Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Haji (http://www.theatlantic.com/)
Dream - Ayat-ayat Quran melantun syahdu Minggu pagi itu. Hari itu 7 September 2014. Ini di Balai Desa. Karangwelas Kidul, Banyumas, Jawa Tengah. Puluhan penduduk bertakzim di situ. Penuh kyusuk melafalkan ayat-ayat Alquran.
Segenap doa pagi itu, dilantunkan untuk mereka, tiga belas warga desa, yang sebentar lagi berangkat ke tanah suci. Menunaikan ibadah haji. Dan, sebagaimana di banyak tempat lain, kepergian para calon haji dilepas handai taulan dengan doa.
Sesudah sekian lama, lantunan ayat-ayat itu semakin pelan. Kitab-kitab Quran yang dibuka itu mulai banyak yang ditutup. Sampai akhirnya tak ada lagi doa yang terdengar. Selesai sudah.
Lalu berpidatolah Warsono. Pria yang didaulat warga desa menjadi Ketua Panitia Pelepasan Calon Haji itu, bicara penuh mengesankan. " Saat ini ada 13 calon haji yang akan berangkat ke tanah suci. Salah satunya Ibu Sariyah yang berangkat sendiri," kata Warsono dengan nada menyanjung. Warga yang berkumpul di Balai Desa itu berdecak kagum.
Sariyah, yang disanjung Warsono dalam pidatonya itu, adalah seorang janda berusia 52 tahun. Dan dia memang pantas dipuji. Syariah adalah panduan bagi siapa saja yang berjibaku dengan hidup yang sulit. Lalu menang. Menabung rejeki. Demi menunaikan kewajiban rukun kelima.
Semua warga tahu, demi menyambung hidup keluarga, Syariah berjualan bubur. Dan dia tentu saja bukan lakon dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji, yang digemari para Ibu itu. Sebab hidupnya bukanlah drama. Bukan sandiwara. Bukan fiksi belaka.
Jika pagi itu Syariah duduk di Balai Desa dan siap berangkat ke Mekah, itu karena dia sudah menyisihkan uang selama 24 tahun. Selama itu pula, dia keras bekerja. Lebih dari orang umum. Dari siang hingga petang Sariyah menjajakan jualannya melintasi tiga desa.
Penghasilannya tak menentu. Dari bubur candil seharga Rp 1.500, Sariyah kadang bisa membawa pulang untung Rp 5.000-7.000. Namun sejak memakai sepeda onthel, situasi sedikit membaik. Sariyah bisa mengantongi Rp 30 ribu.
Dari pendapatan sejumlah itu, Rp 15 ribu sudah dipotong untuk biaya makan keluarga dan sekolah anaknya. Sisanya dibenamkan ke tabungan. Tabungan itulah yang kini mengantarkan wanita ini bertamu ke rumah Allah di negeri yang diimpikan, Arab Saudi.
Sariyah menjadi bagian dari 168.800 warga Indonesia, yang pada tahun ini berkumpul bersama 2 juta muslim dunia di Tanah Suci Mekah. Menunaikan ibadah haji demi menyempurnakan diri sebagai seorang muslim.
*****
Pergi haji memang menjadi impian seluruh umat Muslim. Dari negara manapun. Dari suku apapun. Kesempatan yang tidak semua orang bisa menyesap. Sebab, meski berkantong tebal, belum tentu panggilan berhaji mengetuk relung hati yang paling dalam.
Dari Indonesia puluhan ribu orang bergegas ke sana. Dan saban tahun, Kementerian Agama selalu disibukan dengan ibadah naik haji ini. Peristiwa besar yang menguras pikiran dan tenaga mereka yang mengurus.
Sayang, sesuatu yang kurang menyenangkan mewarnai pelaksanaan haji Indonesia pada tahun ini. Orang nomor satu di jajaran Kementerian Agama (Kemenag) tersangkut masalah. Hari kelam bagi Kemenag itu datang pada Kamis, 22 Mei 2014.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Suryadharma Ali (SDA), Menteri Agama, sebagai tersangka. Dia dijerat dengan kasus dugaan korupsi penyelenggaraan haji. Para penyidik komisi itu menduga dana pemondokan, katering, dan transportasi digelembungkan dari yang seharusnya dilunasi.
" Katering, pemondokan, transportasi. Ada dana-dana yang dibayarkan tidak sesuai. Kemahalan," ujar Wakil Ketua KPK Zulkarnain menyebut alasan penetapan status tersangka atas Surya Dharma Ali.
Tak pelak, penetapan ini memukul kepercayaan masyarakat pada institusi kementerian pengawal kehidupan beragama di Tanah Air itu. Bagi para calon haji, hati seolah menolak untuk percaya. Uang haji yang dititipkan ternyata diduga “ dipermainkan”.
Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono cepat bertindak. Surya Dharma Ali diganti. Lukman Hakim Saifuddin, yang juga politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) seperti Surya Dharma, diangkat menjadi imam baru kantor yang berlokasi di Lapangan Banteng Barat, Jakarta itu.
Dan tak ada waktu belajar. Mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini harus langsung menyingsingkan baju. Daftar pekerjaan sudah menunggu. Ibadah haji salah satunya.
Sebagai penerima kuota haji terbesar, Indonesia harus mempersiapkan benar ritual haji ini. Sebanyak 168.800 penduduk Indonesia, dari berbagai latar belakang, melawat ke Arab Saudi. Tugas negara untuk menjaga warganya sejak keberangkatan hingga pemulangan.
Di tengah kasus dugaan korupsi, 1 September 2014, kelompok haji pertama bertolak ke Tanah Suci. " Tidak banyak orang memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Diberi kesempatan sebagai tamu Allah adalah bentuk kehormatan paling mulia dan karena itu harus disyukuri,” pesan Lukman Hakim saat melepas kelompok terbang (Kloter) I Provinsi DKI Jakarta dari Embakasi Halim Perdana Kusuma.
*****
Sebaik-baiknya persiapan, akan selalu ada lubang yang tak terlihat. Di tengah masih mengalirnya arus calon haji ke Tanah Suci, panitia haji sudah menerima kabar buruk.
Belum lagi masuk tanah Suci. Hampir saja, tujuh jamaah haji Kloter 7 Lombok dideportasi dari Jeddah, Arab Saudi. Mereka tertahan satu jam di Bandara Internasional King Abdul Aziz pada Rabu, 10 September yang lalu. Panik melanda Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Jeddah.
Usut punya usut, ketujuh jamaah haji itu ternyata merobek halaman pertama paspornya. Halaman berisi identitas dan foto pemilik paspor ini dirobek dalam penerbangan menuju Jeddah.
Beruntung, PPIH Arab Saudi Daker Jeddah bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) segera menyelesaikannya dengan pihak imigrasi setempat. Masalah ini beres.
Selesai satu persoalan, muncul masalah baru. Sebanyak 17 ribu ribu jamaah haji ternyata ditempatkan di luar Markaziyyah. Jarak tiga Kilometer (Km) menuju Kabah tentu saja tidak mudah. Dengan cuaca yang sangat terik, beban jamaah sepuh bertambah berat.
Situasi ini terjadi, “ Karena Majmuah atau Konsorsium penyedia hotel jamaah haji melakukan tindakan wanprestasi dengan Pemerintah Indonesia. Majmuah pelanggar perjanjian harus membayar denda sebanyak 300 riyal ke jamaah," tegas Lukman Hakim dalam perbincangannya dengan reporter Dream.co.id, Kusmiyati.
Jauhnya letak pemondokan jamaah haji Indonesia memang telah lama menjadi sorotan. Pemondokan terjauh yang ditempuh calon haji Indonesia, satu kilometer lebih jauh dari jarak yang ditempuh jemaah Malaysia. Jarak yang tentunya menguras tenaga jamaah.
Permasalahan yang dihadapi Lukman Hakim bukan itu saja. Masih ada persoalan jamaah haji non-kuota. Yakni Jemaah haji yang berangkat di luar rombongan dengan mengandalkan fasilitas visa yang diterbitkan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Biayanya sungguh mencekik. Tarif Rp 80 juta sampai 120 juta harus dikeluarkan, dua sampai tiga kali lipat dari biaya normal.
Belum lagi Lukman Hakim dan jamaah haji harus menghadapi pertarungan nyawa. Kantor Urusan Haji Daerah Mekah Pada tanggal 2 Okrober lalusempat terbakar. Lukman Hakim dan 100 lebih jemaah haji yang menginap di kantor itu harus dievakuasi.
Kabar dukapun semakin banyak didengar keluarga calon haji di Tanai Air. Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu hingga Rabu, (15/10/2014) pukul 00.30 waktu Arab Saudi mencatat 192 jamaah wafat di Tanah Suci.
Belum lagi jumlah jamaah sakit sebanyak 225 jamaah yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) dan Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI).
Dari sekian banyak kekurangan, tamparan cukup keras justru bersumber dari makanan. Bagaimana tidak. Jamaah haji yang membutuhkan asupan sehat justru disuguhi makanan basi. Tak pelak, sanksi keras langsung dilayangkan Kemenag.
Visitor Taste, perusahaan catering pemberi makanan yang dituduh basi itu, akan ditindak oleh pemerintah. “ Nantinya kalau masih seperti ini pemerintah harus memberikan sanksi dengan mengalihkan kontrak kepada perusahaan katering yang lain,” tegas Lukman Hakim.
*****
Di tengah sejumlah kekurangan itu, toh Inspektorat Jenderal, pengawas di Kemenag, mengapresiasi positif pelaksanaan haji 2014 ini. Tanpa sungkan, Mochammad Yasin, mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai penyelenggaraan tahun ini memang lebih baik dari tahun-tahun sesudah.
“ Perubahan sistem harus bertahap, tahunan bukan bulanan, tidak bisa bim salabim 2-3 bulan selesai,” katanya.
Yasin menegaskan bahwa memang masih banyak lubang-lubang yang bisa dimanfaatkan pencuri kesempatan. Besarnya anggaran hingga triliunan rupiah, alokasi anggaran setiap kegiatan, hingga pengadaan barang dan jasa belum tentu dilaksanakan seturut aturan.
Kemenag juga masih harus mengatasi proses pengadaan yang tidak semua dilaksanakan secara elektronik (e-procurement). Belum semua SDM berintegritas. Belum semua kegiatan memiliki payung hukum khusus. Serta belum semua kegiatan mempunya standar prosedur operasional dan peraturan yang memayungi.
Kurdi Mustofa, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) punya penilaian berbeda. Menurutnya, pelaksanaan haji tidak perlu dijustifikasi sukses atau tidak sukses, baik atau tidak baik.
Alasannya, tidak ada kriteria tertentu yang dapat mengkategorikan satu pelaksanaan pelayanan haji sukses atau tidak. “ Tahun ini sekitar 160 ribu jamaah haji, bukan perkara mudah loh mengurus keberangkatan orang sebanyak itu,” ujar Kurdi.
Secara umum, diakui Kurdi, pelaksanaan ibadah haji 2014 memang sudah berjalan baik. Namun pencapaian ini dengan sejumlah catatan.
Terlepas dari berbagai kekurangan, tekad warga Indonesia menunaikan ibadah suci ini patut disyukuri. Sariyah, sebagaimana juga banyak warya lain, yang telah menyisihkan uang tabungan selama 24 tahun memang harus dilayani dengan baik. Sariyah mungkin tak menginginkan layanan kelas VIP. Cukup kenyamanan dan ketenangan untuk melengkapi keislamannya lewat berhaji.
Laporan: Kusmiyati dan Ervina
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya