Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Revolusi Tren Belanja Di Pusat Belanja Bakal Berubah Di Masa Depan
Dream - Salah satu aktivitas favorit kalangan wanita, yakni berbelanja, diperkirakan bakal berubah dengan cepat. Suatu saat, aktivitas berbelanja tidak akan dilakukan di toko tapi cukup dengan mengeluarkan smartphone dan tablet dari kantong.
Namun, kegiatan cuci mata dengan keluar masuk toko memang takkan sepenuhnya punah. Hanya saja, cara belanja kuno ini akan tampil dengan cara yang berbeda.
Di masa depan, kemungkinan toko fisik akan hilang secara permanen. Hingar-bingar kemajuan teknologi dan belanja online, membuat toko-toko fisik berlomba menawarkan fasilitas dan layanan yang lebih saat menjual produknya.
Beberapa teknologi yang dibayangkan oleh pengamat industri adalah hologram di ruang ganti yang akan memungkinkan pembeli untuk mencoba pakaian tanpa menanggalkan pakaian. Rumah-rumah di masa depan juga akan dilengkapi dengan teknologi pintar yang akan memesan lampu secara otomatis.
Bukan hal yang tak mungkin juga jika suatu saat calon pembeli bisa mencetak versi lengkap dari cangkir kopi dan produk-produk lain, yang dipesan dengan menggunakan teknologi 3-D di toko-toko.
" Belanja fisik akan menjadi jauh lebih menyenangkan karena memang sudah waktunya," kata futuris Doug Stephens seperti dikutip Dream.co.id dari laman Kuwaitnews.net, Rabu, 18 Juni 2014.
Analis Forrester Sucharita Mulpuru mengatakan toko masa depan cenderung mengarah pada layanan, seperti penitipan anak, pelayanan kesehatan hewan dan layanan kecantikan. Layanan yang terhubung secara online dan belanja secara offline bisa meningkat juga, seperti drive-thru, self-service dan pembelian online. Pembelian online dan offline bisa juga dalam satu toko fisik di mana kasirnya menggunakan komputer tablet.
Berikut adalah lima tren shopping yang diyakini bakal muncul di masa depan:
(Ism)
© Dream
Self Service
Saat ini sudah banyak toko yang menyediakan fasilitas self-service. Sebuah toko di Seattle bernama Hointer menampilkan pakaian tidak dalam tumpukan atau di rak seperti toko pakaian lainnya, tetapi digantung dan ditampilkan satu per satu seperti sebuah galeri.
Pembeli hanya menggunakan smartphone dan melakukan tag ke kode yang terpampang di item. Kemudian si pembeli ini bisa memilih warna dan ukuran melalui ponselnya. Teknologi di toko tersebut kemudian melacak item yang dipilih pembeli tadi, dan pada saat pembeli siap untuk mencobanya, item tadi sudah ada di ruang ganti.
Jika pembeli tidak suka item tersebut, ia tinggal menggeser item tadi yang secara otomatis menghapus item dari keranjang belanja online pembeli.
Jadi pembeli menyimpan barang-barang yang dia inginkan dan akan terbeli secara otomatis saat dia meninggalkan toko, jadi tidak kasir yang terlibat. Nadia Shouraboura, CEO Hointer, mengatakan setelah pembeli mulai terbiasa dengan cara tersebut, mereka jadi ketagihan.
" Mereka akhirnya membeli lebih banyak, mereka merasa senang dan tertarik mencobanya lagi," katanya. (Ism)
© Dream
Kupon On-Demand
Beberapa toko seperti Tesco di Inggris dan apotek Duane Reade sedang menguji beacon, perangkat berkemampuan Bluetooth yang dapat berkomunikasi secara langsung dengan ponsel untuk menawarkan diskon, mengarahkan ke produk yang diinginkan atau memungkinkan untuk membayar jarak jauh.
Sebagai contoh, saat berjalan ke sebuah toko obat di mana seseorang biasanya membeli krim wajah, beacon akan mengenali smartphone pembeli tersebut. Ia kemudian menghubungkannya dengan sejarah pembelian masa lalu dan mengirimkan teks atau email dengan kupon untuk krim tersebut.
Masalahnya, pembeli tidak mau di profil datanya oleh toko online yang tidak memiliki toko fisik karena mereka takut menjadi korban penipuan yang sering terjadi. (Ism)
© Dream
Pencetakan 3-D
Dalam waktu 10 tahun terakhir, mencetak 3-D bisa mengganggu pasar ritel, kata Deloitte Lobaugh memprediksi. Ambil contoh sederhana seperti cangkir kopi. Alih-alih membuatnya di Cina, mengangkut dan mendistribusikan ke toko-toko eceran, seseorang bisa men-download kode untuk cangkir kopi tersebut dan mencetaknya secara 3-D di outlet ritel atau di rumahnya sendiri.
" Itulah perubahan dramatis dalam struktur ritel saat ini," kata Lobaugh. Dan saat ini cetak 3-D kebanyakan masih berupa plastik. Namun Lobaugh mengatakan ada tes di MIT Media Lab dan di tempat lain dengan bahan lain, termasuk kain. " Pertanyaan besarnya adalah kapan," katanya. Sekarang beberapa toko menawarkan layanan pencetakan 3-D, tetapi mereka sangat terbatas. Dia memprediksi percetakan 3-D akan meluas dalam 10 sampai 20 tahun mendatang. (Ism)
© Dream
Rumah Memesan Secara Otomatis
Kepala inovasi untuk eBay, Steve Yankovich, memprediksi suatu hari nanti orang tidak akan repot saat membeli perlengkapan rumah tangga. Suatu hari nanti rumah yang terhubung secara online menggunakan sejarah pelanggan sebelumnya dan data real-time untuk memonitor saat sebuah bola lampu pecah.
Sistem di rumah tersebut akan memesan yang baru secara otomatis. Atau mesin cuci akan memesan deterjen lebih banyak ketika ia 'merasa' kekurangan. (Ism)
© Dream
Hologram
EBay baru saja membeli PhiSix, sebuah perusahaan yang bekerja untuk menciptakan model pakaian 3-D seukuran manusia yang dapat digunakan dalam ruang ganti. Hologram itu kemudian dapat digunakan mencoba berbagai warna dan gaya pakaian yang berbeda. Calon pembeli dapat melihat 30 atau 40 item pakaian secara realistis tanpa mencobanya secara fisik.
Yankovich mengatakan teknologi tersebut dapat digunakan dalam ruang ganti virtual juga. Dengan demikian, seorang calon pembeli bisa mencoba pakaian dan melihat bagaimana pakaian itu terlihat saat dibuat untuk berjalan menyusuri jalan atau bermain golf.
Beberapa perusahaan sudah mengujinya. Agen digital Inggris Engage menciptakan Virtual Style Pod yang memindai pembeli dan menciptakan dunia virtual di mana pakaian mewah dari merek seperti Alexander McQueen dan DKNY diproyeksikan. Pod tersebut pernah didatangkan di pusat perbelanjaan di Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya