Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

35 Orang Tewas Saat Pemakaman Jenderal Iran Qasem Soleimani

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 8 Januari 2020 10:00
35 Orang Tewas Saat Pemakaman Jenderal Iran Qasem Soleimani
Puluhan orang yang tewas meninggal karena berdesak-desakan.

Dream - Sebanyak 35 orang tewas akibat berdesak-desakan saat menghadiri pemakaman komandan Garda Revolusi Iran, Jenderal Qasem Soleimani. Jenderal kebanggaan Iran itu meninggal dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) pekan lalu.

Menurut Khaleej Time, dari unggahan video yang tersebar secara online, tampak orang-orang terbaring tak bernyawa di jalan. Sementara yang lain, berteriak dan mencoba memberi bantuan.

TV pemerintah Iran melaporkan kondisi korban tanpa menyebutkan dari mana informasi itu diperoleh. Kepala layanan medis darurat Iran, Pirhossein Koulivand, berbicara melalui telepon ke TV pemerintah dan mengonfirmasi peristiwa ini.

" Sayangnya karena berdesak-desakan, beberapa rekan kami telah terluka dan beberapa telah tewas selama prosesi pemakaman," kata Koulivand.

Prosesi pemakaman di Teheran pada hari Senin menarik lebih dari satu juta orang. Sejumlah jalan utama dan penopang padat dengan massa.

Kematian Soleimani telah memicu kesedihan dan amarah di seluruh Iran. Bahkan muncul seruan untuk membalas dendam ke AS atas serangan tersebut.

Pencurahan kesedihan menjadi suatu kehormatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebab, sosok Soleimani dianggap sebagai pahlawan nasional Iran dan pekerjaannya memimpin Pasukan Quds.

Bagi AS, kematian Soleimani dianggap pembalasan karena dia dianggap membunuhan pasukan AS di Irak. AS menuduhnya merencanakan serangan baru dengan serangan pesawat tak berawak ke bandara Baghdad, Irak, sebelum kematiannya.

1 dari 5 halaman

AS-Iran Memanas, Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Dream - Belum lama ini, bendera merah berkibar di Iran menyusul tewasnya Jenderal Qassem Soleimani. Pengibaran bendera merah ini membuat ketegangan Amerika Serikat-Iran semakin memanas. 

Dikutip dari Times of India, Senin 6 Januari 2020, bendara ini dikibarkan di atas atap masjid di Qom, Iran, pada Sabtu 4 Januari 2020 waktu setempat.

Bendera merah ini berarti panggilan untuk membalas kematian Soleimani yang meninggal dunia akibat serangan Amerika Serikat. Dalam tradisi Syiah, bendera merah melambangkan darah yang tumpah secara tak adil dan pembalasan atas yang terbunuh.

Lantas, bagaimana dampaknya terhadap perekonomian di Indonesia?

Dikutip dari Merdeka.com, Senin 6 Januari 2020, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, mengatakan, khawatir ketegangan ini akan berdampak kepada negara berkembang, termasuk Indonesia. Konflik ini tak hanya menimbulkan jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.

2 dari 5 halaman

Harga Minyak Dunia Naik

Pertama, harga minyak dunia akan tinggi. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy, mengatakan dampak jangka pendek yang terasa adalah harga minyak dunia akan meningkat jika hubungan Amerika Serikat-Iran makin panas. Untuk jangka panjang, situasi ini akan menambah ketidakpastian global. 

“ Potensi peningkatan harga minyak merupakan dampak jangka pendek yang bisa dirasakan Indonesia,” kata dia. 

Apalagi, kata Yusuf, Indonesia merupakan negara pengimpor minyak dan berpotensi meningkatkan nilai impor minyak. Ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

3 dari 5 halaman

Ganggu Aliran Modal Asing ke Indonesia

Direktur Riset Centre of Reformon Economics (Core) Piter Abdullah menilai, hubungan Amerika Serikat dan Indonesia yang memanas akan menahan laju aliran modal asing ke Indonesia. Kondisi ini bisa berdampak kepada laju Indeks Harga Saham Gabungan dan rupiah. 

“ Ketegangan ini juga bisa berdampak ke perekonomian melalui jalur perdagangan misalnya dengan kenaikan harga minyak," kata Piter kepada Merdeka.com.

Dia berharap kedua pihak bisa menahan diri dan menyelesaikan dengan jalur damai. Jangan sampai ketegangan Amerika Serikat dan Iran merusak sentimen positif yang terbangun pasca kesepakatan perang dagang AS dan China.

" Tentunya kita berharap kedua pihak bisa menahan diri. Kalau itu ya g terjadi pasar keuangan global akan aman demikian juga dengan IHSG dan rupiah," kata dia.

4 dari 5 halaman

Investor Takut Masuk ke Pasar Berkembang?

Bhima mengatakan, investor takut masuk ke negara berkembang dengan adanya konflik ini. Ada kecenderungan mereka lebih suka bermain aman. 

" Misalnya dengan membeli dolar atau emas. Harga emas dunia telah naik 2,19 persen dibandingkan tahun lalu dan Dollar index menguat tipis 0,51 persen dalam sepekan terakhir," kata dia.

Bhima menjelaskan IHSG dikhawatirkan akan terkoreksi kalau kondisi memanas. Selain itu, harga emas dunia yang naik juga akan berpengaruh naiknya harga emas di Indonesia. Rupiah pun juga bisa melemah karena kondisi ini.

5 dari 5 halaman

Pemerintah Harus Apa?

Bhima menyarankan pemerintah untuk memastikan daya beli masyarakat terjaga. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dampak konflik Amerika Serikat-Iran. 

Caranya dengan mendorong stimulus fiskal, khususnya kepada masyarakat rentan miskin dan miskin. 

Selain itu, pemerintah didorong untuk melakukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2020 agar asumsi makro, khususnya harga minyak disesuaikan dan alokasi subsidi BBM listrik dan LPG 3 kilogram (kg) bisa ditambah.

" Mendorong korporasi yang meminjam utang dengan valas (valuta asing) agar melakukan lindung nilai atau hedging. Antisipasi pelemahan kurs rupiah,” kata dia.

Beri Komentar