AMSI Dukung Kemkominfo Selidiki Kebocoran Data Facebook

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 6 April 2018 17:35
AMSI Dukung Kemkominfo Selidiki Kebocoran Data Facebook
Pemerintah diminta jamin data privasi warganya.

Dream - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mendukung rencana Kementerian Komunikasi dan Informatika yang meminta Polri menyelidiki potensi pelanggaran data pribadi pengguna Facebook asal Indonesia.

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut, mengatakan, kemunculan kasus kebocoran data pelanggan Facebook itu akan terasa sensitif karena Indonesia bersiap dengan pemilihan kepala daerah, anggota parlemen, dan presiden. Untuk itu, pria yang akrab disapa Wens itu berharap pemerintah menjamin keamanan data pribadi masyarakat.

" Dan memastikan tidak ada penyalahgunaan data itu untuk kepentingan politik dalam pemilihan umum," ucap Wens, dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 6 April 2018.

Wens meminta Polri menyelidiki kebenaran bocornya data sejuta pengguna Facebook asal Indonesia. Dia juga berharap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) segera mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi. 

Selain itu, Wens meminta perusahaan milik Facebook memperbaiki mekanisme perlindungan data pribadi. " Serta mengidentifikasi dan menghapus konten hoaks, hate speech, konten SARA, yang beredar di platformnya," kata dia.

Menurut Wens, sebagai organisasi yang menaungi pengelola media-media siber profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, AMSI siap bekerja sama dengan semua pihak untuk membantu meningkatkan kredibilitas informasi yang disebarkan melalui media sosial.

Sebelumnya, Menteri Kominfo Rudiantara berencana menggugat media sosial yang berbasis di California karena munculnya kebocoran data 1 juta pengguna Facebook asal Indonesia. Di seluruh dunia, diperkirakan tak kurang dari 87 juta data pengguna Facebook juga bocor.

Asal-muasal kebocoran masif data Facebook ini diungkap oleh Christopher Wylie, mantan kepala riset Cambridge Analytica, pada koran Inggris, The Guardian, Maret 2018.

Menggunakan aplikasi survei kepribadian yang dikembangkan Global Science Research (GSR) milik peneliti Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan.

Data itulah yang secara ilegal dijual pada Cambridge Analytica dan kemudian digunakan untuk mendesain iklan politik yang mampu mempengaruhi emosi pemilih.  Konsultan politik ini bahkan menyebarkan isu, kabar palsu dan hoaks untuk mempengaruhi pilihan politik warga.

Beri Komentar