Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Berselang 16 Tahun, Pasangan Pilot Yeti Airlines Tewas Dengan Cara Yang Sama
Dream - Berikut ini kisah pilu pasangan pilot dan co-pilot yang sama-sama meninggal dalam kecelakaan pesawat yang dikemudikannya.
Pada tahun 2010, Anju Khatiwada bergabung dengan Yeti Airlines Nepal. Khatiwada mengikuti jejak suaminya, Dipak Pokhrel.
Dipak juga pilot Yeti Airlines Nepal namun meninggal dalam kecelakaan empat tahun sebelumnya. Saat itu pesawat penumpang kecil yang diterbangkannya jatuh beberapa menit sebelum mendarat.
17 tahun kemudian, tepatnya pada Minggu 15 Januari 2023, Khatiwada yang menjadi co-pilot Yeti Airlines 691 juga meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat.
Wanita 44 tahun itu menjadi salah satu dari seluruh korban tewas jatuhnya Yeti Airlines 691 dekat Kota Pokhara.
Pesawat yang melayani rute Kathmandu-Pokhara tersebut mengalami kecelakaan fatal dan menewaskan sedikitnya 68 orang.
Jatuhnya Yeti Airlines 691 tersebut merupakan kecelakaan pesawat paling mematikan di negara Himalaya itu dalam tiga dekade.
Sejauh ini tidak ada korban selamat yang ditemukan di antara 72 orang yang dilaporkan berada dalam penerbangan tersebut.
" Suaminya, Dipak Pokhrel, meninggal pada 2006 dalam kecelakaan pesawat Twin Otter milik Yeti Airlines di Jumla," kata Sudarshan Bartaula, juru bicara Yeti Airlines.
" Dia (Kathiwada) mendapatkan pelatihan pilot dengan biaya yang didapat dari asuransi setelah kematian suaminya," sambung Bartaula.
Seorang co-pilot wanita dengan jam terbang lebih dari 6.400 jam, Khatiwada sebelumnya telah menerbangi rute wisata populer dari ibu kota, Kathmandu, ke kota terbesar kedua di negara itu, Pokhara.
Jenazah Kathiwada belum teridentifikasi tetapi dia dikhawatirkan tewas. Sementara jenazah Kamal K.C., kapten pesawat yang memiliki jam terbang lebih dari 21.900 jam, telah ditemukan dan diidentifikasi.
Pesawat ATR-72 yang dikemudikan Khatiwada terbang zig zag sebelum jatuh di ngarai dekat bandara Pokhara dan terbakar, menurut laporan saksi mata dan video kecelakaan yang diposting di media sosial.
Rekaman suara kokpit dan data penerbangan pesawat, yang dapat menguak penyebab jatuhnya Yeti Airlines 691, ditemukan pada hari Senin.
Sumber: Asia One
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam