Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Diturunkan kepada kita sebagai berkah, Idul Fitri adalah hari kegembiraan dan kemenangan. Ini adalah hari ketika semua umat Islam bergembira dan bersyukur kepada Allah karena banyak berkat yang Dia turunkan kepada manusia selama Ramadan.
Sesuai dengan tradisi Islam, Muslim harus memakai pakaian terbaik dan bersih, memanjatkan banyak doa syukur, mengunjungi kerabat dan teman-teman. Dan hal itu seharusnya dirayakan dengan cara yang membedakan umat Islam dari yang lain.
Sayangnya kita telah melupakan esensi sejati dari Idul Fitri dan mengubahnya menjadi hari pamer kekayaan dan status. Pakaian terbaik diasumsikan dengan baju mahal dan dirancang oleh rumah mode terkenal. Makanan suguhan Idul Fitri disiapkan secara mewah dan dalam jumlah besar di mana sebagian muslim lainnya hampir tidak mampu mendapatkannya. Banyak orang akan berpendapat bahwa inilah tradisi Idul Fitri.
Masalahnya adalah banyak dari kita mengira telah 'mematuhi' semua perintah Nabi Muhammad. Namun semangat sejati dari perayaan Idul Fitri telah berkurang. Idul Fitri dimaksudkan untuk dirayakan sebagai sebuah komunitas. Tapi dengan mengukur perayaan dengan jumlah uang yang kita keluarkan, kita menciptakan lebih banyak kelas-kelas dalam masyarakat.
Dalam masyarakat yang heterogen di mana sebagian besar adalah kaum yang kurang mampu, bagaimana mereka bisa merasa senang di hari Idul Fitri jika mereka harus menghabiskan uang. Sejatinya itu menjadi masalah utama kehidupan mereka?
Orang-orang kelas bawah dan menengah mulai khawatir tentang Idul Fitri. Masalahnya, pengeluaran sebelumnya di bulan Ramadan sudah sangat menguras kantong. Mereka menyambut Idul Fitri dengan perasaan takut, bukan kebahagiaan seperti yang seharusnya. Sementara Idul Fitri adalah hari raya keagamaan penting.
Menurut Badan Statistik Nasional, jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga Maret 2014 adalah 28,28 juta orang. Angka itu naik dari 28,17 juta orang pada periode yang sama tahun lalu.
Islam mengarahkan umatnya untuk menyumbangkan dan membantu orang yang tidak mampu secara ekonomi dan kesehatan. Tetapi kebanyakan dari kita mengabaikan hal tersebut. Kita cenderung lupa bahwa zakat dan sedekah adalah aspek yang sangat penting dari bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.
Bagi kebanyakan orang, Idul Fitri adalah hari libur nasional. Orang lebih peduli tentang bagaimana untuk tampil trendi dengan baju baru. Kaum wanitanya lebih sibuk mempersiapkan hidangan yang paling lezat dan mewah. Sementara anak-anak dididik untuk berlomba mendapatkan uang lebaran dalam jumlah besar.
Bahkan lembaga pendidikan menyelenggarakan acara khusus Idul Fitri, di mana anak-anak diminta untuk membawa berbagai makanan dan memakai pakaian lebaran mereka ke sekolah. Memang tidak salah, tapi sekolah harus mengajar murid-murid mereka untuk mengenakan pakaian sederhana sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak merasa minder.
Muslim seharusnya mengutamakan toleransi dan kesederhanaan selama bulan Ramadan, dan kemudian berlanjut di Idul Fitri. Habisnya Ramadan bukan berarti kita harus melupakan pelajaran tentang kesabaran, toleransi dan kesederhanaan. Bahkan Alquran dan hadis meminta umat Islam merayakan Idul Fitri sesuai dengan kapasitas, tidak berlebih-lebihan. (Ism, Sumber: Samaa Tv)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya