Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (shutterstock)
Dream - Gravitasi punya peranan penting bagi kehidupan manusia di Bumi. Bayangkan saja jika tak ada gravitasi, benda atau bahkan penghuni Bumi bakal melayang tak karuan.
Namun, ada fenomena langka yang membuat seseorang justru tak nyaman dengan adanya daya tarik Bumi ini. Dialah Lyndsi Johnson, wanita 28 tahun yang belakangan mengeluhkan punya penyakit tak lazim.
Ia didiagnosa mengidap sindrom takikardia ortostatik postural. Yakni suatu kondisi yang menciptakan pengurangan volume darah dan peningkatan detak jantung yang tidak normal ketika seseorang berdiri atau duduk.
Mereka lebih familiar menyebutnya dengan “ alergi gravitasi”. Tak heran Johnson merasa tak kuat dan bahkan selalu pingsan saat berada pada posisi berdiri bahkan duduk.
“ Saya alergi terhadap gravitasi. Kedengarannya gila tapi itu benar. Saya tidak bisa berdiri lebih dari tiga menit tanpa merasa lemas, sakit atau pingsan,” kata Johnson, dilansir dari India Times.
Johnson yang sebelumnya bekerja sebagai mekanik diesel penerbangan Angkatan Laut itu kini fokus menjalani terapi.

Lyndsi Johnson mengungkapkan bahwa dia menghabiskan 23 jam di tempat tidur, pingsan hingga 10 kali sehari dan tidak dapat berdiri selama lebih dari tiga menit tanpa pingsan.
Dia mulai menderita sakit perut dan punggung pada Oktober 2015. Sayangnya, gejalanya terus memburuk dan dalam beberapa tahun dia muntah dan pingsan hingga 10 kali sehari.
" Saya pingsan di mana-mana. Saya akan berbelanja di supermarket dan saya harus duduk karena saya merasa ingin pingsan. Saya bahkan pingsan setelah anjing saya menggonggong,” jelas Johnson.
Pada Mei 2018, Johnson diberhentikan secara medis dari militer karena penyakit misteriusnya, tetapi gejalanya semakin memburuk. Berbagai tes dilakukan semenjak itu hingga akhirnya pada bulan Februari, dia secara resmi didiagnosis dengan sindrom PoTS.
Meskipun tidak ada obat khusus, Johnson disarankan menggunakan beta blocker, yang mengurangi pingsannya hingga tiga kali sehari dan membantu mengatasi mualnya.
Sayangnya ia tidak dapat menjalani kehidupan normal dan bergantung pada suaminya, James untuk menjadi pengasuhnya.
" Ini benar-benar melemahkan. Saya tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dan James harus memasak, membersihkan dan membantu saya mandi dan mencuci sendiri. Saya sudah berminggu-minggu tanpa menyikat gigi karena itu hanya membuat saya merasa tidak enak," ujarnya.
Hingga kini ia masih terbatas dalam mobilitas. Dia hanya duduk dengan kaki disilangkan untuk menghentikannya dari rasa sakit dan hanya bisa bangun untuk makan atau mandi.
Laporan : Erdyandra Tri Sandiva
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya