Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Ayah Menggendong Jenazah Anaknya. (foto: Indiatimes.com)
Dream - Kisah pilu keluarga miskin yang tak mendapatkan penghormatan layak kembali terulang. Setelah seorang pria asal Odisha, India terpaksa menggendong jenazah istrinya sejauh 12 km karena tidak dipinjamkan ambulans, kini perlakuan tidak adil kembali menimpa warga miskin di India.
Nasib kurang baik menimpa seorang ayah dari Kanpur di Uttar Pradesh yang harus menemui kenyataan memilukan saat membawa anaknya yang berusia 12 tahun ke rumah sakit.
Dilansir Indiatimes, Sunil Kumar membawa Ansh yang sedang mengalami demam tinggi dengan menggendong ke Rumah Sakit Lala Lajpat Rai pada Senin kemarin.
Namun ketika sampai di sana, RS Lala tidak hanya menolak menerima Ansh dan membuat rujukan ke rumah sakit anak-anak yang ada di dekatnya. Pengelola RS juga tidak mau memberikan layanan medis terhadap Ansh.
Dengan hati kecewa, Kumar memanggul anaknya ke RS Hallet.
© Dream
Dengan hati kecewa, Kumar memanggul anaknya ke RS Hallet. Namun anaknya tak lagi sanggup bertahan hingga sampai di sana. Belum mencapai rumah sakit, Ansh telah menghembuskan napas terakhir di pundak ayahnya.
" Aku sampai memohon ke dokter di ruang darurat untuk memeriksa anakku dan menerimanya. Mereka hanya memeriksanya 30 menit sebelum memberitahu untuk membawa anakku ke rumah sakit anak-anak," kata Kumar dengan perasaan sedih.
RS Hallet mengklaim bahwa anak itu sudah meninggal ketika ayahnya membawa dia.
" Kami menerimanya. Saat diperiksa, kami tidak menemukan denyut jantung, denyut nadi, dan pupil matanya sudah membesar dan berselaput. Kami bisa katakan dari kondisinya itu bahwa anak itu sudah meninggal dua sampai tiga jam sebelumnya," jelas Dr RC Gupta, kepala petugas medis RS Hallet kepada NDTV. (Sah)
Dream - Ada hampir jutaan cerita tentang ketidakadilan dan diskriminasi di luar sana. Dan kisah pria India bernama Dana Majhi ini menambah daftar panjang kisah-kisah pili tersebut.
Majhi harus memanggul jasad istrinya, Amangadei, di pundak. Pria dari Desa Melghar, Kalahandi, ini membungkus jasad Amangadei dengan selimut bekas dari rumah sakit.
Dia terpaksa berjalan 12 kilometer karena ditolak oleh rumah sakit saat ingin menggunakan ambulans untuk membawa istrinya yang wafat karena TBC pada Rabu lalu.
Majhi tak punya uang, sehingga tak mampu menyewa ambulans dari rumah sakit. Pihak rumah sakit menolak untuk meminjamkan sebuah ambulans.
Majhi akhirnya pulang dengan berjalan kaki bersama anaknya yang masih remaja, sembari memanggul jenazah Amangadei.
" Saya meminta tolong pada semua orang, tapi tak ada orang. Saya tak punya pilihan selain membawa dia," kata Majhi.
Dalam perjalanannya, beberapa warga melihat dia dan ada yang memberitahukan kejadian ini kepada pihak berwenang.
Sampai akhirnya sebuah ambulans dikirim untuk membawa jasad istri Majhi.
Ini bukan pertama kalinya insiden seperti itu terjadi di wilayah tersebut. Banyak penduduk setempat yang membawa mayat anggota keluarga mereka dengan sepeda atau becak.
Menurut laman India Times, penduduk desa ini sering diperlakukan tidak adil karena miskin dan tak memiliki uang.
Setelah kejadian itu, pemerintah memberikan bantuan dana pemakaman untuk Majhi sebesar Rs 2.000 atau sekitar Rp 400 ribu dan Rs 10.000 atau Rp 2 juta dari Lembaga Palang Merah.
(Sumber: indiatimes.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya