Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Nakes Menangani Pasien Covid-19 (Foto: Merdeka.com)
Dream - Meningkatnya kasus harian Covid-19 di DKI Jakarta membuat tenaga kesahatan (nakes) kewalahan. Seperti yang diceritakan salah seorang perawat di salah satu RSUD kawasan Jakarta Utara.
Ia menceritakan, RSUD tempatnya bekerja sudah menerima banyak pasien corona. Akibatnya, beberapa pasien terpaksa dirawat di lorong rumah sakit karena tidak ada lagi tempat tidur yang tersedia.
" Jujur sekarang RS penuh banget sampai aku jaga di IGD pasien sampai duduk di kursi karena enggak ada bed lagi, pasien terpaksa beberapa kita taruh di lorong-lorong karena ruangan juga sudah penuh, atau bahkan di depan meja kita isinya pasien," jelas perawat berinisial O, dikutip dari pojoksatu.id, Rabu 15 September 2020.
" Kalau pasien sesak kita langsung sibuk kocar-kacir nyari tabung oksigen. Dan jujur kita juga kekurangan tenaga karena teman kita banyak yang positif harus diisolasi atau dirawat di RS," lanjutnya.
O pun bercerita kisah haru yang ia rasakan, saat pasien mulai mengalami sesak napas. Ia hanya bisa membantu pasien berkomunikasi dengan keluarga via telepon. Sayangnya, setelah satu jam, pasien lantas mengalami henti napas dan tidak berhasil melawan Covid-19.
“ Pengalaman selama ini sudah pasti takut tapi harus dihadapi, sedih sudah pasti karena tiap hari kerja ngeliat pasien-pasien datang keadaan masih sadar tapi cepat banget perburukan atau penurunan, bahkan proses pasien dari baru dateng terus meninggal itu cepat baget karena sesak berat,” tambah O.
O menambahkan, kisah salah seorang rekannya yang harus mengalami memar-memar, akibat kewalahan menangani pasien corona yang terus meningkat tiap harinya. Mulai dari menangani pasien Corona gejala ringan hingga berat.
O bahkan merasa bingung mendapati seseorang yang masih menilai virus corona adalah teori konspirasi. Nyatanya, ia dan rekan-rekannya harus menghadapi bahaya tiap hari.

Berbeda dengan cerita O, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19, Airlangga Hartanto, beberapa waktu lalu memberikan pernyataan terkait isu penuhnya RS di Jakarta.
" Pemerintah tegaskan tidak ada kapasitas kesehatan yang terbatas. Pemerintah punya dana cukup dan akan terus tambah kapasitas tempat tidur sesuai kebutuhan seluruh daerah, termasuk DKI Jakarta akan dimaksimalkan pemerintah,” katanya saat konferensi pers, Kamis 10 September 2020 lalu.
Airlangga juga menyampaikan, sistem kesehatan Indonesia itu mampu dalam menghadapi pandemi saat ini.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memperkirakan kapasistas rumah sakit di DKI Jakarta akan penuh di minggu kedua Oktober jika langkah penanganan Covid-19 tidak efektif.
“ Melihat angka kematian, keterpakain ruang isolasi dan rumah sakit khusus penanganan Covid-19, Corona di Jakarta dalam kondisi darurat. Kita terpaksa menarik rem darurat dan Kembali ke PSBB seperti pada masa awal Pandemi,” kata Anies.
Sumber: pojoksatu.id
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya