Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Georgia Green (tengah Memegang Anjingnya) Seorang Putri Tidur Sesungguhnya (pakistandaily.com.pk)
Dream- Georgia Green menderita sindrom Kleine-Levin (KLS). Sindrom itu merupakan gangguan tidur neurologis langka yang membuatnya tertidur tanpa bisa bangun hingga 10 hari.
Kondisi yang dialami gadis berusia 19 tahun ini hingga saat ini belum ada obatnya. Menurut Georgia, tidak ada gejala yang jelas saat penyakit tersebut menyerang.
" Hanya ada kepala saya pening dan tiba-tiba saya sudah tertidur," kata Georgia kepada Daily Mail.
Awalnya Georgia dan keluarganya tidak tahu tentang penyakit yang hanya menyerang satu dari sejuta orang ini. Tetapi, setelah dilakukan serangkaian tes, mulai dari tes darah, MRI, pemindaian otak, juga beragam pengobatan, baru diketahui Georgia mengidap penyakit langka KLS tiga tahun lalu.
Penderita penyakit ini umumnya mengalami 'serangan' berulang yang membuat mereka tertidur selama 12 sampai 18 jam sehari. Penderita penyakit ini selalu merasa ingin tidur sepanjang hari.
" Saya biasanya tidur selama sekitar 10 hari. Setelah itu saya mengalami insomnia selama semalam karena saya sudah tidur terlalu lama. Setelah hampir dua minggu, serangan itu kembali terulang," katanya.
Sebelum serangan tersebut muncul, ada gejala-gejala yang muncul. Biasanya gejala itu berupa keinginan untuk makan yang sangat kuat dan perubahan suasana hati. Tetapi, yang paling merugikan dari sindrom ini adalah rutinitas Georgia menjadi terganggu.
" Aku ketinggalan sekolah berminggu-minggu, perayaan ulang tahun teman, dan kehilangan pekerjaan. Semuanya menjadi terganggu," katanya.
Georgia terpaksa keluar dari sekolah karena tidak bisa mengikuti serangkaian ujian penting. Dia sekarang bekerja sebagai asisten penjualan sambil kuliah di Flinders University, Adelaide, Australia.
Menurut Georgia, ia telah mengalami sekitar 35 kali serangan yang membuatnya kehilangan aktivitas selama hampir satu tahun. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang bisa mengurangi tingkat keparahan dari serangan. Sehingga Georgia terpaksa mengorbankan semua aspek penting dalam hidupnya.
" Keluar dari sekolah dan menjauhi alkohol tidak berpengaruh. Ketika serangan datang saya harus meninggalkan semuanya dan menanggung semua kerugiannya," katanya.
Kondisi ini konon akan berhenti dengan sendirinya saat penderita memasuki usia 30 tahunan. Sehingga sampai dengan saat itu, Georgia hanya bisa bertahan dengan kondisi yang langka tersebut.
(Ism, Sumber: Daily Pakistan)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya