Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Anak Main/ Foto: Shutterstock
Dream- Saat anak bermain di luar rumah, biasanya ayah bunda langsung mengingatkan untuk memakai sepatu atau sandal. Hal ini wajar karena kita cenderung takut anak terluka jika menginjak benda-benda yang tajam. Ditambah kaki akan menjadi sarang kuman karena kebersihannya tidak terjaga.
Sebenarnya, sesekali biarkan anak bertelanjang kaki atau barefoot. Hal tersebut sangat berdampak positif bagi tumbuh kembangnya. Fakta ini diungkapkan oleh Dr. Atchara Venakatraman, seorang ahil tumbuh kembang anak.

“ Bertelanjang kaki adalah hal yang ideal untuk anak. Sebab saat kaki menapak tanpa alas kaki bisa mengurangi sel darah putih dan meningkatkan sel darah merah yang menunjukkan tanda kekebalan yang baik,” kata Dr. Atchara.
Mulai sekarang tak ada salahnya untuk biarkan anak berjalan tanpa alas kaki karena ternyata bisa memberikan banyak manfaat untuk tumbuh kembangnya. Pastikan saja tak ada benda tajam di rumput, pasir atau tempat mainnya.
Perkembangan Otot Si Kecil Lebih Optimal
Manfaat pertama dari membiarkan anak barefoot yaitu menjadikan perkembangan otot menjadi lebih optimal. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kaki bayi berkembang lebih kuat dan terkoordinasi dengan baik ketika sering berjalan tanpa alas kaki. Karena tulang, persendian, otot, dan ligamen berkembang menjadi lebih keras.
Tumbuh Kembangnya Terstimulasi dengan Baik
Anak-anak yang sering bertelanjang kaki akan lebih mudah melakukan aktivitas menggerakkan tubuhnya seperti merangkak, berjalan, bahkan berlari. Sebab ketika kaki anak bersentuhan langsung dengan tanah, otaknya akan mendapat informasi melalui ujung saraf dan secara sadar akan berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Tingkatkan Ketrampilan Motorik Sensorik
Dengan membiasakan si kecil berjalan tanpa alas kaki di lingkungan terbuka misalnya di taman maupun lapangan ternyata dapat membuat kemampuan motorik meningkat. Sebab ketika kaki anak barefoot, ini akan merangsang ketrampilan motoriknya dengan mengenali perbedaan tekstur dari apa yang diinjaknya seperti tanah, rumput, bahkan pasir.
Laporan: Hany Puspita Sari/ Times of India
Dream - Anak-anak saat disediakan atau disuapi makanan tak selalu langsung menyantapnya. Ada yang hanya menyentuh, melihat atau hanya memasukkannya ke mulut, tak dikunyah dan mendiamkannya.
Kondisi tersebut biasanya kita sebut dengan mengemut makanan. Anak membiarkan makanan yang dimakan dalam mulut dalam waktu lama hingga berantakan. Ia tak tampak ingin mengunya atau memuntahkannya. Bagi orangtua, ini tentunya sangat bikin khawatir.
Beberapa anak memiliki kecenderungan mengemut makanan. Apa sebabnya? Ternyata ada berbagai alasan mengapa anak mengemut makanan. Alison Oniboni, MS, CCC-SLP, ahli patologi bahasa wicara mengatakan bahwa balita masih mengembangkan kekuatan fisik dan keterampilan koordinasi yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan yang efektif.
" Makanan apa pun yang tertinggal di mulut atau dimuntahkan secara tidak sengaja kemungkinan besar disebabkan oleh otot-otot mulut yang masih berkembang dalam hal kekuatan dan koordinasi, sama seperti kelompok otot lainnya," kata Oniboni, dikutip dari PopSugar.
Penyebab lainnya adalah beberapa balita mungkin gagal menelan semua makanan mereka adalah karena kondisi kepekaan sensoriknya. " Ada kemungkinan makanan dimuntahkan atau tertahan di mulut karena preferensi rasa atau tekstur," ujar Oniboni.
Banyak orangtua yang penasaran kapan anak bisa menelan makanannya dengan sempurna tidak mengemut atau memuntahkan. Rupanya, pada usia 2 tahun, anak-anak harus memiliki semua keterampilan motorik oral untuk makan lebih banyak seperti orang dewasa.
" Saat usia 2 tahun anak harus bisa mengunyah dan menelan, menggunakan peralatan, dan minum dari cangkir terbuka dan sedotan tanpa kesulitan," kata Christine Miroddi, MA, CCC-SLP, pendiri Foodology Feeding Therapy.
Bila di usia 2 tahun anak masih mengalami kesulitan makanan mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan kemampuan oral motoriknya. Bisa dilatih dengan meniup gelembung, menggunakan sedotan atau mengunyah makanan beragam tekstur.
Bisa juga berkonsultasi dengan dokter anak agar bisa dianalisis lebih detail. Pasalnya, beberapa kasus kesulitan makan pada anak dibutuhkan intervensi khusus berupa terapi.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya