Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi/Shutterstock
Dream - Ramadan bulan penuh berkah dan kebaikan, amal ibadah yang dilakukan di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Pintu surga pun terbuka lebar buat umat Muslim yang menaati segala ajaran serta menjauhi larangan Allah SWT.
Tapi, bagaimana dengan amalan seseorang yang ternyata harus tutup usia di bulan suci Ramadan? Bagaimana juga keutamaan tentang itu?
Beberapa firman Allah dalam Alquran telah menjelaskan sebab manusia masuk surga adalah dari amal kebajikan mereka.
Seperti yang disebutkan dalam Surat Az Zuhruf ayat 72.
Itulah surga yang diberikan kepada kalian disebabkan amal yang telah kalian kerjakan.
Selain itu, juga dijelaskan dalam Surat Al A’raf ayat 43.
Mereka dipanggil, " Itulah surga yang diberikan keapda kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.”

Penjelasan itu menjawab kemungkinan, waktu yang mulia maupun tempat yang mulia tidak menjamin penghuninya masuk surga.
Mengenai hal ini, kita dapat merujuk pada pendapat Imam Malik dalam kitabnya Al Mutwatha'.
Dalam kitab itu, Imam Malik menukil kisah ketika Rasulullah Muhammad SAW mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi radliyallohu ‘anhuma, sehingga keduanya menjadi keluarga yang sangat dekat.
Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Said, bawha Abu Darda pernah menulis surat kepada Salman al-Farisi, yang isinya meminta Salman untuk pindah dan tinggal di tanah yang disucikan (negri Syam).
“ Sesungguhnya tanah suci itu tidak mensucikan siapapun. Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.”
Sahabat Dream perlu tahu, dulu Makkah dihuni oleh kaum musyrikin. Mereka yang tinggal di sana bukan berarti menjadi lebih mulia.
Sama halnya dengan orang yang meninggal di bulan Ramadan, tidak semua dijamin husnul khotimah. Hanya amalan mereka di dunia yang menjadi jaminan apakah kematiannya husnul khotimah atau suul khotimah.
Berbeda halnya jika meninggal di bulan Ramadan dalam keadaan berpuasa. Meninggal dalam keadaan berpuasa berarti ia sedang mengerjakan amal ibadah.
Hal ini juga dijealskan dari Hudzaifah Radliyallohu ‘anhu dalam hadis riwayat Imam Ahmad.
Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang yang meninggal dalam kondisi beramal.
" Siapa yang menyatakan Laa ilaha illallah ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan ikrar ini, maka dia masuk surga. Siapa yang berpuasa dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini, maka dia masuk surga. Siapa yang sedekah dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hiudpnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga.”
(HR. Ahmad, dan disahihkan oleh Syuaib al-Arnauth)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya