Hujan Meteor Perseid Semalam, dari Mana Asalnya?

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 14 Agustus 2019 14:02
Hujan Meteor Perseid Semalam, dari Mana Asalnya?
Mengindikasikan asal tata surya di masa lampau.

Dream - Hujan meteor Perseid pada 12 dan 13 Agustus 2019 semalam menjadi peristiwa antariksa yang tidak dapat dilewatkan.

Hampir 20 tahun sebagai astronom, Christopher Conselice percaya hujan meteor Perseid semalam, merupakan satu peristiwa astronomi paling spektakuler yang pernah dia lihat.

Dilaporkan PBS, Christopher menyebut, di luar tampilan estetika, hujan meteroid memberi pengetahuan manusia mengenai tata surya, sejarah masa lalunya, dan dengan sejarah pembentukan bintang dan planet dari seluruh galaksi.

Christopher tak mempermasalahkan anggapan yang mengira hujan meteor merupakan materi di ruang angkasa yang jatuh ke bumi. Anggapan itu pada dasarnya benar, namun asal partikel tidak diketahui.

Aliran cahaya yang cerah datang dari meteor ini saat jatuh ke tanah membuat pemandangan spektakuler.

" Ketika batu ini jatuh ke atmosfir bumi, gesekan dari molekul-molekul di atmosfer menciptakan panas yang sangat kuat sehingga batu itu mulai hancur. Ini terjadi ketika orbit Bumi bersinggungan dengan kantong puing-puing di dalam tata surya yang awalnya merupakan bagian dari sebuah komet," ujar Christopher.

1 dari 4 halaman

Ada Komet Langka

Pembakaran puing saat hujan meteor menghasilkan cahaya. Tapi, cahaya ini juga mengindikasikan bahan sisa dari sebuah komet yang berasal dari bagian luar tata surya manusia.

Hujan meteor perseid telah dikenal sekitar selama ratusan tahun, tetapi hanya diidentifikasi sebagai peristiwa khusus yang berulang pada awal abad ke-19.

Komet yang menghasilkan perseid dikenal sebagai Swift-Tuttle, dinamai untuk dua astronom Amerika yang menemukannya pada 1862.

Butuh beberapa dekade bagi para astronom untuk membuat hubungan antara komet dan hujan meteor. Akhirnya, mereka memperhatikan orbit komet itu mirip dengan puing-puing debu yang menghasilkan hujan meteor.

Swift-Tuttle terakhir terlihat dari Bumi menggunakan teleskop pada 1992. Swift Tuttle dapat diamati pada 109 tahun kemudian.

" Ini juga salah satu komet yang paling mungkin menabrak bumi, meskipun ini tidak akan terjadi selama beberapa ratus tahun," kata Christopher.

 

2 dari 4 halaman

Dapat Dilacak

Christopher menyebut, meteor yang terlihat di langit berasal dari komet ini. Swift-Tuttle memiliki orbit 133 tahun di tata surya, yang membawanya 51 kali lebih jauh dari matahari daripada Bumi.

" Ini berarti komet berasal dari tata surya luar di apa yang disebut awan Oort di luar orbit planet Neptunus," ujar dia.

Komet ini kemudian masuk ke tata surya bagian dalam di mana ia berinteraksi dengan benda-benda yang lebih masif. Selama perjalanan ini, kita bisa melihatnya dengan teleskop.

Alasan mengapa meteor-meteor khusus ini disebut perseid karena pancaran cahayanya. Garis dari mana meteor-meteor ini dapat dilacak dari asalnya yaitu Perseus.

" Jadi tempat terbaik untuk melihat Perseids adalah di mana rasi bintang dapat dilihat, yang untungnya ada sepanjang malam untuk sebagian besar tempat di belahan bumi utara," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Sebuah Meteorit Tabrak Bulan Saat Fenomena Super Blood Wolf

Dream - Fenomena super blood wolf moon pada Senin, 21 Januari 2019, ditandai peristiwa menarik. Viral di laman komunitas Reddit, seorang warganet merekam cuplikan kerlip kecil berwarna kuning-putih muncul di permukaan bulan.

Peneliti dari University of Huelva, Spanyol, Jose Maria Madiedo, mengatakan, cahaya itu asli. Selama bertahun-tahun, Jose dan rekan-rekannya berharap dapat menyaksikan dampak meteorit saat bulan sedang purnama penuh. Pencahayaan dari peristiwa ini agak menyulitkan Jose dan rekan-rekannya.

Meski demikian, Jose sempat merekam peristiwa itu. Dia menggandakan jumlah teleskop yang digunakan untuk merekam peristiwa itu menjadi delapan buah.

" Aku punya perasaan, kali ini akan melihat peristiwa itu terjadi," kata Jose, dikutip dari laman New Science, Kamis 24 Januari 2019.

 

4 dari 4 halaman

Kilatan yang Tenang

Setelah gerhana, perangkat lunak secara otomatis menujukkan kilat yang direkam beberapa teleskopnya. Cara ini untuk mengonfirmasi bahwa kilatan yang muncul bukan hanya anomali optik pada sensor kamera.

" Saya benar-benar bahagia ketika ini terjadi," ucap dia.

Jose mencatat, kilatan itu cukup terang. Tetapi, dia berandai, jikalau bulan tak sedang purnama, tabrakan meteor itu akan mudah terdeteksi.

Meskipun belum secara resmi menghitung ukuran meteor itu, Jose menduga beratnya sekitar 2 kilogram dan berbentuk seukuran bola.

Peneliti dari Royal Astronomical Society, Robert Massey, mengatakan kilatan itu membuktikan tata surya memiliki kedinamisan.

" Kombinasi dari permukaan yang gelap dan banyak orang yang menonton membuat dampak kilatan terlihat," ucap Massey.

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary