Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Seorang pria yang dijuluki 'Ksatria Corona' lantara telah menjadi sukarelawan dalam mengkremasi jenazah sebanyak 1.300 yang merupakan korban Covid-19, dinyatakan meninggal dunia.
Seorang pria bernama Chandan Nimje, 67 tahun, dikabarkan meninggal akibat terinfeksi virus corona. Ia diketahui tidak bisa mendapatkan perawatan dan tempat tidur di rumah sakit lantaran melonjaknya kasus di India.
Atas jasa dan perjuangannya, Chandan diberi ucapan selamat oleh walikota Nagpur, India. Pria lansia itu telah berjuang kurang lebih selama 18 bulan terakhir.
Chandan diketahui merupakan seorang pensiunan pegawai pemerintah dan meninggal pada 26 Mei 2021 lalu.
" Kami mendekati semua orang, tidak hanya untuk bantuan keuangan, tetapi juga untuk tempat tidur dan obat-obatan, tetapi tidak ada yang merespons," kata Arvind Rataudi, yang bekerja dengan Chandan, dikutip dari Mirror, Sabtu 5 Juni 2021.
Chandan, yang putranya juga meninggal karena Covid, bekerja dengan sukarelawan di King Cobra Youth Force (KCYF) ketika anggota keluarga menolak untuk mendekati jenazah yang mereka cintai yang meninggal karena virus tersebut.
Chandan tertular virus corona saat dia mendapatkan dosis vaksin pertamanya dan kemudian menderita demam ringan sebelum saudara perempuannya, dua putra dan istri semuanya mulai menunjukkan gejala.
Kelima anggota keluarga tersebut dinyatakan positif dan kesehatan Chandan mulai memburuk ketika para sukarelawan mulai mencari tempat tidur rumah sakit.
" Saya secara pribadi menelepon kolektor, kepala NMC dan pemimpin politik untuk mengatur suntikan. Tapi tidak ada yang mengangkat telepon," tambah Arvind.
Sumber: Mirror.co.uk
Dream - Kejadian menghebohkan menimpa sebuah keluarga di India yang sedang berduka. Mereka menangisi kematian seorang wanita yang dinyatakan meninggal setelah tertular Covid-19.
Di tengah keluarga yang sedang berduka itu, tiba-tiba wanita yang ditangisi tersebut pulang ke rumah dalam kondisi bugar dua minggu setelah dikremasi.
Keluarga Muktyala Girijamma berduka pada 15 Mei lalu ketika mendapat kabar wanita tersebut meninggal dunia karena virus corona.
Disebabkan prosedur kesehatan Covid-19 yang ketat, keluarga hanya dapat menatap jasad Muktyala yang terbungkus plastik dengan rapat hingga proses kremasi dilakukan.
Keponakannya, Nagu, mengatakan sebelumnya keluarga mengunjungi Muktyala di Rumah Sakit Umum Pemerintah Vijayawada. Namun mereka diberitahu bahwa wanita tersebut telah meninggal.
" Dokter yang berjaga pada hari itu salah memberi tahu paman saya bahwa bibi telah meninggal karena Covid. Padahal bibi telah dipindahkan ke bangsal lain," kata Nagu.
Percaya dengan penjelasan dokter jaga itu, keluarga Muktyala langsung menuju ke kamar mayat untuk mengambil jenazah wanita itu.
Dengan perasaan sedih yang mendalam, keluarga Muktyala membawa jenazah terbungkus plastik tersebut ke rumah dan melakukan kremasi.
" Kami tidak sadar telah membawa jenazah wanita lain. Karena kami tidak dapat memeriksanya sebab sudah terbungkus plastik. Sekarang kami tidak tahu siapa wanita yang kami kremasi itu," ujar Nagu.
Muktyala pulang ke Desa Christianpet yang berada di Jaggaiahpet Mandal di Distrik Krishna pada hari Rabu, 2 Juni.
Dia sampai tepat sebelum anggota keluarga melakukan Shraddha - upacara perpisahan terakhir untuk kerabat yang telah meninggal.
Sementara itu, Muktyala mengatakan rumah sakit sempat menawarkan uang 3.000 rupee (sekitar Rp558 ribu) untuk ongkos pulang. Namun dia memilih untuk berjalan kaki.
Lucunya, kata-kata pertama kepada kerabat yang tercengang ketika dia sampai di rumah adalah 'Kok tidak ada yang datang menjemput saya?'.
Sayangnya, kebahagiaan keluarga Muktyala tidak berlangsung lama. Putranya yang berusia 36 tahun justru menghembuskan napas terakhir akibat tertular Covid-19.
Putra Muktyala yang bernama Ramesh masuk rumah sakit di hari yang sama dengan dirinya, meninggal karena tertular Covid-19 pada 23 Mei lalu.
Sumber: DailyStar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam