Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Apriyani Rahayu Peraih Emas Olimpiade Dan Sea Games 2022 Dari Nomer Ganda Puteri (Foto: Instagram R.apriyanig)
Dream – Pertandingan final ganda puteri Sea Games 2022 itu berlangsung ketat. Pada babak pertama, pasangan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti dari Indonesia berhasil unggul tipis dari pasangan Thailand Benyapa Aimsaard/Nuntakarn Aimsaard dengan skor 21-17.
Pertandingan itu digelar di Bac Giang Gymnasium, Ha Noi, Vietnam, Minggu 22 Mei 2022. Apriyani dan Siti saat pertandingan itu kompak mengenakan seragam putih-putih dengan corak warna merah di leher dan bahu. Sementara pasangan Thailand mengenakan seragam berwarna merah hitam.
Pasangan Indonesia juga terlihat kontras dengan pemain Thailand. Gaya rambut pasangan ganda puteri Indonesia terlihat ringkas, dipotong pendek, sementara pasangan Thailand tampak feminin, berambut panjang yang dikuncir ke belakang. Tapi perbedaan penampilan ini tak membuat pertandingan berjalan mudah. Bahkan, boleh dibilang berlangsung cukup alot.
Pada babak pertama, terjadi kejar mengejar poin cukup ketat. Begitu juga pada babak kedua pertandingan. Bahkan, pasangan Thailand sempat unggul di separuh waktu babak kedua dengan skor 11-10. Namun, Apriyani dan Siti tak mau mengendurkan perlawanan. Mereka tak membiarkan permainan pasangan Thailand itu berkembang, sehingga memaksa pertandingan jadi rubber-set.
Benar saja. Setelah tertinggal 10-11, pasangan Apriyani/Siti langsung melaju. Tekad kuat dan kekompakan terlihat antara Apriyani dan Siti. Satu persatu poin mereka raih, sehingga menyalip ketertinggalan angka. Bahkan angka mereka terus melejit jadi 20-14, game point untuk keunggulan Indonesia.
Di babak kritis itu, servis dipegang pemain Thailand. Pemain Thailand melontarkan servis lambung ke Siti Fadia untuk mengecoh. Siti agaknya sudah siap. Ia pun langsung mencocor umpan lambung itu dengan sebuah smash menukik ke sisi pemberi umpan dari Thailand. Si pemberi umpan gagal mengembalikan. Pengembalian koknya tersangkut di net! Selesailah pertandingan di babak kedua untuk kemenangan Indonesia dengan skor 21-14. Indonesia pun meraih medali emas Sea Games dari ganda puteri!
Siti Fadia langsung menjatuhkan diri ke lapangan dan menangis terharu. Sementara Apriyani terlihat menurunkan tubuhnya ke lapangan, seraya tersenyum lebar. Keduanya larut dalam kegembiraan. Inilah emas pertama bagi pasangan anyar itu.
" Mengucap syukur kepada Allah SWT, karena kita diberikan kemenangan. Diberikan juara tanpa ada cedera," kata Apriyani Rahayu, 24 tahun, usai pertandingan dalam rilis PBSI seperti dikutip Liputan6. “ Terima kasih untuk semua doa rakyat Indonesia untuk kita."
Apriyani mengungkapkan dirinya dan Siti Fadia berlaga di SEA Games tanpa target. Maklum, mereka baru dipasangkan setelah Apriyani tidak lagi berpasangan lagi dengan Greysia Polii.
Apriyani kemudian mengungkapkan salah satu kunci sukses dia dan Siti Fadia menjadi juara di turnamen pertama ini adalah selalu mengeluarkan aura positif. Hal ini juga yang membuatnya bersama Greysia Polii sukses meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020.
" Saya selalu bilang ke Fadia, kita harus terus mengeluarkan aura positif di luar lapangan sehingga bisa masuk ke dalam lapangan. Itu juga yang saya lakukan di Olimpiade lalu. Semangat itu yang saya bawa ke Fadia," tutur Apriyani.

(Apriyani Rahayu dan Siti Fadia saat meraih emas Sea Games 2002/Liputan6)
Sementara itu, Siti Fadia Silva Ramadhanti merasa Apriyani selalu memberikan dukungan penuh baginya. Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu menganggap tandemnya tersebut sangat memercayainya. " Pertama-tama grogi pasti ada karena berpasangan sama kak Apri. Tapi balik ke diri sendiri bahwa saya bisa, percaya diri. Kak Apri juga selalu yakinkan saya, itu yang buat saya yakin," kata Fadia.
Di bulan Mei 2022 ini bukan hanya perolehan medali emas Sea Games yang diraih Apriyani Rahayu, 24 tahun Di Bulan yang sama, ia dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai tokoh Indonesia berpengaruh di bawah usia 30 tahun untuk 30 Under 30 Asia Forbes kategori olahraga dan hiburan.
Dalam penjelasan singkatnya, pihak Forbes menyatakan memilih Apriyani Rahayu, karena dia telah mencetak sejarah dengan membawa pulang medali emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama dengan pasangannya Greysia Polii.
“ Apriyani Rahayu membuat sejarah di Olimpiade Tokyo dengan meraih emas di ganda bulu tangkis dengan pasangan Greysia Polii, memungkinkan Indonesia untuk menjadi negara kedua setelah China yang menyapu kelima medali emas dalam olahraga ini,” tulis Forbes.

(Apriyani Rahayu dan Greysia Polii saat menyabet emas Olimpiade/Merdeka)
“ Apriyani bergabung dengan tim nasional pada tahun 2017 pada usia 19 dan dalam waktu enam bulan pasangan ini masuk ke peringkat 10 besar dunia, dan saat ini No 6. Dia telah mengumpulkan lebih dari 1 juta pengikut Instagram,” tulis Forbes.
Apriyani Rahayu yang dahulu dipasangkan dengan Greysia Polii saat menyabet medali emas Olimpiade ini memang harus berganti pasangan, karena Greysia pensiun. Kini, Apriyani berpasangan dengan pemain muda, Siti Fadia Silva Ramadhanti. Dari penampilan awal, pasangan baru itu sudah membuktikan diri meraih medali emas Sea Games 2022 untuk ganda puteri di Vietnam. Hebat!
***
Apriani Rahayu lahir di Desa Lawulo, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 29 April 1998. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya adalah Ameruddin dan ibunya bernama Sitti Jauhar.
Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sementara ayahnya seorang pegawai negeri sipil, sekaligus petani.
Sejak umur enam tahun, Apriyani sudah jatuh cinta pada permainan bulutangkis. Waktu itu, wilayah Lawulo sedang demam bulutangkis. Hampir di setiap halaman rumah warga terdapat lapangan bulutangkis. Anak bungsu dari empat bersaudara pun mulai diperkenalkan dengan olahraga tersebut.
“ Saya mulai bermain bulutangkis di sebuah kampung di Unaaha, Konawe. Jaraknya dengan kota Kendari masih 1,5 jam lagi naik mobil. Masuk ke dalam. Jauh di pelosok. Tidak ada mal. Sinyal ponsel yang ada cuma Telkomsel, yang lain tidak ada,” kata Apriyani saat berbincang dengan Yuni Kartika, pemain bulutangkis tahun 1990-an dan peraih medali Uber tahun 1994, di Youtube Bulu Badminton Addict.
“ Saat itu di kampung ada Persatuan Bulutangkis (PB). Oleh ayah saya saya dibelikan raket kayu di pasar. Saat bermain saya senang. Saya main bulu tangkis pertama usia 6 atau 7 tahun. Saya dulu suka olahraga apa saja. Sepakbola suka, tenis meja suka. Tapi papa lebih sreg membelikan saya raket. Pada akhirnya saya main sama anak tetangga di samping rumah, lalu masuk PB. PB Unaaha,” jelasnya.
Unaaha merupakan sebuah kecamatan di Konawe. Jarak antara tempat latihan di Unaaha dengan rumah Apriyani di Desa Lawulo, Kecamatan Anggaberi, masih jauh. Terpisah jarak beberapa kilometer. Terkadang dia pergi latihan dibonceng sepeda motor oleh papanya. Terkadang papanya tetap naik motor, sedangkan Apriyani memutuskan berlari ke tempat latihan. Dia biasa berangkat ke tempat latihan setelah jam 12 siang, setelah jam belajar sekolah selesai.

(Apriyani dan ayahnya Ameruddin/BBC)
Tahun 2005, kala Apriyani berusia tujuh tahun, ia diikutkan kejuaraan tingkat kecamatan. Di tahun-tahun berikutnya dia juga ikut pekan olah raga daerah atau Porda mewakili PB Unaaha.
“ Saat itu ikut Porda. Main tunggal dan ganda. Dua-duanya dapat emas. Pengurus Porda berjanji akan mengirim ke Jakarta jika menjadi juara. Waktu itu umur saya sekitar 12 tahun,” katanya. Itu tahun 2011.
Tapi setelah meraih medali emas, ternyata dia tidak mendapat kabar sama sekali dari pengurus PB Unaaha dan PBSI Konawe. Karena kesal, dia pun pindah sekolah dan latihan dari Unaaha ke ibukota Kendari.
Setelah sebulan pindah ke Kendari, mama Apriyani mendapat telepon dari pengurus PB Unaaha dan dijanjikan akan diberangkatkan ke Jakarta.
“ Padahal saya di Kendari baru satu bulan, baru beli seragam sekolah. Saya pun disuruh pulang oleh mama. Dari situ saya langsung berangkat ke Jakarta,” katanya.
Pengurus PB Unaaha dan PBSI Konawe, M. Akib Ras, kenal dengan pengurus KONI di Jakarta bernama Yuslan Kisra. Dan sebagai pengurus KONI di Jakarta, Yuslan mengenal Icuk Sugiarto, mantan juara dunia bulutangkis. Ia pun mempertemukan Apriyani dan M.Akib Rais kepada mantan Juara Dunia Tunggal Putera tahun 1983 itu.
Di tahun 2011, Icuk merupakan pengurus PB Pelita Bakrie. Saat bertemu, M.Akib Rais blak-blakan mengungkapkan kondisi Apriyani sebagai anak dari keluarga kekurangan. Orang miskin. Anak dari kampung. Orangtuanya tidak bisa bisa membiayai apapun.
Apriyani menuturkan, Icuk akhirnya mau membantu. " Oh ya sudah saya kasih tiga bulan percobaan latihan di sini," kata Icuk seperti ditirukan Apriyani.
Jadi, selama tiga bulan masa uji coba, Apriyani digratiskan latihan, gratis cuci baju dan diberi uang makan. Tinggalnya di asrama beramai-ramai. Setelah tiga bulan ternyata ada peningkatan penampilan, sehingga Apriyani pun resmi bergabung dalam klub bulutangkis PB Pelita Bakrie.
“ Selama di Jakarta, saya tidak pernah minta uang sama orangtua saya. Karena saya tahu orangtua saya tidak mampu,” tuturnya.
Ia bergabung dengan klub PB Pelita Bakrie dari tahun 2011 sampai pertengahan 2015. Lalu dia pindah klub ke PB Jaya Raya di pertengahan tahun 2015.
Saat pindah klub ke PB Jaya Raya tahun 2015, Apriyani mulai mendengar mamanya mulai sakit-sakitan. Sebelumnya, kabar sakit mamanya itu tidak pernah disampaikan kepada Apriyani.
Ia mengetahui kondisi sakit parah mama tercintanya sewaktu diminta oleh Pengurus PBSI untuk membuat paspor guna bertanding di luar negeri. Ini terjadi pada awal tahun 2015. Waktu itu ia sedang berada di Makassar. Ia lantas memutuskan pulang ke Kendari untuk mengurus paspor.
Papanya datang menjemput di Kendari dari kampungnya di Desa Lawulo dengan mengendarai sepeda motor. Pada jam 9 pagi, dia mulai mengurus paspor. Selesai mengurus paspor jam 3 sore, dia pun pulang ke rumahnya di kampung bersama papanya naik sepeda motor berdua.
“ Saat pulang saya menemui mama tengah tertidur. Sebelumnya mama tidak pernah bilang ke saya bahwa dia sakit parah. Saat melihat mama, saya kaget tubuhnya sudah gemuk karena obat,” kenangnya, dengan isak tangis yang tertahan.
Ia lantas menyuapkan makanan pada sang mama. Pada saat itu juga mendadak Apriyani ingin mencuci kaki mamanya. Ia pun mencuci kaki mamanya sampai benar-benar bersih. Reaksi mamanya saat itu nyaris tidak ada. Hanya bisa mengangguk atau menggeleng.
Papanya akhirnya mengungkapkan kepada Apriyani bahwa sang mama sudah minta dipesankan makam buat dirinya. Mama Apriyani juga meminta suaminya agar tidak menceritakan kondisinya kepada Apriyani. Karena mamanya tahu Apriyani pasti tidak akan ikhlas. “ Makanya mama bilang, biarkan mama pergi (meninggal) saat saya tanding di Amerika,” katanya dengan suara bergetar menahan haru.
Saat mamanya meninggal, Apriyani tengah persiapan bertanding di World Junior Championship 2015 di kota Lima, Peru, Amerika Selatan. Ia baru dikabari mamanya meninggal dunia, setelah mamanya dimakamkan.
“ Mama ini sebenarnya mama angkatku. Mama kandungku sudah meninggal sejak aku berumur 10 bulan. Jadi dari umur 10 bulan saya sudah diasuh mama angkat ini, dan dia mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Mama kandung saya sudah dijaga sama mama angkat saya ini sejak dia jatuh sakit. Maka pada saat itu mama kandung saya percaya bahwa mama angkat saya itu benar-benar orang baik. Tulus,” kata Apriyani mengungkapkan ketulusan hati mama angkatnya.
Pada kejuaraan World Junior Championship 2015, Apriyani bermain ganda campuran bersama Fachryza Abim dan ganda putri dengan Jauza Fadhila Sugiarto. Langkah dia untuk ganda campuran terhenti di semi final. Ia hanya memperoleh perunggu dari nomer ganda campuran.
Di awal 2017, Apriyani mulai berlatih di Pelatihan Nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta. Sejak itu pula Apriyani mulai bermain di level senior dan berpasangan Greysia Polli menggantikan pasangan Greysia, Nitya Krishinda Maheswari, yang cedera.

(Apriyani dan Greysia Polli/Liputan6)
Penampilan perdana pasangan ganda puteri ini terjadi di Kejuaraan Beregu Sudirman Cup 2017. Ia kemudian meraih gelar pertamanya di kelas BWF Grand Prix Gold di Thailand Terbuka 2017 dan disusul gelar BWF Super Series pertamanya di Prancis Terbuka Super Series 2017.
***
Apriyani mengakui, kehidupan dia yang susah semasa kecil merupakan motivasi terbesarnya sewaktu kelelahan berlatih atau bertanding.
Dalam pikirannya, lelah dan letih itu tidak sebanding dengan kesulitan yang dia alami pada masa kecil. Sampai-sampai dia terpaksa berdagang sayur untuk mencari uang jajan. Maka dia selalu memotivasi dirinya untuk tetap kuat. “ Spirit dari dalam inilah yang bisa mengalahkan semuanya,” tegasnya, yakin.
Saat ditanya Yuni Kartika tentang mimpinya sebelum Olimpiade 2020 digelar, Apriyani tegas menjawab: “ Mimpi saya membawa medali. Apa pun itu. Di hati kecil saya bilang emas. Saya ingin sampai ke tujuan itu. Apalagi kekuatan ganda puteri dunia sekarang ini merata. Sebagai pribadi, saya senang main di Olimpiade. Pokoknya step by step.”
Dan, mimpinya itu belakangan terbukti jadi kenyataan. Pada Senin, 2 Agustus 2021, menjadi hari bersejarah untuk Apriyani Rahayu. Bersama pasangannya Greysia Polii, Apriyani berhasil mempersembahkan medali emas Olimpiade 2020 dari nomor ganda puteri.
Prestasi medali emas Olimpiade 2020 diraih Greysia Polii/Apriyani Rahayu itu setelah mengalahkan wakil China, Chen Qingchen/Jia Yifan, pada final yang digelar di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Jepang. Medali emas ini menjadi emas pertama yang diraih ganda puteri Indonesia sepanjang keikutsertaannya di Olimpiade.
Greysia/Apriyani meraih medali emas setelah menang dua gim langsung 21-19 dan 21-15 dalam pertandingan berdurasi 55 menit. Apriyani Rahayu mengaku tak menyangka bisa mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade 2020.
" Kami berdua benar-benar bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan masyarakat Indonesia yang tak henti-hentinya mendukung kami. Kalian mendoakan kami luar biasa," kata Apriyani Rahayu dalam wawancaranya dengan Indosiar.
Medali emas Olimpiade 2020 menjadi prestasi tertinggi yang diraih Apriyani Rahayu di usia muda: 23 tahun. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan setelah melewati perjalanan berliku yang sulit dan berawal dari sebuah raket kayu. Tak mengherankan jika majalah Forbes memberikan gelar Apriyani sebagai satu tokoh pemudi di bawah usia 30 tahun berpengaruh di Asia. Selamat! (eha)
Sumber: Forbes, Youtube, Liputan6, Merdeka, Indosiar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya