AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Dream - Proses melahirkan memang tak bisa dilepaskan dari rasa sakit. Kontraksi yang terus-menerus, bahkan hingga puluhan jam jadi hal yang harus dihadapi para ibu. Level rasa sakit yang dirasakan tiap individu pun berbeda-beda.
Hal ini terkait toleransi nyeri dan kondisi tubuh ketika proses melahirkan. Untuk mengurangi rasa sakit ini banyak cara yang bisa dilakukan, seperti melalui intervensi medis berupa
pemberian anastesi atau suntikan epidural. Ada juga yang melalui pendekatan holistik, seperti melahirkan dalam air di rumah, dengan didampingi terapis khusus.
Bagi Anda para ibu yang sedang mempersiapkan diri untuk proses melahirkan, penting untuk memiliki pendekatan fleksibel terkait pengelolaan rasa sakit ini. Hal ini agar lebih siap ketika menghadapi proses panjang nyeri kontraksi.
" Hal terpenting jangan memandang rasa sakit ini sebagai hal yang menakutkan, justru nyeri yang muncul berarti bayi sedang berusaha mendorong untuk keluar. Dibutuhkan kerjasama ibu, bayi, dan tenaga medis untuk membuat proses persalinan berjalan lancar," kata Brenda Gerald, seorang bidan senior asal Atlanta.
Nyeri selama persalinan disebabkan oleh kontraksi dari otot-otot rahim dan tekanan pada leher rahim. Rasnya sebagai kram kuat di perut, pangkal paha, dan punggung, serta pegal.
Beberapa ibu mengalami nyeri di sisi atau paha mereka juga.
© Dream
Tekanan pada kandung kemih dari kepala bayi dan peregangan jalan lahir dan vagina adalah penyebab lain dari sakit. Hal ini mengindikasikan dimulainya proses persalinan. Untuk rasa nyeri yang muncul secara umum terbagi tiga fase. Ketahui detailnya.
Fase satu
Dalam tahap pertama persalinan, serviks akan mulai membesar. Awal kontraksi, seperti kram menstruasi dan ini masih tahap awal. Intensitas nyeri mungkin berbeda, biasanya dengan satu kontraksi yang sangat kuat, diikuti kontraksi yang lemah. Pada tahap pertama, kontraksi panjang biasanya terjadi 30 sampai 60 detik dengan interval 5 sampai 20 menit.
Fase dua
Tahap kedua dimulai ketika leher rahim sepenuhnya melebar. Anda akan merasakan nyeri yang kuat, hingga ingin mendorong. Rasa nyeri ini muncul karena tekanan dari kepala bayi yang mulai masuk di daerah panggul. Turunnya kepala bayi Anda akan meregangkan area perineum (area antara vagina dan anus) dan rasanya seperti sensasi terbakar.
Fase tiga
Tahap akhir adalah ketika mengeluarkan plasenta. Segera setelah bayi lahir, kontraksi akan berhenti dan kemudian berlanjut setelah beberapa menit, tapi level nyerinya berkurang banyak.Kontraksi tersebut untuk mengeluarkan plasenta dari dinding rahim dan menjatuhkannya ke bagian bawah rahim.
Sumber: KidSpot
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli