Bayi Debora Meninggal di RS Kalideres karena Biaya

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Minggu, 10 September 2017 18:31
Bayi Debora Meninggal di RS Kalideres karena Biaya
Begini ceritanya.

Dream – Akhir-akhir ini, kasus meninggalnya bayi bernama Tiara Debora Simanjorang, menjadi perhatian publik. Bayi mungil ini meninggal dunia di IGD RS Mitra Keluarga Kalideres pada karena terlambat mendapatkan perawatan pada Minggu 3 September 2017.

Dilansir dari Merdeka.com, Minggu 9 September 2017, kisah ini bermula dari bayi yang berumur empat bulan ini dibawa ke ruang PICU RS Mitra Keluarga oleh kedua orang tua Debora. Ketika hendak dirawat di unit PICU, ibu Debora, Henny, disodori daftar biaya Rp19,8 juta. Dia tak punya uang sebanyak itu. Yang ada hanyalah Rp5 juta.

Henny memohon kepada rumah sakit untuk menyelamatkan anaknya dengan uang ini. Sisa uang akan diberikan setelahnya. Permintaan ini ditolak oleh rumah sakit.

Tak kunjung mendapatkan perawatan intensif, tubuh mungil Debora sudah tak kuat. Bayi mungil itu pun mengembuskan napas terakhirnya.

Kisah memilukan ini diunggah oleh pengguna Facebook bernama Birgaldo Sinaga dan menjadi viral di jejaring sosial.

Tanggapan Rumah Sakit

Menanggapi kabar ini, RS Mitra Keluarga Kalideres memberikan pernyataan klarifikasi. Manajemen rumah sakit mengatakan pasien datang ke IGD Mitra Keluarga Kalideres pada 3 September 2017 pukul 03.40 dalam keadaan tak sadar dan tubuh membiru. Debora tercatat lahir prematur serta memliki riwayat penyakit jantung bawaan dan gizi kurang baik.

Hasil pemeriksaan Debora menunjukkan bayi ini mengalami napas berat dan dalam, banyak dahak, saturasi oksigen rendah, dan detak nadi 60 kali per menit. Suhu badan mencapai 39 derajat celcius.

Pasien segera dilakukan tindak penyelamatan nyawa berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang nafas ), lalu dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang nafas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak (nebulizer).

Pemeriksaan laboratorium dan radiologi segera dilakukan.

Kondisi setelah dilakukan intubasi lebih membaik, sianosis (kebiruan) berkurang, saturasi oksigen membaik, walaupun kondisi pasien masih sangat kritis. Kondisi pasien dijelaskan kepada Ibu pasien, dan dianjurkan untuk penanganan selanjutnya di ruang khusus ICU.

Selanjutnya, ibu pasien mengurus di bagian administrasi, dijelaskan oleh petugas tentang biaya rawat inap ruang khusus ICU, tetapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan. Sang ibu kembali ke IGD, dokter IGD menanyakan kepesertaan BPJS kepada ibu pasien, ibu pasien menyatakan punya kartu BPJS, maka dokter menawarkan kepada ibu pasien untuk dibantu merujuk ke RS yang bekerjasama dengan BPJS, demi memandang efisiensi dan efektivitas biaya perawatan pasien.Ibu pasien menyetujui.

Dokter membuat surat rujukan dan kemudian pihak RS berusaha menghubungi beberapa RS yang merupakan mitra BPJS. Dalam proses pencarian RS tersebut baik keluarga pasien maupun pihak RS kesulitan mendapatkan tempat.

Akhirnya pada jam 09.15 keluarga pasien mendapatkan tempat di salah satu RS yang bekerja sama dengan BPJS. Dokter RS tersebut menelpon dokter kami menanyakan kondisi pasien. Sementara berkomunikasi antar dokter, perawat yang menjaga dan memonitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien tiba-tiba memburuk.

Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien. 

Beri Komentar