Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli
5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
Cetak Rekor Mahasiswa Abadi, Pria Ini Akhirnya Dapat Gelar Sarjana Setelah 54 Tahun Kuliah (Business Insider)
Dream - Umumnya gelar sarjana di perguruan tinggi diperoleh setelah menjalani empat tahun kuliah. Namun kakek 71 tahun ini meraih gelar sarjananya setelah kuliah setengah abad lebih.
Kakek itu adalah Arthur Ross. Pria yang mendapat julukan mahasiswa terlelet di dunia itu akhirnya menyelesaikan pendidikannya di Universitas British Columbia (UBC) setelah 54 tahun.
Dikutip dari BBC, Ross tercatat dua tahun lebih lama dari pemegang Rekor Dunia Guinness yaitu Robert FP Cronin yang meraih gelar biologinya di Universitas Princeton pada tahun 1948 dan lulus tahun 2000.
Meski begitu, Ross mengatakan lulus tepat waktu memang bukan targetnya. Menurut dia, yang paling penting adalah pengetahuan yang bisa diperoleh di kelas.
Keinginannya untuk belajar yang menginspirasi pria itu menyelesaikan gelarnya selama bertahun-tahun. Dikatakan bahwa Ross pertama kali mendaftar di UBC pada tahun 1965.
Saat itu disibukkan dengan klub teater di kampusnya, ia menemukan keinginan untuk berakting. Namun setelah dua tahun di UBC, Ross memutuskan untuk belajar di Sekolah Teater Nasional.
Ia menyelesaikan studinya hingga menerima sertifikat di sekolah teater. Tetapi Ross kembali menyadari tidak ingin menjadikan akting sebagai karirnya. Ia kemudian memutuskan ke sekolah hukum sebagai pengacara.
“ Saya memutuskan yah mungkin saya harus pergi ke sekolah hukum dan menjadi pengacara. Semacam pilihan terakhir bagi semua orang yang tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan,” katanya.
Ia memilih untuk menjalani karir di bidang hukumselama 35 tahun sebelum akhirnya pensiun pada 2016 lalu.
Setelah itu Ross memutuskan sudah saatnya ia kembali menyelesaikan apa yang dimulainya lima dekade lalu.
“ Itu selalu terlintas di benak saya bahwa mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke universitas untuk menyelesaikan gelar itu,” katanya,
Ross menghubungi pihak UBC dan memutuskan untuk fokus pada studi sejarah. Ia terinspirasi untuk belajar lebih banyak tentang Perang Dunia I setelah menonton opera Jerman Elektra tahun 1909.
Setelah kembali, beberapa hal sudah berubah, kampusnya telah berkembang dan ia mendapat kuliah gratis karena dia sudah pensiun senior.
Ia mengatakan, pengalaman itu membuatnya kagum pada fakultas yang berprestasi di UBC serta rekan-rekan mahasiswanya yang berhasil bertahan dalam studi mereka meskipun menghadapi kesulitan dan gangguan pandemi.
“ Mereka pasti kehilangan sesuatu pada saat itu, tetapi sebagian dari karakter mereka muncul mengatakan oke. Kita harus melakukan ini dengan cara yang berbeda,” katanya.
Laporan: Nur Rahma
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa