4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Bimbel Eye Level (Foto: Instagram Eye Level)
Dream - Lembaga pendidikan formal ataupun informal belum diperkenankan beroperasi secara tatap muka. Kondisi ini memaksa para siswa belajar dari rumah atau daring.
Masa pandemi Covid-19 berkepanjangan ini juga membuat lembaga bimbingan belajar atau les dilakukan dari rumah.
Tidak terkecuali Eye Level, lembaga pendidikan asal Korea Selatan yang fokus di Matematika dan Bahasa Inggris, saat ini pembelajaran para siswa peserta bimbel dilakukan dari rumah alias online.
" Saat ini bimbel dilakukan dengan online karena belum memungkinkan dan belum ada tanda-tanda akan kembali offline atau tatap muka," ujar CEO Daekyo Indonesia, Cha Seong Hoon dalam keterangan tertulis, Senin 22 Maret 2021.
Cha Seong Hoon mengatakan, meski pembelajaran dilakukan online, namun tidak mengurangi kualitas pembelajaran yang dilakukan. Penyesuaian dilakukan dengan tetap mempraktekkan cara-cara belajar latihan berpikir kritis matematika.

Pendidikan di Eye Level tetap mengusung kemampuan berpikir kritis (critical thinking), untuk membantu anak berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah melalui latihan soal.
" Ada beberapa fokus dalam latihan berpikir kritis matematika, misalnya pola hubungan, geometri, pengukuran, pemecahan soal, serta penalaran," kata Cha Seong Hoon.
Misalnya untuk pola dan hubungan, siswa akan diajak mengembangkan pengetahuan dasar fungsi dengan mempelajari berbagai pola untuk objek, bilangan dan bentuk.
Sementara untuk pemecahan soal, siswa akan belajar delapan strategi pemecahan soal, mulai dari pengenalan pola, analisis data, menggambar diagram, uji coba, dan sebagainya.

Pola pendekatan yang berbeda dalam belajar matematika ini diharapkan dapat membuat anak-anak tidak menganggap mata pelajaran ini sebagai momok.
Dikatakannya, selama ini banyak pelajar di Indonesia, merasa takut kepada mata pelajaran Matematika. Seperti terlihat dari hasil Survei Programme for International Student Assessment (PISA).
Studi yang dilakukan oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terhadap anak usia 15 tahun pada 2015, menempatkan kemampuan matematika pelajar Indonesia ada di peringkat ke-63 dari 72 negara.
Peringkat itu terpaut jauh dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam di peringkat ke-12 dan Singapura di peringkat pertama.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
