Data Ini Ungkap Kebencian Amerika Serikat terhadap Muslim

Reporter : Sandy Mahaputra
Minggu, 13 Desember 2015 08:04
Data Ini Ungkap Kebencian Amerika Serikat terhadap Muslim
Pada 2050, persentase warga Muslim Amerika akan tumbuh 0,9 persen hingga 2,1 persen. Sebab, Islam adalah agama paling cepat pertumbuhannya di AS.

Dream - Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, kembali melontarkan komentar kontroversial pada Senin kemarin. Kali ini ia menyerukan pelarangan bagi semua Muslim untuk memasuki Amerika.

Komentar itu seolah menjadi cara Trump menarik simpati 55 persen warga Amerika yang disurvei YouGov awal tahun ini, yang memiliki pendapat Islam 'tidak baik'.

Melihat lebih dekat pada hasil jajak pendapat itu, sentimen Islamofobia lebih umum dirasakan oleh tiga golongan. Yaitu orang Amerika berusia 45 tahun atau lebih, mereka yang dari Partai Republik dan mereka yang ras kulit putih.

Meski perlakuan terhadap Muslim dan Islam adalah dua hal berbeda, tetapi jajak pendapat melihat responden tidak bisa membedakannya.

Pada 2014, Pew Research Center menerbitkan sebuah penelitian besar tentang sikap Amerika terhadap individu yang berbeda agama.

Lebih dari 3.000 responden AS diminta untuk menilai anggota kelompok agama menggunakan 'termometer perasaan', yang berkisar dari 0 sampai 100.

Angka 0 menunjukkan peringkat paling negatif dan 100 peringkat paling positif. Muslim hanya mencetak angka 40. Satu-satunya kelompok lain yang memiliki skor sama buruknya dengan Muslim adalah ateis.

Sejak Biro Sensus dilarang oleh hukum menanyakan tentang agama, survei Pew menjadi sumber utama tentang kehidupan agama di AS.

Data mereka tahun 2015 menunjukkan bahwa 3 persen warga Amerika mengidentifikasi dirinya sebagai ateis, (4 persen mengaku agnostik dan 16 persen mengatakan diri mereka tidak punya afiliasi agama khusus).

Sebaliknya, hanya di bawah 1 persen orang Amerika mengidentifikasi dirinya sebagai Muslim - meskipun perkiraan ini bervariasi dan sebagian tergantung pada kesediaan warga Muslim Amerika mengidentifikasi diri mereka.

Namun, sejauh ini, banyak retorika anti-Muslim yang dilontarkan Trump difokuskan pada keamanan. Sebuah langkah yang pintar.

Seperti ketika warga Inggris ditanya tahun ini apa yang mereka pikirkan ketika mendengar kata Muslim, jawaban yang paling umum adalah teror, terorisme, dan teroris.

Sikap permusuhan terhadap umat Islam di Amerika diakibatkan kurang akrabnya warga negara itu dengan Muslim. Saat ditanya dalam jajak pendapat YouGov tentang apakah mereka bekerja dengan seorang Muslim, sebanyak 74 responden mengatakan tidak.

Survei juga menanyakan apakah responden memiliki teman-teman yang Muslim, sekira 68 persen mengatakan tidak. Sementara 87 persen responden mengatakan mereka tidak pernah masuk ke dalam masjid.

Muslim Amerika sangat menyadari perlakuan negatif terhadap mereka. Terakhir kali Pew melakukan survei khusus terhadap responden Muslim pada 2011, mereka menemukan bahwa mendapat perlakuan negatif adalah hal yang biasa.

Sebanyak 28 persen mengatakan dalam satu tahun terakhir, orang-orang mencurigai mereka, 22 persen mengatakan mereka dipanggil dengan nama-nama yang buruk, dan 21 persen mengatakan mereka diperiksa oleh petugas keamanan bandara.

Tidak jelas apakah retorika seperti yang diungkapkan oleh Trump bertujuan memicu sentimen anti-Muslim di AS atau hanya perasaan negatif terhadap Muslim.

Yang jelas adalah bahwa, ketika pada akhir November lalu Trump mengatakan perlunya dibangun bank data untuk semua Muslim yang tinggal di AS, persentase popularitasnya melonjak hampir 3 poin.

Survei YouGov yang dilakukan setelah komentar Trump tersebut menemukan bahwa 40 orang Amerika mendukung pembuatan database nasional untuk Muslim. Namun, sekali lagi, pandangan-pandangan tersebut umumnya disetujui oleh responden yang berusia lanjut dan simpatisan Partai Republik.

Pew memperkirakan pada 2050, persentase warga Muslim Amerika akan tumbuh 0,9 persen hingga 2,1 persen. Sebab, Islam adalah agama paling cepat pertumbuhannya di AS. (Ism) 

(Sumber: The Guardian)

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya