Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Atalia Praratya Saat Enjadi Salah Satu Narasumber Dalam Pengajian Akbar Februari Yang Digelar Hijabers Community Bandung (HCB) Di Grand Hotel Universal, Bandung, Minggu (21/2). (Foto: Instagram HC Bandung)
Dream- Atalia Praratya, menjadi salah satu narasumber dalam Pengajian Akbar Februari yang digelar Hijabers Community Bandung (HCB) di Grand Hotel Universal, Bandung, Minggu (21/2).
Dalam kesempatan itu, Atalia sebagai Ketua PKK Kota Bandung mengajak ratusan hijabers yang memadati Grand Hotel Universal untuk mengenalkan Islam yang teduh, damai dan tidak radikal. Islam model ini sebenarnya identik dengan Islam Indonesia.
Hal itu diungkapkan Atalia dalam pengajian bertema " Muslimphobia." Ia menuturkan pengalamannya tinggal di Amerika Serikat, pasca serangan 9/11.
Waktu itu ia berdiskusi dengan orang Amerika Serikat. Orang tersebut heran begitu mengetahui Atalia muslim. Pakaian yang dikenakan Atalia berbeda dengan pakaian Arab. Orang itu kemudian berharap bahwa Islam yang diperkenalkan ke dunia mestinya Islam Indonesia.
" Islam yang perlu diperkenalkan adalah Islam yang tidak kaku, yang bisa diajak bekerja sama," kata Atalia yang mengenakan hijab warna gelap bercorak pink.
" Kita perempuan Indonesia mempunyai tugas menyiarkan bukan Islam radikal dan tidak fanatik dan tidak bisa diajak kerja sama," tambah dia.
Saat tinggal di AS, lanjut dia, dirinya mengalami sulit salat, hingga mengenakan kerudung. Namun, kata dia, Islam tidak memberatkan pemeluknya. Salat bisa dilakukan di mana pun dan dalam kondisi apa pun.
Misalnya, salat bisa dilakukan sambil duduk, di taman, bahkan di gudang. Selain itu, salat bisa dijamak atau dikashar.
Ia juga menyoroti kasus bom Sarinah, Jakarta, beberapa waktu lalu yang sedikit banyak telah turut merubah wajah Islam. Sebelumnya juga terkadi rentetan teror bom di Paris, Prancis, hingga Turki.
" Hampir tiap bulan ada pengeboman. Jadi orang beranggapan ini Islam. Saya menduga ada upaya-upaya menjatuhkan Islam dari dalam maupun luar," kata dia.
Padahal, kata dia, sebelum munculnya rentetan teror Bom di Paris, pemerintah Prancis sudah melakukan kebijakan yang baik bagi orang-orang muslim. Kini dengan rentetan teror bom menimbulkan kembali islamophobia.
Acara ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan artis seperti Ben Kasyafani dan Natasya Rizky yang merupakan brand ambassador produk kosmetik.
Laporan Iman Herdiana/Merdeka.com Bandung
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya