Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (Foto: Kementerian Kesehatan RI)
Dream - Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19, yang sudah lebih setahun melanda dunia, termasuk Indonesia. Menurut Menteri Kesehatan, Budi Gunawan Sadikin, setidaknya ada empat pilar yang harus dilakukan untuk menghadapi pandemi Covid-19.
" Pilar pertama itu diagnostik, itu berarti tracing. Tracing dan isolasi. Ini sangat penting untuk melakukan identifikasi siapa saja yang terkena infeksi. Ini berguna untuk menahan penyebaran," ujar Budi, dikutip dari Liputan6.com, Senin 15 Maret 2021.
Pilar ke dua, tambah dia, adalah pengobatan atau terapeutik, yaitu penanganan masyarakat yang sakit. Menurut dia, Indonesia sangat baik dalam melakukan perawatan kepada pasien yang sakit.
" Karena saya melihat berkembangnya pengobatan, obat-obatan, dan akses ke dokter, semakin baik. Serta jumlah tempat tidur isolasi juga masih cukup, bahkan dalam puncak kasus Januari lalu," kata Budi Gunadi.
Kemenkes, tambah dia, saat ini sedang berupaya menambahkan tempat tidur untuk mempersiapkan adanya lonjakan kasus.
Pilar ke tiga adalah vaksinasi. Budi mengungkapkan, Indonesia berupaya meningkatkan kapasitas vaksinasi dalam mencapai satu juta vaksinasi dalam satu hari.
" Ini tergantung ketersediaan vaksin, tetapi kami berharap dapat menyelesaikan vaksinasi pada akhir tahun ini."
Pilar ke empat yang tidak kalah pentingnya adalah memperkuat sistem kesehatan masyarakat. Budi mengatakan, di sini termasuk memperkuat puskesmas untuk melakukan edukasi masyarakat, terkait protokol kesehatan.
" Setiap pandemi meninggalkan perubahan perilaku," katanya. Ia mencontohkan salah satu pandemi terbesar di dunia yaitu Black Death atau Wabah Hitam, yang memakan korban hingga jutaan nyawa di Eropa.
" Itu butuh banyak perubahan perilaku. Bagaimana cara kita mencuci tangan menggunakan sabun, cara kita menggosok gigi dengan pasta gigi. Mengubah perilaku mencuci tangan saat ini hal yang kecil, tetapi saat itu adalah perubahan perilaku yang besar," kata Menkes.
Budi pun mengatakan bahwa, " Setiap pandemi tidak akan selesai dalam setahun, itu akan selesai dalam beberapa tahun."
" Setiap pandemi membutuhkan masyarakat untuk mengubah perilaku. Dan itulah mengapa sangat penting kita bisa memperkuat sistem kesehatan masyarakat, yang bisa mengedukasi masyarakat Indonesia yang tersebar di lebih dari 13 ribu pulau."
Sumber: liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya