Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

`Islamopolitan`, Cara Nyentrik Seniman Kenalkan Islam

Reporter : Syahid Latif
Senin, 16 Juni 2014 14:09
`Islamopolitan`, Cara Nyentrik Seniman Kenalkan Islam
Sejumlah seniman memamerkan karya seninya yang bertemakan seni dan Islam. Lewat karya seni, Islam diperkenalkan dengan cara mudah sekaligus menarik.

Dream - Sebuah pameran seni dan instalasi bertajuk Islamopolitan digelar di Maraya Art Centre di Al Qasba, Sharjah, Uni Emirat Arab (UEA). Pameran seni ini merupakan ide dari Khalid Shafar, seorang desainer asal UEA.

Pameran itu berusaha menunjukkan desain dan seni instalasi juga bisa berdialog dengan Islam. Karya-karya yang dipamerkan memiliki bentuk-bentuk yang berhubungan dengan Islam, seperti orang sedang salat, tulisan Allah, sajadah dan sebagainya. Selain itu ada beberapa karya yang mencoba untuk menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama yang damai.

Selain diikuti beberapa seniman dan desainer lokal, pameran ini juga menampilkan karya desain dari mancanegara. Pesertanya tidak semuanya Arab dan Muslim. Mereka semua diundang untuk menyajikan benda-benda yang mengeksplorasi hubungan antara Islam dan desain, baik dari segi estetika dan makna. Tujuannya adalah untuk mendorong perdebatan, sambil tetap menghormati agama.

" Kami ingin menyajikan sesuatu yang tidak akan menyinggung dengan cara apapun, tapi pada saat yang sama tetap terbuka. Hal ini sesuai dengan visi Sharjah," kata Shafar seperti dikutip Dream dari laman thenational.ae, Senin, 16 Juni 2014. .

" Kami ingin menantang dan memicu kreativitas para desainer, terutama yang berbasis lokal, dan untuk melihat seberapa jauh mereka bisa menuangkan ide-ide mereka dalam sebuah karya seni," kata pengurus Maraya Art Centre, Giuseppe Moscatello.

Sebanyak 25 buah karya seni dengan 23 desainer yang berasal dari 12 negara akan tampil dalam pameran kali ini. Lebih dari setengah karya yang dipamerkan diciptakan khusus untuk Islamopolitan. Desain hadir dalam bentuk berbagai macam, ada kursi, lilin, keramik dan hiasan dinding. Tetapi juga ada instalasi video, pakaian dan bahkan sebuah cincin oleh perancang perhiasan Nadine Kanso.

Diantara deretan karya seni yang dipamerkan terdapat produk bertema kepraktisan dalam ibadah seperti karya Soner Ozenc berjudul EL (elektro luminescent) Sajjadah, sebuah sajadah berteknologi tinggi yang bisa menyala. Sajadah yang masih menjadi prototipe ini sudah dipamerkan di Modern Art of Museum di New York. Sajadah canggih tersebut dilengkapi dengan teknologi GPS dan fitur gambar vektor dari sebuah masjid yang menyala ketika sajadah diposisikan langsung menghadapi Makkah.

Ada lagi karya berjudul Amal’s Chair yang dibuat oleh Sarah Al Agroobi. Instalasi berbentuk menyerupai kursi goyang itu tampil sangat mencolok. Kursi tersebut dirancang untuk membantu orang-orang yang secara fisik tidak mampu melakukan gerakkan sujud saat sholat.

Seniman asal Arab Saudi, Saddek Wassil, memamerkan karyanya yang berjudul Shababeek Makkah. Dalam karyanya itu, Saddek mengeja kata Makkah menggunakan pintu-pintu bekas beberapa rumah yang dirobohkan akibat perluasan Masjidil Haram. Karya Saddek itu mengingatkan manusia untuk melestarikan yang lama dan menjaga yang baru.

Karya yang cukup menyentuh disajikan dalam bentuk vas hitam berbentuk lingkaran yang menyerupai sebuah bom. Di atasnya disematkan bunga-bunga kecil berwarna putih. Jika diamati lebih dekat, vas ini disusun dari empat huruf Arab yang saling terkait, yang terbaca kata Salam yang artinya perdamaian.

Secara keseluruhan, karya-karya dalam Islamopolitan sensitif tapi mengundang pertanyaan, penuh penghormatan tapi provokatif. Selain itu Islamopolitan informatif tetapi juga, dalam banyak kasus, menyenangkan. (Ism)

Beri Komentar