Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Thesun.co.uk
Dream - Kanker merupakan penyakit yang menakutkan. Keberadaannya sulit terdeteksi jika penderita tidak memeriksa diri ke dokter yang akan menggunakan alat-alat khusus.
Pengalaman itu pula yang dirasakan Emily Foreman. Wanita berusia 21 tahun ini tak pernah menyangka jika sebuah jerawat yang tumbuh di belakang telinga kanannya ternyata bibit dari sebuah kanker langka yang tak bisa disembuhkan.
Mengutip laman thesun, Emily baru pertama kali menyadari adanya jerawat itu di awal tahun 2018 lalu. Jerawat itu muncul di belakang telinga kanannya.
Menganggapnya hanya jerawat biasa, Emily tak terlalu menghiraukannya. Hingga dia mulai menyasari jika bejolan yang awalnya dikira jerawat itu semakin membesar.
" Benjolan itu bertambah dua kali lipat dan telingaku mulai mati rasa sehingga aku memutuskan untuk pergi ke dokter umum setempat," ujarnya dikutip dari The Sun.
Emily pun memutuskan menjalani pemindaian dan biopsi. Ternyata benjolan itu merupakan large cell undifferentiated carcinomas atau karsinoma sel besar, yaitu kanker paru-paru ganas yang tidak menunjukkan diferensiasi skuamosa, kelenjar, atau sel kecil (neuroendokrin) pada bagian jaringan yang diserang kanker.
Operasi besar pun ia jalani. Kurang lebih selama 6 jam, hingga akhirnya tim dokter berhasil untuk mengangkat karsinomanya itu.

Namun prosedur itu pun bukan tanpa risiko. Usai menjalani operasi, wajah Emily bagian kanan lumpuh. Ia pun harus melakukan beberapa pengobatan dan terapi.
Pada Februari tahun ini, pemeriksaan rutinnya menunjukkan kanker telah menyebar dan banyak lesi di kedua paru-parunya. Operasi atau radiasi adalah pilihan pengobatan terbaik untuk kankernya.
Imunoterapi juga bisa dijadikan pilihan pengobatan, namun Emily harus mengeluarkan biaya hingga 860 juta rupiah untuk perawatan 10 minggu.
" Kami melakukan apa yang kami bisa. Kami akan menjual rumah dan tinggal di tenda jika terpaksa," kata sang ibu, Sarah.
Emily berharap untuk memulai pengobatan segera dan menemukan bahwa lesi di paru-parunya telah sembuh.
" Jika tubuh saya merespons imunoterapi dengan baik maka ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan tanpa batas waktu," ungkap Emily.
(Sah, Sumber: TheSun)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya