Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Wafat Berbulan-Bulan, Jasad Wanita Ini Lahirkan Bayi Kembar (Shutterstock)
Dream – Pepatah kasih ibu sepanjang masa tampaknya tepat untuk menggambarkan pengorbanan ibu yang satu ini. Sang ibu rela berkorban nyawa demi kehidupan buah hatinya.
Wanita bernama Frankielen da Silva Zampoli Padilha itu meninggal dunia beberapa bulan sebelum kelahiran anaknya.
Namun, ia mempertahankan " kehidupannya" dengan bantuan alat selama lebih dari empat bulan demi bisa melahirkan bayi kembarnya.
Setelah 123 hari, bayi kembar tersebut dilahirkan lewat operasi Caesar.
Pada Oktober lalu, Frankielen dinyatakan mati otak setelah terkena serangan stroke. Padahal, saat itu tengah hamil 9 minggu.
Setelah diperiksa dokter, pendarahan serebral di otaknya tak mempengaruhi janin kembarnya.
Karena itu, dokter memutuskan untuk mempertahankan detak jantung janin di kandungan Frankielen hingga siap dilahirkan 123 hari kemudian, saat usia kandungannya mencapai 7 bulan.
Bayi kembar tersebut kini dirawat oleh ibu sang suami, Angela Silva, saat ayah mereka bekerja.
Suami Frankielen, Padilha, mengungkap bahwa saat masa kritis, istrinya menelepon memintanya untuk segera pulang dari kebun.
Mendengar hal tersebut, Padilha langsung kembali untuk menemani istrinya. Saat itu sang istri mengaku mengalami sakit kepala tak tertahankan.
Namun saat Padilha tiba di rumah, Frankielen sudah ditemukan dalam keadaan bergetar, muntah-muntah, menangis, dan lunglai.
“ Ia juga bilang bahwa saya harus siap dengan segala kemungkinan. Ia mengatakan akan dirawat di rumah sakit dan tidak akan pulang ke rumah hari itu,” ujar Padilha dikutip dari nypost
Menurut Padilha, kalimat terakhir sang istri membuatnya terharu. “ Aku rasa anak perempuan kita akan hidup.”
Setelah tiga hari menjalani berbagai pemeriksaan otak, dokter menyatakan bahwa otak Frankielen telah mati.
Saat itu, dokter mengatakan bahwa anak kembar di kandungan tidak dapat diselamatkan lagi.
Namun, berbagai perkembangan medis selanjutnya membuat keputusan dokter berubah.
Ibu yang telah dinyatakan mati otak tersebut ternyata bisa mempertahankan janinnya hingga usia kandungan tujuh bulan.
Hal tersebut membuat peristiwa ini menjadi sejarah di dunia medis. Jangka waktu 123 hari adalah masa terlama penggunaan alat bantu penunjang hidup dalam sejarah manusia.
Bahkan, setelah kematian Frankielen, hati dan ginjalnya disumbangkan untuk membantu mereka yang membutuhkan transplantasi organ.
Laporan: Cika Puspita
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya