Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kisah Rumah Mungil Terhimpit Gedung Ini Mirip Cerita di Film Up

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 26 September 2019 15:48
Kisah Rumah Mungil Terhimpit Gedung Ini Mirip Cerita di Film Up
Pemilik enggan menjual rumah itu kepada pengembang.

Dream – Masih ingat film berjudul Up yang dibuat rumah produksi Pixar? Film animasi ini berkisah tentang pria tua yang menolak menjual rumah mungilnya kepada pengembang yang hendak membangun area komersial.

Rumah kecil itu tampak mencolok di antara gedung-gedung mewah yang menghimpitnya. 

Kisah hampir serupa juga terjadi di dunia nyata. Di Malaysia terdapat sebuah bangunan kecil yang mereka juluki Rumah Degil atau “ Stubborn House”.

Foto rumah tersebut diunggah oleh warganet bernama Herman Plani Syafrudin. Dilaporkan laman World of Buzz, Herman menceritakan Rumah Degil itu milik seorang wanita tua bernama Nenek Norma.

Perempuan ini enggan menjual rumah tradisionalnya kepada pengembang. Ya, pengembang ini ingin membangun rumah—pusat perbelanjaan di sekitar rumah di Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia.

“ Kalau kamu tak tahu, ini Rumah Degil yang berada di Chow Kit, di pusat kota Kuala Lumpur. Nenek Norma adalah pemilik rumahnya. Ada banyak versi tentang rumah ini, tentang kepandirannya menolak untuk menjual rumah kepada developer di area ini. Area yang dikelilingi gedung pencakar langit dan rumah itu satu-satunya yang masih terbuat dari kayu dan tiang,” tulis dia.

Masuk akal memang jika Nenek Norma tak mau menjual rumah hanya untuk melihat rumahnya dihancurkan. Apalagi jika mengingat nilai sentimentil yang dimiliki dari rumah itu.

“ Selama bertahun-tahun banyak upaya dilakukan untuk meyakinkan Nenek Norma menjual rumahnya. Sampai akhirnya, dia meninggal. Pada 2013, ahli warisnya terpaksa melepas rumah tersebut,” tulis Herman.

1 dari 11 halaman

Direlokasi

Rumah ini memang tidak jadi dirobohkan tapi dipindahkan. Pemerintah memindahkan rumah kayu ke Galewri Seni Malaysia di Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur.

“ Rumah Degil yang bersejarah masih bisa dikunjungi,” tulis Herman.

Pembeli rumah itu adalah Datuk Seri Nazri Aziz—menteri pariwisata Malaysia kala itu. Nasri berinisiatif membeli rumah dan bisa dipajang di Galeri Seni Nasional.

" Semoga rumah yang sebelumnya terletak di No.41, Jalan Chow Kit, yang dikenal sebagai 'Rumah Degil', menginspirasi pewaris Kampung Baru untuk mempertahankan warisan dan warisan mereka seperti bagaimana Nenek Norma lakukan selama 70 tahun," tulis dia mengakhiri unggahannya.

2 dari 11 halaman

Bertahan Puluhan Tahun Terjepit Gedung, Rumah Ini Dihancurkan

Dream - Para penggemar film animasi Disney Pixar pasti tahu kisah sepasang kakek nenek, Carl Fredericksen dan Ellie. Film yang menyentuh hati ini ternyata terjadi juga di kehidupan nyata.

Bedanya bila dalam cerita animasi " Up" tersebut Carl mempertahankan rumahnya dari tangan-tangan developer atau orang yang bekerja mengubah bangunan untuk tujuan tertentu.

Walaupun ditawar dengan harga tinggi, Carl tetap bersikukuh mempertahankan rumah mungil miliknya. Menurut Carl rumah tersebut berisi kenangan bersama sang istri yang lebih dahulu meninggalkannya.

 



Itu pun yang dilakukan Edith Mcefield, wanita berusia 84 tahun. Rumah mungilnya terletak di ujung jalan antara Northwest 46th Street, 15th Avenue di Ballard, Seattle, Amerika dibiarkan tetap berdiri walaupun sekelilingnya telah dibangun gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Edith tidak mau melepas kediamannya walaupun ditawari uang sekitar USD 1 juta atau setara dengan Rp. 11,9 miliar rupiah sebagai gantinya. Developer pun sudah habis akal untuk meminta wanita paruh baya ini mengosongkan rumahnya.

Edith semasa hidupnya mengaku pernah bekerja sebagai mata-mata selama Perang Dunia II, sampai ia ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi Dachau, kemudian berhasil melarikan diri.

" Saya tidak ingin pindah, saya tidak butuh uang. Kenangan dalam rumah ini berharga untuk saya," kata Edith dikutip Dailymail, Jumat, 20 Maret 2015.

3 dari 11 halaman

Janji Ibu

Rupanya Edith berjanji pada sang ibu untuk terus menjaga rumah tersebut dengan baik. " Ibu saya meninggal di atas sofa rumah ini. Saat itu saya berjanji pada ibu untuk menjaga rumah ini sampai mati. Dan saya akan terus di sini, di atas sofa ini," kata Edith. 

Namun sayang kini bangunan tersebut kabarnya akan dihancurkan. Setelah meninggalnya Edith, rumah tersebut diwariskan kepada Barry, kepala proyek pengembang yang pernah ingin mengambil rumahnya.

Edith melakukan hal tersebut karena Barry yang merawat Edith sehari-hari, seperti menyediakan makanan, mengajaknya jalan-jalan, dan mendengarkan segala cerita nenek tua itu.

Barry kemudian menjual rumah ini seharga $ 310 ribu atau sekitar Rp 4 miliar. Dalam buku yang ditulisnya, ia ingin pemilik baru agar menjaga rumah tersebut agar tetap utuh.

Sayang sekali, ternyata rumah tersebut malah diambil alih pihak pengembang dan akan dilelang. Rencananya pihak pemenang lelang akan menghancurkan rumah tersebut untuk dibangun kembali.

4 dari 11 halaman

Gangguan Makhluk Halus di Rumah Kos, Pintu Diketuk, Meja Diseret

Dream - Siapa pun yang berhadapan dengan gangguan makhluk halus pasti akan merasa takut dan merinding. Jika tidak kuat, bisa-bisa malah kesurupan.

Seperti gadis Malaysia yang membagikan pengalaman diganggu makhluk halus saat tinggal sendirian di rumah kos-kosan sepekan yang lalu.

Gadis bernama Alya Aleera itu memutuskan tidak pulang untuk merayakan Idul Adha di kampung halaman.

 

 

Alya tinggal sendirian di rumah kos-kosan, sementara semua temannya pulang kampung selama beberapa hari.

Satu per satu kejadian aneh muncul sehingga dia tidak tahan lagi berada di rumah tersebut.

Lebih menyeramkan lagi, Alya sempat merekam video saat dia mengalami kejadian aneh. Mulai dari ketukan di pintu hingga mendengar meja kursi diseret dengan kuat.

5 dari 11 halaman

Berawal dari Hiking Sendirian

Insiden menyeramkan itu dimulai sebelum tanggal 11 Agustus, tepatnya tanggal 8 Agustus 2019. Alya sangat menyukai olahraga hiking.

Dia biasanya pergi hiking ramai-ramai bersama teman-temannya. Namun hari itu dia mendaki sendirian dengan menaiki Bukit Beruang.

Alya berangkat dari rumah kos sekira jam 17.45 waktu setempat. Sekira 12 menit kemudian dia turun dengan memilih jalur hutan.

Dia sangat yakin bisa turun ke rumah kos sebelum Maghrib karena saat itu baru jam 6 magrib waktu setempat.

Tapi dugaan Alya keliru, dia baru sampai rumah kos satu jam kemudian, sekira jam 19.00. Itu mungkin karena Alya berjalan sedikit pelan.

Saat naik turun Bukit Beruang tersebut, Alya tidak mengalami hal-hal aneh. Sendirian, Alya menghabiskan malam-malam berikutnya dengan tenang.

6 dari 11 halaman

Teror Dimulai dari Pintu Beranda

Tanggal 11 Agustus jam 11 malam, Alya pulang dari cari makan. Tapi anehnya, pintu beranda sudah terbuka lebar-lebar.

Dia yakin sudah mengunci pintu tersebut sebelum pergi mencari makan. Dia berpikir mungkin ada salah satu temannya yang sudah kembali dari pulang kampung.

Dengan tetap berpikiran positif, Alya mengetuk setiap pintu kamar di rumah kos-kosan. Tapi tidak ada satu pun yang membukakan pintu.

Tapi Alya masih tidak merasa takut karena masih mengira penjaga kos-kosan yang datang untuk memeriksa.

7 dari 11 halaman

Orang Jalan Depan Kamar dan Bermain Pintu

Sekira jam 23.15, Alya masuk ke kamar dan segera memutar lantunan ayat-ayat suci Alquran.

" Bukannya takut, tapi aku sudah insaf dari mendengar lagu-lagu EDM," katanya.

Namun, sekira jam 12 malam, Alya nampak sekelebat bayangan orang sedang berjalan di depan kamarnya.

Tidak sampai di situ. Dia juga mendengar pintu dibuka dan ditutup berulang-ulang.

" Tak tahu kenapa, saat itu aku tidak takut. Aku sudah memakai mukena, jadi hati tenang-tenang saja," kata Alya.

8 dari 11 halaman

Pintu Diketuk Hingga Subuh, Meja Kursi Diseret

Namun, gangguan aneh itu semakin parah ketika Alya mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.

Saat itu Alya hanya tertawa. Dia masih mengira ada orang yang mencoba untuk menakuti dirinya.

Tetapi, setiap kali Alya berteriak untuk menyuruh pergi, suara ketukan di pintu itu makin menjadi.

Parahnya lagi, pintu kamar Alya diketuk semalaman hingga menjelang Subuh.

Hari berikutnya, 12 Agustus 2019, Alya pergi jalan-jalan sampai Maghrib. Saat itu hari masih libur Lebaran.

Pulang ke rumah kos malam hari, Alya merasa merinding. Dadanya berdebar lain dari biasanya.

Ketika duduk di dalam kamar, gangguan menyeramkan itu datang lagi. Waktu menunjukkan jam 9 malam.

Alya mendengar bunyi meja dan kursi yang diseret kuat-kuat. Dia pun memberanikan diri keluar kamar.

Berbekal kamera ponsel, Alya merekam kondisi lorong rumah kos-kosan yang sudah berantakan.

Sedangkan suara meja dan kursi yang diseret-seret terdengar keras dan jelas. Kali ini Alya benar-benar ketakutan.

9 dari 11 halaman

Gangguan Makin Parah, Pintu Tak Bisa Dibuka

Alya benar-benar ketakutan. Badannya sampai menggigil, mukanya pucat. Saking takut dan gemetar, dia menangis dan ponsel di tangan sampai jatuh.

Dia kemudian memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Sambil meraba dinding, Alya berjalan sambil menutup mata menuju pintu beranda.

Sementara suara kursi dan meja diseret-seret semakin terdengar keras dan jelas. Tapi Alya tak ingin melihat makhluk apa yang menyeret kursi dan meja.

Pikirannya hanya ingin pergi secepatnya. Sialnya, ketika sudah sampai di beranda, pintunya tak bisa dibuka.

Terkunci? Bagaimana bisa pintu yang dikunci dari dalam tak bisa dibuka?

10 dari 11 halaman

Pindah Tidur di Hotel

Alya menjerit ketakutan. Dia terus berdoa, membaca sembarang ayat suci agar bisa keluar dari tempat menyeramkan itu.

" Aku pun berusaha untuk tenang, mencoba tidak menangis. Tapi mata masih tertutup rapat. Setelah baca ayat, baru pintu bisa terbuka," katanya.

Alya langsung lari menuju gerai cepat saji dengan badan gemetar ketakutan. Di sana, Alya video call orang tuanya.

Dia menceritakan kejadian seram yang dialaminya. Hampir tengah malam, Alya kembali ke rumah kos-kosan.

Dia mau mengambil beberapa barangnya yang tertinggal sebelum pindah tidur di hotel.

11 dari 11 halaman

Seolah Tak Terjadi Apa-apa

Alya kemudian minta bantuan penjaga kos-kosan untuk menemaninya mengambil barang-barang.

Seorang penjaga laki-laki dan dua perempuan akhirnya menemani Alya ke lantai atas rumah kos-kosan.

Namun, saat memasuki rumah tersebut, kondisinya biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa.

Meja dan kursi tertata rapi seperti biasanya. Kunci rumah juga masih menempel di pintunya.

Alya hanya sehari pindah ke hotel. Esoknya dia check out dan kembali ke kos-kosan.

Selama dua hari di rumah kos, Alya tetap menemui hal-hal aneh seperti sebelumnya.

Namun kali ini dia tidak menggubris gangguan-gangguan tersebut. Alya ingin fokus pada kuliah dan ujiannya saja.

Sumber: Siakapkeli.my

Beri Komentar