Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Hujan meteor Perseid pada 12 dan 13 Agustus 2019 semalam menjadi peristiwa antariksa yang tidak dapat dilewatkan.
Hampir 20 tahun sebagai astronom, Christopher Conselice percaya hujan meteor Perseid semalam, merupakan satu peristiwa astronomi paling spektakuler yang pernah dia lihat.
Dilaporkan PBS, Christopher menyebut, di luar tampilan estetika, hujan meteroid memberi pengetahuan manusia mengenai tata surya, sejarah masa lalunya, dan dengan sejarah pembentukan bintang dan planet dari seluruh galaksi.
Christopher tak mempermasalahkan anggapan yang mengira hujan meteor merupakan materi di ruang angkasa yang jatuh ke bumi. Anggapan itu pada dasarnya benar, namun asal partikel tidak diketahui.
Aliran cahaya yang cerah datang dari meteor ini saat jatuh ke tanah membuat pemandangan spektakuler.
" Ketika batu ini jatuh ke atmosfir bumi, gesekan dari molekul-molekul di atmosfer menciptakan panas yang sangat kuat sehingga batu itu mulai hancur. Ini terjadi ketika orbit Bumi bersinggungan dengan kantong puing-puing di dalam tata surya yang awalnya merupakan bagian dari sebuah komet," ujar Christopher.
Pembakaran puing saat hujan meteor menghasilkan cahaya. Tapi, cahaya ini juga mengindikasikan bahan sisa dari sebuah komet yang berasal dari bagian luar tata surya manusia.
Hujan meteor perseid telah dikenal sekitar selama ratusan tahun, tetapi hanya diidentifikasi sebagai peristiwa khusus yang berulang pada awal abad ke-19.
Komet yang menghasilkan perseid dikenal sebagai Swift-Tuttle, dinamai untuk dua astronom Amerika yang menemukannya pada 1862.
Butuh beberapa dekade bagi para astronom untuk membuat hubungan antara komet dan hujan meteor. Akhirnya, mereka memperhatikan orbit komet itu mirip dengan puing-puing debu yang menghasilkan hujan meteor.
Swift-Tuttle terakhir terlihat dari Bumi menggunakan teleskop pada 1992. Swift Tuttle dapat diamati pada 109 tahun kemudian.
" Ini juga salah satu komet yang paling mungkin menabrak bumi, meskipun ini tidak akan terjadi selama beberapa ratus tahun," kata Christopher.
Christopher menyebut, meteor yang terlihat di langit berasal dari komet ini. Swift-Tuttle memiliki orbit 133 tahun di tata surya, yang membawanya 51 kali lebih jauh dari matahari daripada Bumi.
" Ini berarti komet berasal dari tata surya luar di apa yang disebut awan Oort di luar orbit planet Neptunus," ujar dia.
Komet ini kemudian masuk ke tata surya bagian dalam di mana ia berinteraksi dengan benda-benda yang lebih masif. Selama perjalanan ini, kita bisa melihatnya dengan teleskop.
Alasan mengapa meteor-meteor khusus ini disebut perseid karena pancaran cahayanya. Garis dari mana meteor-meteor ini dapat dilacak dari asalnya yaitu Perseus.
" Jadi tempat terbaik untuk melihat Perseids adalah di mana rasi bintang dapat dilihat, yang untungnya ada sepanjang malam untuk sebagian besar tempat di belahan bumi utara," ucap dia.
Dream - Fenomena super blood wolf moon pada Senin, 21 Januari 2019, ditandai peristiwa menarik. Viral di laman komunitas Reddit, seorang warganet merekam cuplikan kerlip kecil berwarna kuning-putih muncul di permukaan bulan.
Peneliti dari University of Huelva, Spanyol, Jose Maria Madiedo, mengatakan, cahaya itu asli. Selama bertahun-tahun, Jose dan rekan-rekannya berharap dapat menyaksikan dampak meteorit saat bulan sedang purnama penuh. Pencahayaan dari peristiwa ini agak menyulitkan Jose dan rekan-rekannya.
Meski demikian, Jose sempat merekam peristiwa itu. Dia menggandakan jumlah teleskop yang digunakan untuk merekam peristiwa itu menjadi delapan buah.
" Aku punya perasaan, kali ini akan melihat peristiwa itu terjadi," kata Jose, dikutip dari laman New Science, Kamis 24 Januari 2019.
Setelah gerhana, perangkat lunak secara otomatis menujukkan kilat yang direkam beberapa teleskopnya. Cara ini untuk mengonfirmasi bahwa kilatan yang muncul bukan hanya anomali optik pada sensor kamera.
" Saya benar-benar bahagia ketika ini terjadi," ucap dia.
Jose mencatat, kilatan itu cukup terang. Tetapi, dia berandai, jikalau bulan tak sedang purnama, tabrakan meteor itu akan mudah terdeteksi.
Meskipun belum secara resmi menghitung ukuran meteor itu, Jose menduga beratnya sekitar 2 kilogram dan berbentuk seukuran bola.
Peneliti dari Royal Astronomical Society, Robert Massey, mengatakan kilatan itu membuktikan tata surya memiliki kedinamisan.
" Kombinasi dari permukaan yang gelap dan banyak orang yang menonton membuat dampak kilatan terlihat," ucap Massey.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan