Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi RI (Foto: Merdeka.com)
Dream – Koordinator PPKM Darurat untuk Jawa-Bali, Luhut B Panjaitan optimistis Indonesia bisa mencapai kondisi endemik Covid-19 pada Januari 2022 mendatang. Namun keyakinan itu sangat bergantung pada upaya penanganan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022.
Sebelumnya Luhut juga mengimbau masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan meski data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan penurunan kasus Covid-19 periode 5-17 Oktober 2021. Kewaspadaan ini dibutuhkan karena kemungkinan munculnya gelombang ketiga pandemi Covid-19.
Menurut Luhut, status pandemi menjadi endemi itu diperoleh dari paparan sejumlah para ahli. Indonesia bisa mencapai tahap tersebut jika mampu melewati momen llibur Nataru dengan baik.
" Kalau kita bisa melampaui Nataru ini dengan baik pada Januari, saya pikir sudah masuk pada endemi," ujar Luhut dalam keterangan pers, Senin 18 Oktober 2021.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah meminta para menterinya untuk melakukan mitigasi apabila terjadi gelombang ketiga akibat Libur Nataru. Upaya tersebut diperlukan karena lonjakan kasus Covid-19 bisa terjadi jika mobilitas masyarakat meningkat saat Nataru.
Presiden juga mengingatkan potensi penularan masih bisa terjadi karena efek imunitas pasca vaksinasi sebagian besar sudah mulai menurun.
" Kami akan melakukan beberapa kali rapat untuk persiapan itu. Terutama, mendorong penggunaan Peduli Lindungi," terang Luhut yang juga menjabat Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) itu.
Diakui Luhut banyak masyarakat yang sudah mulai lelah menghadapi masa-masa pembatasan selama pandemi Covid-19. Namun dengan perkembangan yang ada, Luhut masih yakin Indonesia akan segera bisa keluar dari pandemi Covid-19.
Lebih lanjut, Menko Kemaritiman dan Investasi itu juga mengungkapkan pemerintah saat sedang melaksanakan penjajakan beberapa alternatif obat Covid-19.
Diketahui, Menko Marves Luhut dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sedang berada di Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai obat Molnupiravir.
Tidak hanya Molnupiravir dari Merck, Luhut juga menyebut saat ini terdapat obat Proxalutamide yang sedang dalam tahap uji klinis ketiga di Indonesia dan sedang berproses di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alternatif obat lain yakni, AT-527 yang dikembangkan oleh Roche and Athea.
" Ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat Covid-19," jelas Koordinator PPKM Jawa-Bali tersebut.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya