Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Idul Fitri 2031 Bertepatan Dengan Natal, Simak Faktanya (Shutterstock)
Dream - Beredar narasi di media sosial yang menyebut Hari Raya Idul Fitri pada 2031 akan jatuh bertepatan dengan perayaan Hari Natal. Tapi benarkah informasi yang diperkuat lewat narasi perhitungan kalender ini?
Sebagai informasi penanggalan hijriah menggunakan sistem kamariah atau lunar yang mengacu pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Sementara penanggalan masehi dibuat dengan mengacu pada periode bumi mengorbit matahari.
Perbedaaan cara perhitungan hari itu membuat ada selisih sekitar 11 hari setiap tahunnya. Hal itu yang membuat Idul Fitri setiap tahunnya jatuh di tanggal yang tak sama.
Bahkan santer disebutkan Idul Fitri bisa terjadi dua kali dalam setahun. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fenomena ini terulang setiap 32-33 tahun sekali.
Berbeda dengan perayaan Hari Natal yang menggunakan patokan penanggalan masehi, umat kristiani akan merayakannya setiap tahunnya pada tanggal 25 Desember.
Lalu, muncul narasi jika Idul Fitri akan bertepatan dengan Natal pada tahun 2031. Bagaimana penjelasannya
Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangerang menuturkan, fase bulan yang digunakan untuk menandai pergantian bulan dalam penanggalan Hijriah adalah fase bulan sabit awal termuda atau disebut juga hilal.
Ini bisa dilihat setelah matahari terbenam jika cuaca cerah, bebas polusi cahaya dan tidak tertutup awan.
Tetapi, kata Andi, ada satu syarat lagi untuk mengamati hilal tersebut, yakni terlihat fase bulan baru atau konjungsi atau ijtimak terjadi.
Fase bulan baru adalah kondisi ketika permukaan bulan yang menghadap bumi tidak terkena cahaya matahari.
" Hal ini dikarenakan saat bulan baru, matahari, bulan, dan bumi terletak pada satu garis lurus jika diamati dari bidang tegak lurus ekliptika. Kondisi ini berimplikasi pada bulan memiliki jarak sudut terdekat matahari. Sedangkan, jika bulan baru terlihat di atas ufuk sebelum bulan baru, masih dikategorikan sebagai bulan sabit akhir paling tua atau disebut muhaq," kata Andi, dilansir dari laman resmi BRIN.
Lebih lanjut, Andi mengatakan fase bulan baru yang digunakan sebagai acuan awal Syawal disebut juga Ijtimak awal Syawal di 2031 pada 23 Januari 2031 pukul 11.30 WIB/ 12.30 WITA/13.30 WIT.
Andi menjelaskan, ketinggian hilal toposentrik untuk pengamatan pada 23 Januari 2031 petang di Indonesia bervasi. Yakni antara -0,58 derajat (Merauke) hingga +2,02 derajat (Sabang).
Sedangkan, sudut elongasi geosentrik hilal-matahari bervariasi antara 5,10 derajat (Merauke) hingga 6,14 derajat (Sabang).
Dengan kriteria ketampakan/visibilitas hilal yang Indonesia gunakan saat ini (ketinggian toposentrik > 3 derajat dan elongasi geosentrik < 6,4 derajat), hilal sulit diamati, sehingga 1 Syawal 1452 H jatuh pada 25 Januari 2031.
Sedangkan fase bulan yang terdekat pada 25 Desember jatuh pada 14 Desember pukul 16.05 WIB/ 17.05 WITA/ 18.05 WIT yang merupakan ijtimak awal Ramadan 1453 H.
Ketinggian hilal toposentrik untuk pengamatan pada 14 Desember 2031 petang hari di Indonesia bervariasi antara -1,58 derajat (Merauke) hingga +0,37 derajat (Sabang).
Sedangkan sudut elongasi geosentrik hilal-matahari bervariasi antara 2,86 derajat (Merauke) hingga 3,27 derajat (Sabang).
Dengan kriteria ketampakan/visibilitas hilal yang Indonesia gunakan saat ini, kata Andu, hilal sulit diamati, sehingga 1 Ramadan 1453 H jatuh pada 16 Desember 2031. Berarti, 25 Desember 2031 jatuh pada 10 Ramadan 1453 H.
Sedangkan 1 Syawal 1453 H diperkirakan jatuh pada 14 Januari 2032, sehingga Idul Fitri tidak terjadi bertepatan dengan Natal di tahun 2031.
Andi menyebutkan sepanjang kemerdekaan Indonesia, tercatat dua kali Idul Fitri jatuh hampir berdekatan dengan Natal. Pertama pada 1968 ketika Idul Fitri 1388 H jatuh pada 21 Desember 1968. Kedua, pada 2000 dengan Idul Fitri 1421 H jatuh pada 27 Desember 2000.
Peristiwa serupa akan terjadi lagi pada 2033 dan 2065. Saat itu, Idul Fitri 1455 H terjadi pada 23 Desember 2033 dan Idul Fitri 1488 H terjadi pada 29 Desember 2065.
" Jika diperhatikan, ketika Idul Fitri beriringi dengan Natal, maka Idul Fitri akan terjadi di sekitar akhir tahun masehi, sehingga dapat dipastikan Idul Fitri terjadi dua kali dalam tahun masehi yang sama," ujarnya.
Idul Fitri pertama sudah terjadi di awal tahun masehi dan ada yang beriringi dengan tahun baru, seperti di 1968, Idul Fitri 1387 H jatuh pada 2 Januari 1969. Sedangkan di 2033, Idul Fitri 1454 H akan jatuh pada 3 Januari 2033
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya