Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Foto masyarakat yang berswafoto ria di lokasi bencana tsunami Anyer, Banten beberapa waktu lalu menjadi sorotan media asing. Di tengah nestapa yang dialami korban, masyarakat berfoto dengan latar belakang lokasi bencana.
Selfie, nama beken tren swafoto memang berkembang seiring teknologi Ponsel yang makin canggih. Sayangnya, perkembangan ada sebagian orang yang sepertinya mengabaikan aspek empati sosial.
Perilaku semacam ini sebetulnya sudah disoroti ulama sejak dulu. Lebih pada ekspresi kebahagiaan yang disalurkan tidak pada tempatnya.
Dikutip dari NU Online, sudah menjadi semacam keharusan bagi seorang Muslim untuk berempati kepada saudaranya yang tertimpa kemalangan dan bencana. Bahkan dianjurkan untuk turut serta membantu meringankan beban saudaranya.
Hal ini seperti disabdakan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
" Sungguh, hubungan orang yang beriman satu sama lain laiknya sebuah bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain."
Bencana menghadirkan suasana duka bagi semua orang, terutama pada mereka yang mengalaminya. Tidak sepantasnya seorang Muslim justru menunjukkan kebahagiaan sementara saudaranya tengah dirundung kesedihan.
Syeikh Al Munawi membahas perilaku ini dalam kitab At Taysir bi Syarhil Jami'is Shaghir.
" Perkataan (Perumpamaan orang yang beriman) dengan keimanan yang sempurna (dalam kasih sayang) mawadah (kerahiman) belas kasih (kelembutan) satu sama lain (serupa dengan) satu (tubuh) dalam kaitannya dengan seluruh anggota tubuh dalam hal keletihan dan kesenangan. (Jika menderita) mengalami sakit (satu dari anggota tubuh itu, niscaya semua anggota tubuh) angota tubuh lainnya (ikut merasakan derita dengan terjaga) karena sakit menyebabkan seseorang sulit tidur (dan demam) karena kondisi terjaga akibat sakit dapat membuat seseorang demam. Meski lafalnya bersifat informatif, makna hadis ini bersifat imperatif. Ketika seseorang menderita sakit pada salah satu anggota tubuhnya, maka nyerinya menjalar ke seluruh tubuh. Sama halnya dengan orang yang beriman. Mereka seharusnya seperti satu jiwa. Bila musibah menimpa salah satu dari mereka, maka sisanya yang lain merasa bimbang dan bergerak untuk mengatasinya."
Perilaku orang yang berswafoto di lokasi bencana dapat diibaratkan sedang berbahagia di tengah kesedihan saudaranya. Hal ini sangat berkaitan dengan adab dalam menyikapi bencana.
Sangat dianjurkan untuk menghindari aktivitas semacam ini dan lebih baik turut serta membantu memulihkan kondisi baik dengan bantuan fisik maupun doa.
Sumber: NU Online.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya