Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: The Vocket
Dream - Seringkali kita melihat efek khusus penata rias atau yang lebih dikenal dengan makeup SFX melalui film atau drama. Efek ini memperlihatkan luka yang dialami para aktor atau aktris yang terlihat seperti cidera nyata.
Tehnik make up itu sama sekali tak mudah dilakukan. Butuh pelatihan dan keterampilan tingkat tinggi agar makeup yang dikenakan terlihat realistis.
Namun siapa sangka, seorang bocah 10 tahun sudah memiliki keahlian ini. Dia bahkan sudah menghasilkan uang dengan 'menggambar' luka pada tubuh temannya.
Yang mengejutkan, bocah itu hanya bermodalnya pensil warna dan magic color untuk memperlihatkan skill-nya.
Bakat bocah itu viral usai diposting ke twitter oleh akun twitter @atifahhhhhh.
Anak sedara aku, Iman buat servis lukis luka kat sekolah. Pandai budak ni cari duit 😅 Jumlah terkumpul RM3 😂 pic.twitter.com/3eEwH9f9h3
— P a P a (@atifahhhhhh)18 Juli 2019
Kini bersama dua rekan sekolahnya, bocah bernama Nurul Iman Syuhadah memberikan tarif atas karya yang ia buat.
Setiap makeup memiliki harga berbeda tergantung jenis keseriusan luka.

Aspirasi menjadi dokter memotivasi minat Nurur Iman untuk mempelajari tehnik-tehnik melukis berbagai luka.
Hebatnya bocah 10 tahun ini hanya mempelajari semuanya hanya dari video di facebook saja.
(Sah, The Vocket)
Dream - Gubuk itu sudah reot. Tiangnya bahkan tak lagi berdiri sejajar. Atap dari daun rumbia pun sudah tak utuh. Setengahnya sudah rontok akibat lapuk termakan usia.
Dinding dari papan pun tak terpasang rapi. Jarak antar papan merenggang, bercelah seukuran tiga jari. Sehingga, apapun yang dilakukan di dalam gubuk itu dengan mudah terlihat oleh siapapun yang berada di luar.
Di gubuk selebar tiga depa itulah Nurliyah menghabiskan hari-harinya. Perempuanberusia 37 tahun ini sudah hidup 14 tahun di Desa Asan Kumbang, Kecamatan Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, itu.
Tak ada listrik, begitu juga televisi. Penerangan satu-satunya ketika malam tiba hanyalah lampu minyak biasa. Namun warga miskin itu tetap semangat menjalani hidup. Bersama Irhana, anak semata wayang yang berusia 15 tahun, Nurliyah mencoba untuk tetap tegar.
" Rumah ini dibangun warga 14 tahun lalu. Namun sekarang sudah reot,” kata Irhana dikutip Dream dari Atjeh Post.
" Sekarang lagi musim hujan. Jadi kardus itu basah akibat hujan. Biasanya kardus ini mamak gunakan untuk menutup celah dinding jika malam tiba," tambah dia sambil menunjuk tumpukan kardus basah di gubuknya, Senin kemarin.
Di dekat pintu, beberapa helai baju yang dijemur terlihat basah. " Ini juga basah karena hujan semalam. Atap rumah setengah memang sudah jatuh," ujarnya pelan.
Menurut Irhana, rumahnya itu digunakan sebagai kamar tidur, dapur, tempat belajar, sekaligus untuk salat. " Kalau hujan ya bergeser ke sudut lain. Kalau terlalu deras ya tunggu di rumah tetangga atau emperan toko orang," kata siswi SMP Ulee Glee ini.
Biarpun dengan keterbatasan ekonomi, Irhana mengaku tetap bersekolah untuk masa depannya. Dia termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat beasiswa pendidikan.
" Mamak biasanya mengemis di jalanan. Sedangkan Bapak tidak tinggal di sini karena sudah lama cerai," katanya.
Irhana berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan bantuan rumah layak huni kepada dia dan orangtuanya agar tak lagi basah kuyup saat hujan turun.
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, dan rombongan bertandang ke rumah Irhana pada Senin sore, 22 September 2014. Setiba di sana, raut muka orang nomor satu di Aceh itu tampak sedih. Doto Zaini –sapaan Zaini Abdullah– beberapa kali mengamati gubuk tersebut dari arah dekat. " Ini harus dibantu. Harus," ujarnya berulang-ulang.
Kedatangan Zaini ke Desa Asan Kumbang membuat geger warga. Dalam sekejap rumah Irhana dipenuhi oleh warga. Karena takut rumah tersebut roboh, Doto Zaini memilih berdialog di jalan kampung.
" Mohon dibantu Pak Gubernur. Mamaknya Irhana sedikit stres. Kasihan gadis itu tinggal di gubuk seperti ini," ujar warga desa setempat.
Sedangkan Zaini hanya mengangguk ringan. Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur Zaini juga menyerahkan santunan melalui Irhana. " Tolong diberikan juga beasiswa kepada anak ini," ujarnya lagi kepada beberapa kepala SKPA yang menyertai rombongan.
Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya Aceh, Hasanuddin, mengatakan akan memprioritaskan bantuan rumah dhuafa untuk Irhana dan orang tuanya pada APBA 2015. " Namun syaratnya harus ada keterangan surat kepemilikan tanah dari desa. Rumah yang akan dibangun bertipe 36," ujarnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya