Fiksi Adalah Definisi, Ciri-ciri, Jenis, Unsur dan Proses Pembuatan Karya Fiksi

Reporter : Arini Saadah
Senin, 9 November 2020 10:06
Fiksi Adalah Definisi, Ciri-ciri, Jenis, Unsur dan Proses Pembuatan Karya Fiksi
Tidak semua karya fiksi mengabaikan fakta sejarah.

Dream – Fiksi adalah bentuk prosa naratif yang bersifat imajinasi. Fiksi juga bisa disebut karangan non-ilmiah dan bukan berdasarkan realita.

Fiksi berangkat dari daya imajinatif seseorang yang melahirkan sebuah karya sastra yang disebut karangan fiksi.

Meskipun hanya imajinasi, namun fiksi tetaplah sebuah karya yang masuk akal dan mengandung nilai-nilai kebenaran di antara manusia.

Biasanya fiksi akan melahirkan karya sastra berupa cerita fiksi yang sudah sangat populer di masyarakat.

Seperti telah dikatakan, cerita fiksi adalah prosa naratif imajiner yang berisi kebenaran dalam hal hukum, moral, agama, dan logika.

Jika kamu penyuka cerita fiksi maka sudah pasti pikiran pembaca seakan-akan bisa masuk ke dalam tubuh cerita fiksi.

Untuk mengetahui arti sebenarnya dari fiksi, mari kita simak paparan Dream berikut ini yang akan membahas definisi, ciri-ciri, jenis, unsur dan proses pembuatan karya fiksi.

1 dari 10 halaman

Definisi Fiksi Adalah

Ilustrasi© freepik.com

Asal kata fiksi adalah fiction dari Bahasa Inggris yang artinya rekaan atau khayalan. Menurut The American College Dictionary, fiksi adalah cabang dari sastra yang menyusun karya-karya narasi imajinatif, terutama dalam bentuk prosa, seperti novel atau dongeng-dongeng, yang ceritanya diimajinasikan.

Sementara itu menurut Henry Guntur Tarigan, fiksi adalah suatu karya sastra yang berasal dari hasil imajinasi penulis. Fiksi adalah cerita naratif yang timbul dari imajinasi pengarang dan tidak memedulikan fakta sejarah.

Meskipun fiksi disebut tidak memedulikan fakta sejarah, akan tetapi banyak cerita fiksi yang berangkat dari fakta-fakta sejarah. Maka dari itu fiksi dibedakan menjadi beberapa jenis yang akan kita paparkan setelah ini.

2 dari 10 halaman

Ciri-Ciri Cerita Fiksi

Ilustrasi© freepik.com

Fiksi memiliki sifat dasar yang umum sebagai penanda bentuk karangan fiksi. Segala sesuatu yang diungkapkan dalam cerita fiksi tidak dapat dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan. Tokoh, setting, dan persoalan di dalam cerita fiksi bersifat realitas imajinatif bukan objektif.

Kebenaran yang ada di dalam cerita fiksi adalah bukan kebenaran objektif, melainkan kebenaran logis melalui penalaran. Kebenaran logis ini menyebabkan setiap cerita fiksi selalu multi penafsiran, sebab pembaca bebas menafsirkan.

Sementara itu, ciri-ciri cerita fiksi adalah sebagai berikut:

  1. Fiksi memiliki kebenaran relatif dan tidak mutlak.
  2. Karya fiksi tidak memiliki sistematika penulisan yang baku.
  3. Sifat fiksi adalah rekaan atau berupa imajinasi pengarang.
  4. Biasanya fiksi menggunakan bahasa yang bersifat konotatif.
  5. Fiksi menyasar emosi atau perasaan pembaca.
  6. Fiksi mengandung pesan moral atau amanat tertentu.
3 dari 10 halaman

Jenis-Jenis Cerita Fiksi

Ilustrasi© freepik.com

Menurut teori pengkajian fiksi, jenis-jenis cerita fiksi dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu fiksi historis, fiksi biografis, dan fiksi sains.

Fiksi historis

Fiksi historis adalah fiksi yang berangkat dari fakta sejarah. Data dalam fiksi seperti latar tempat, tokoh, alur, dan elemen fiksi memiliki kesamaan dengan fakta sejarah yang ada. Fiksi jenis ini justru menjadi alternatif sumber sejarah, meskipun tidak 100 persen benar.

Fiksi biografis

Fiksi biografis adalah fiksi yang berdasarkan pada fakta penulisan biografi seseorang. Contohnya buku Catatan Seorang Demonstran, Bung Tomo, dan Amien Rais.

Fiksi sains

Fiksi sains adalah fiksi yang berangkat dari dasar penulisan ilmu pengetahuan. Contohnya Supernova karya Dewi Lestari dan Bilangan Fu karya Ayu Utami.

4 dari 10 halaman

Jenis-Jenis Cerita Fiksi Lainnya

Ilustrasi© freepik.com

Selain jenis-jenis fiksi di atas, masih ada jenis-jenis fiksi lainnya berdasarkan buku “ Perkenalan dengan Prosa Fiksi”, kesemua jenis fiksi tersebut akan dipaparkan sebagai berikut:

Novel

Novel adalah cerita fiksi yang menceritakan tokoh utama dengan konflik di dalamnya dan memiliki cerita klimaks dan ending di akhir cerita.

Roman

Roman adalah cerita fiksi yang menceritakan beberapa tokoh di setiap alurnya, roman mengandung banyak hikmah dan cenderung mengarah ke cerita klasik. Cerpen adalah kaya fiksi yang isinya jauh lebih sedikit dari roman dan novel.

Cerpen

Cerpen adalah cerita fiksi dengan cerita yang lebih pendek dan lebih padat dibanding novel dan roman. 

Selain itu ada jenis fiksi yang disebut sebagai fiksi eksistensialis, fiksi realis, prosa fiksi romantik, fiksi naturalistik dan proletarian, fiksi gotik (horror), fiksi satire, fiksi psikologis, dan fiksi alegori.

5 dari 10 halaman

Unsur-Unsur Fiksi

Ilustrasi© freepik.com

Unsur fiksi adalah segala hal yang ada di dalam karya sastra fiksi yang terdiri dari:

Unsur intrinsik

  1. Tema merupakan ide pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita fiksi, seringkali tema diangkat dari konflik kehidupan.
  2. Plot merupakan dasar cerita atau pengembangan fiksi.
  3. Alur adalah rangkaian certa fiksi, alur terdiri dari alur maju, alur mundur, atau alur maju-mundur. Penyelesaian alur bisa berbentuk alur klimaks dan alur anti klimaks.
  4. Setting merupakan temoat terjadinya cerita, dibedakan menjadi setting geografis (tempat kejadian, dan setting antropologis (situasi masyarakat, kejiwaan, adat istiadat).
  5. Tokoh merupakan pelaku yang menghidupkan cerita fiksi. Tokoh terdiri dari tokoh utama (protagonis), tokoh lawan (antagonis), tokoh penengah (protagonis).
  6. Sudut pandang adalah hal yang mendasari tema dan tujuan penulisan. Sudut pandang bisa berupa gaya orang pertama tokoh utama, atau gaya orang ketiga serba tahu.
  7. Suasana adalah unsur fiksi yang mendasari suasana cerita penokohan yang menimbulkan konflik. Suasana bisa menyedihkan, mengharukan, menyenangkan, dan menantang.

Unsur ekstrinsik

  1. Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap.
  2. Keyakinan.
  3. Pandangan hidup yang keseluruhan akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.
  4. Psikologi, baik berupa psikologi pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial
  5. Pandangan hidup suatu bangsa.
  6. Berbagai karya seni lain dan lain sebagainya.

 

6 dari 10 halaman

Kaidah Kebahasaan Cerita Fiksi

 

Kaidah bahasa cerita fiksi adalah sebagai berikut:

  • Metafora, yaitu perumpamaan yang digunakan untuk membandingkan sebuah benda atau menggambarkan secara langsung atas dasar sifat yang sama.
  • Metonimia, yaitu gaya bahasa dengan menggunakan kata tertentu sebagai pengganti dari kata yang sebenarnya, tapi penggunaannya hanya pada kata yang memiliki pertalian yang begitu dekat.
  • Simile (persamaan), yaitu tata bahasa yang digunakan sebagai pembanding yang bersifat eksplisit dengan maksud menyatakan sesuatu hal dengan hal lainnya.
7 dari 10 halaman

Proses Pembuatan Cerita Fiksi

Ilustrasi© freepik.com

Bagi Sahabat Dream yang hendak belajar membuat karya fiksi, maka langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk menghasilkan karya yang ciamik adalah sebagai berikut.

Pertama

Tentukan ide sebagai modal utama untuk menentukan arah dan tujuan karya fiksi yang akan kita buat.

Ide bisa kamu dapatkan dari berbagai sumber, seperti pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, buku, tragedy, dan segala persoalan kehidupan sehari-hari.

Kedua

Pengembangan ide. Setelah kita mendapatkan ide untuk membuat karya fiksi, maka lakukan pengembangan terhadap ide tersebut. Pengembangan ini berupa penentuan tokoh-tokoh, alur cerita, karakter tokoh, dan konflik yang akan ditulis dalam karya fiksi.

Ketiga

Bangkitkan daya imajinasi. Saat mengembangkan ide gagasan fiksi, tentu kita harus membangkitkan daya imajinasi supaya mendapatkan ide pengembangan cerita yang unik dan original. Berkhayallah setinggi mungkin dan ciptakan fantasi-fantasi yang aneh dan tidak biasa.

8 dari 10 halaman

Proses Pembuatan Cerita Fiksi Selanjutnya

Ilustrasi© freepik.com

Keempat

Menuliskan sinopsis. Sinopsis adalah gambaran umum cerita yang akan kamu buat menjadi karya fiksi. Sinopsis berisi cerita singkat sejak awal hingga ending.

Kelima

Buat kerangka karangan. Saat membuat kerangka karangan fiksi, kamu bisa membagi cerita menjadi beberapa pembahasan. Pada setiap baba da beberapa adegan. Tentukan seberapa banyak bab yang akan menjadi ceritamu dan tentukan adegan serta konflik apa saja yang akan membuat karyamu semakin berbobot.

Keenam

Mulailah mengembangkan cerita. Proses ini termasuk proses yang sangat Panjang sebab kamu harus pandai mengolah kata, memilah ide, supaya menjadi sajian fiksi yang menggugah emosi. Kamu bisa memilih adegan romantic, melankolis, atau bahkan adegan tragis.

Ketujuh

Editing, setelah penulisan karya sudah selesai, lakukanlah editing dengan membaca ulang seluruh karya. Proses ini penting untuk membenarkan kata yang tidak cocok, kata yang perlu diganti, salah ketik, kalimat rancu, tanpa mengubah alur cerita.

Kedelapan

Jika kamu sudah yakin bahwa karya fiksimu sudah selesai maka carilah penerbit supaya karyamu bisa dinikmati banyak orang.

9 dari 10 halaman

Fungsi Cerita Fiksi

 

Cerita fiksi memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai normatif dan juga nilai estetis, serta mengembangkan nilai praktis.

Nilai praktis yang didapatkan dari cerita fiksi, diambil dari permasalahan realitas objektif yang dijadikan titik tolak pencerita. Sedangkan untuk nilai normatif dan estetis, berdasarkan hasil penalaran dan pengolahan intelektual dan visi dari pengarang.

Cerita fiksi juga memiliki fungsi sebagai media atau sarana, untuk menularkan pikiran kreatif dari sang pengarang. Cerita fiksi dapat membuat pembacanya mengenali dan menganalisis nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

 

 

10 dari 10 halaman

Contoh Cerita Fiksi

Ilustrasi© freepik.com

Ada banyak sekali contoh cerita fiksi yang bisa dinikmati sesuai dengan genre yang kamu sukai. Contoh karya fiksi adalah:

  1. Arus Balik karya (novel) Pramoedya Ananta Toer
  2. Kitab Omong Kosong (novel) karya Seno Gumira Ajidarma
  3. Tentang Kamu (novel) karya Tere Liye
  4. Manjali dan Cakrabirawa (novel) karya Ayu Utami
  5. Supernova (novel) karya Dewi Dee Lestari
  6. Cantik itu Luka (novel) karya Eka Kurniawan
  7. Ketika Cinta Bertasbih (novel) karya Habiburrahman El Shirazy
  8. Kunang-kunang dalam Bir (cerpen) karya Djenar Maesa Ayu
  9. Penembak Misterius (cerpen) karya Seno Gumira Ajidarma
  10. Lelaki Sejati (cerpen) karya Putu Wijaya
  11. Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri (cerpen) karya Agus Noor

(Dilansir dari berbagai sumber)

Beri Komentar