sudah manggung di sejumlah Negara. Dari Melbourne hingga London. Dan pada akhir pekan ini, 6 September 2014, tampil di New York Fashion Week, Amerika Serikat. Sesudah itu, dia meluncur ke Los Angeles. Pelanggan setia bertebaran di manca Negara. Banyak orang penting. Salah satunya adalah Putri Basma Bint Talal dari Yordania.

                               *****

Dian Pelangi adalah satu dari berpuluh desainer, yang sukses di tengah gemilangnya bisnis hijab dua tahun belakangan. Ada juga nama Nanida Jenahara Nasution. Kondang dengan nama tengahnya; Jenahara, yang kemudian jadi brand bisnis dan berkibar di sejumlah kota. Ada juga Ria Miranda. Wanita asal Padang, yang merantau ke Jakarta dengan satu tekad; menjadi pelaku bisnis, bukan penonton.

Tiga tokoh muda, yang gemilang dalam bisnis hijab ini, rata-rata memulai dari modal seadanya. Mereka bukan datang dari keluarga kaya raya. Bisnis bukan sekedar membunuh waktu. Tapi “ tempat cari makan,” dan selebihnya menolong orang lain menyalakan dapur. Mereka bukan desainer biasa, tapi juga tajam membaca peluang, dan sudah tentu berkeringat.

Jenahara, misalnya, merintis bisnis dengan uang Rp10 juta. Lantaran modal mengkeret, semua serba dikerjakan sendiri. Cari bahan ke penjahit sendiri. Kadang-kadang harus hilir mudik ke beberapa penjahit. Lalu rancang sendiri. Cari pembeli juga sendiri. Dan dia sukses. Dia mendirikan butik di Kemang. Dan masuk ke sebuah mall kelas atas di Jakarta.

Ria Miranda juga begitu. Membangun bisnis dengan modal pas-pasan. Sekitar 15 juta perak. Semula lebih banyak dikerjakan sendiri. Kini sudah punya 70 karyawan. Dagangannya sudah menjajal pasar tetangga, Malaysia. Pada sejumlah butiknya, dia menawarkan koleksi sesuai dompet pembeli.

Dian Pelangi, Jenahara dan Ria Miranda adalah tiga anak muda yang ikut “ menyalakan” binis hijab di tanah air. Lewat berbagai seminar, talk show, ketiganya menginspirasi banyak orang terjun ke bisnis ini. Ketiganya sungguh percaya bisnis ini terus gemilang, meski para pebisnis baru terus berduyun.

Dan hitungan mereka ada benarnya. Lihat data-data berikut ini. Kementerian Perdagangan melansir bahwa industri kreatif fashion hijab menyumbang 30 persen ekonomi global. Dan pada tahun 2020 Indonesia diprediksi menjadi kiblat fashion muslimah dunia. Apalagi pasar di sini sungguh subur.

Dua tahun lalu,misalnya, Indonesia menjadi konsumen busana muslim terbesar ketiga di dunia. Dengan nilai US$16,8 miliar. Dua terbesar lainnya berturut-turut Turki US$24,9 miliar dan Iran US$ 20,5 miliar. Ini bisnis yang menggiurkan.

Peluang ekspor sama menggiurkan. Uni Emirat Arab, misalnya, menjadi negara pengimpor busana muslim terbesar di dunia pada 2012. Nilanya melangit di bilangan US$7,18 miliar. Disusul Arab Saudi US$2.99 miliar dan Turki US$2.34 miliar

Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Jenahara, adalah anak muda yang berbisnis dengan cara yang ramah pasar. Mereka tidak hanya membuka butik, tapi juga menghampiri pembeli. Membuka toko online, ketiganya sama-sama menjajal e-commerce. Memulai dengan modal kecil, mereka cekatan memanfaatkan social media sebagai panggung jualan.  

Tidaklah berlebihan ketiganya dianggap sebagai inspirator dalam bisnis ini. Semangat mereka menginspirasi orang lain menguras keringat. Pada 25 Juni lalu, Dian, Jenahara dan Ria diganjar penghargaan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi  Kreatif. “ Diharapkan Indonesia bisa menjadi kiblat fashion busana muslim di Asia Tenggara pada tahun 2020," kata Menteri Mari Elka Pangestu saat itu.

Laporan: Kusmiyati, Ervina Anggraini 

Beri Komentar