Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
RAP (Merdeka.com)
Dream - RAP, usianya memang baru sebelas tahun. Namun, berat badan bocah asal Kampung Blendung, Desa Kedungpengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, itu sudah lebih satu kuintal. Bobotnya 115 kilogram.
Saat dilahirkan dulu, bobot RAP memang terbilang jumbo, 4,2 kilogram. Namun berat badannya justru menyusut 1,5 kilogram saat berusia tiga bulan.
Karena itulah RAP dibawa ke puskesmas. Karena dianggap kekurangan gizi, RAP kemudian diberikan susu formula oleh puskesmas.
Sejak itu, RAP rutin minum susu formula. Bobotnya normal saat berusia dua tahun, yaitu 12 kilogram.
" Setelah susunya diminum, umur dua tahun jadi 12 kilogram. Terus saya berhentiin susunya karena sudah normal berat badannya," kata sang ibu, Punih, dikutip dari merdeka.com.
Nafsu makan RAP justru meningkat setelah berhenti minum susu formula. Terkadang dia juga masih meminta dibuatkan susu.
Untuk mengalihkan perhatian RAP pada susu formula, orangtuanya membelikan beragam jajanan, mulai es hingga mi instan.
" Ya kalau enggak dibeliin jajanan nangis. Apa aja dimakan, kebanyakan jajanan," kata sang ayah, Samin.
Namun, selera makan RAP semakin menjadi. Dia selalu minta dibelikan jajanan hingga orangtuanya kewalahan. Jika tak dibelikan jajanan, pasti menangis.
" Hobi jajan, yang dimakan seperti mi instan, es dan ciki, cemilan. Kalau makan mi bisa lima kali, lebih banyak es. Enggak berhenti-berhenti, lagi tidur juga makan aja maunya, sambil merem sambil ngunyah," ungkap Samin.
Kini, RAP hanya bisa duduk atau berbaring di rumah, tak bisa leluasa beraktivitas seperti anak-anak seusianya karena berat badannya.
" Ya karena badannya gede, jadi susah gerak-gerak. Jadi keseringan selonjoran aja," tutur Samin.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya