Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Kebiasaan hidup tak sehat tidak hanya berdampak pada tubuh manusia. Bahkan otak bisa jadi mengecil dari ukuran normal.
Dikutip dari Liputan6.com, ada banyak hal yang bisa merusak jaringan otak manusia sampai membuatnya mengkerut. Yang dimaksud mengkerut adalah berkurangnya sel kelabu di organ utama manusia tersebut.
Mengecilnya otak dapat dijumpai pada orang yang memiliki kepribadian antisial. Bisa juga terjadi pada orang yang menderita alzeimer dengan dampak yang tentu lebih parah.
Profesor di Graduate School of Professional Psychology University of Denver, Kim Gorgens, menjelaskan ada beberapa dampak yang muncul akibat penyusutan otak.
" Hilangnya ingatan jangka pendek, hilangnya daya penciuman dan perubahan kepribadian, misalnya meledak-ledak, dan mungkin kehilangan ingatan gerak," kata Gorgens.
Lantas apa saja kebiasaan buruk yang bisa merusak otak? Sedikitnya ada 10 aktivitas penyebab otak mengecil.
Pertama, kecanduan alkohol. Islam sendiri mengharamkan konsumsi alkohol.
Rupanya, alkohol bisa merusak fisik otak, terutama di bagian depan. Padahal, bagian depan otak berfungsi untuk eksekusi, pembuatan keputusan, menjalankan tugas jamak, menguasai emosi dan mencegah stres.
" Ketika seseorang sakit, otak memerintahkan untuk mencari bantuan. Ketika seseorang kecanduan, bagian otak yang bertugas meminta bantuan tadi telah cedera. Orang kecanduan adalah orang yang tidak sadar telah bermasalah. Mirip halnya dengan Alzheimer, yaitu penderitanya tidak mengetahui sedang mengidapnya sehingga menjadi semakin parah," kata penulis buku Healing the Addicted Brain, dokter Harold Urschel.
Kedua, mengonsumsi narkoba khususnya ekstasi. Neurolog di Providence Saint John's Health Center di kota Santa Monica, California, dr Clifford Segil, sampai menyebut ekstasi sebagai sampah bagi otak.
" Kita memiliki reseptor yang dapat menangani opiate yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi. Tapi ekstasi tidak dibuat supaya bisa diterima oleh reseptor dan sebenarnya malah merusak neuron-neuron otak," kata Segil.

Ketiga, stres. Ketika stres melanda, terjadi penyalahgunaan zat pada otak.
" Orang yang mengaku stres tinggi, tertekan, atau mendapat diagnose PTSD, semuanya memiliki ciri serupa, yaitu kehilangan volume otak di bagian hippocampus," kata Gorgens.
Keempat, melewatkan sarapan setiap pagi. Tidak sarapan membuat kadar gula dalam darah rendah. Otak jadi kekurangan pasokan gizi dan jadi menyusut.
Kelima, terlalu banyak makan. Kebanyakan makan bisa membuat arteri mengeras dan memperlambat kerja otak.
Sebuah artikel yang dimuat di Maryland Medical Journal menjelaskan terlalu banyak makan, terutama makanan manis, menyebabkan perubahan sambungan otak yang mengendalikan perilaku makan.
Keenam, merokok. Nikotin merangsang otak memancarkan neurotransmitter yang berpengaruh pada mood, selera makan, dan rasa nikmat. Tetapi, nikotin juga memicu peningkatan risiko stroke akibat pembuluh darah dalam otak pecah.
Ketujuh, waktu tidur yang tidak memadai. Kurang tidur bisa melemahkan fisik, mengurangi perhatian, membuat otak lambat bekerja, dan keputusan tidak segeraa dibuat.
Kedelapan, menatap layar ponsel seharian. Kebiasaan ini membuat seseorang tidak bisa mengendalikan datangnya pikiran negatif.
Kesembilan, tidak berolahraga. Kondisi fisik rupanya membawa dampak terhadap otak. Sebab, otak memerlukan dopamine yang disediakan oleh tubuh yang prima. Kurangnya dopamine membuat orang termotivasi.

Terakhir, kurangnya konsumsi air putih. Banyak orang menyukai jus atau minuman berasa daripada air putih. Padahal, sebagian besar bagian otak terdiri dari air.
Jika otak kekurangan air, maka akan mengalami kekeringan dan mengecil. Gejala yang paling cepat terasa yaitu pusing.
Sumber: Liputan6.com/Alexander Lumbantobing
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya