7 Ilmuwan Muda Indonesia yang Mendunia

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 15 Agustus 2019 11:00
7 Ilmuwan Muda Indonesia yang Mendunia
Para peneliti diaspora Indonesia ini membawa nama Tanah Air ke dunia akademik dunia.

Dream - Sejumlah ilmuwan muda asal Indonesia tersebar di sekujur Bumi. Tak main-main, para peneliti yang berusia di bawah 35 tahun itu menjadi anggota, bahkan mengepalai, sejumlah komunitas ilmuwan. 

Para ilmuwan ini terjaring dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang digelar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti dan Dirjen Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, serta Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4).

Program ini diisiasi sejak 2016. Tujuannya, agar tali kebangsaan sekaligus membuka peluang anak negeri berbakti kepada nusa dan bangsanya.

" Penyelenggaraan SCKD dalam kurun tiga tahun ke belakang telah menghasilkan lebih dari 100 karya ilmiah, termasuk berbagai kerja sama institusi pendidikan tinggi untuk peningkatan kualifikasi dan kompetensi SDM dosen di Indonesia," tulis tim SCKD.

Berikut sejumlah ilmuwan muda di bawah usia 35 tahun yang mengharumkan Indonesia di mata dunia.

1 dari 7 halaman

1. Hutomo Suryo Wasisto

 Hutomo

Hutomo Suryo Wasisto dilahirkan di Yogyakarta pada 1987. Dia meraih gelar sarjana Teknik Elektro dari Universitas Gadjah Mada pada 2008 dengan predikat cumlaude.

Usai lulus dari Asia University, Hutomo melanjutkan gelar doktoral di Universität Braunschweig (TU Braunschweig), Jerman dan berhasil meraih gelar DoktorIngenieur (Dr .-Ing.) dalam bidang Electrical Engineering.

Capaian istimewanya ditorehkan pada 2015 hingga 2016. Dia menjadi peneliti postdoctoral di School of Electrical and Computer Engineering (ECE), Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat.

Dia menjabat Head of Optoelectromechanical Integrated Nanosystems
for Sensing (OptoSense) Group di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), Braunschweig, Jerman pada 2016.

2 dari 7 halaman

2. Keni Vidilaseris

 Keni

Lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 1985, Keni Vidilaseris mengangkat nama Indonesia di kancah kimia. Keni merupakan peneliti posdoktoral di departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia. Dia juga dikenal sebagai pendiri laman sains populer, Sainspop.

Dia meneliti struktur protein dengan metode sinar-x. Dalam penelitiannya, dia mencoba mendesain senyawa yang secara spesifik bisa menghambat protein membran pirofosfatase dari bakteri termofilik dan parasit penyebab malaria, toksoplasma, dan penyakit tidur di Afrika.

Penelitian ini mendapat pembiayaan dari Academy of Finland sampai 2020. Dia peraih penghargaan, di antaranya Best poster presentation, MFPL Scientific Advisory Board meeting 2013, Vienna, Austria dan Best Oral Presentation Award pada CFC3013 Conference 2013.

 

3 dari 7 halaman

3. Wildan Abdussalam

 Wildan

Tahun 2012 menjadi masa spesial bagi Wildan Abdulsalam. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 1986, ini mendapat kesempatan Marie Curie Ph.D di Institut Max Planck untuk bidang Fisika dan Sistem Kompleks, Desden, Jerman. Lima tahun berselang, dia menyelesaikan gelar Ph.D dan bekerja di Helmholtz Zentrum Dresden Rossendorf sebagai peneliti pascadoktoral.

Dia merupakan lulusan program studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Padjajaran, pada 2007. Dia meneliti pencegahan kanker melalui terapi proton dan studi proses pemulihan sel pada luka di paru-paru manusia.

4 dari 7 halaman

4. Agustian Taufiq Asyhari

 Agustian

Pria ini kenal sebagai pengajar senior internet of things di Conventry University, Inggris. Bahkan, dia termasuk dalam Anggota Akademi Pendidikan Tinggi Inggris dan Anggota Masyarakat Teori Informasi.

Agustian merupakan pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 1986. Dia telah melanglang buana ke sejumlah negara untuk berbicara mengenai big data dan smart city.

Area penelitian Taufiq seputar teori informasi dengan aplikasi ke internet of things, 5G dan komunikasi nirkabel, mesin statistik biologis, jaringan dan intelegensia.

5 dari 7 halaman

5. Jundika Candra Kurnia

 Jundika

Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya dengan geothermal. Sosok Jundika Candra Kurnia mungkin akan menjadi salah satu orang yang tepat untuk menunjukkan perkembangan keunggulan tersebut.

Jundika lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 1986. Dia kini menjadi dosen senior di Teknik Mesin, Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia.

Jundika berfokus pada penelitian peningkatan perpindahan panas dan massa, sistem energi, dan penerapan dinamika fluida komputasi.

6 dari 7 halaman

6. Bramasta Nugraha

 Bramasta

Bramasta Nugraha dikenal menjadi pemilik paten penelitian teknik biologi, cleavable cellulosic sponge development for 3 dimensional cell culture and spheroids retrieval di Singapura (2012) dan Amerika Serikat (2014). Bramasta lahir di Jakarta, 1985. Dia merupakan Group Leader di Institute for Regenerative Medicine University of Zurich, Swiss.

7 dari 7 halaman

7. Mahardhika Pratama

 Mahardhika

Usianya 31 tahun. Tapi Mahardika Pratama telah menjadi asisten profesor di School of Computer Science and Engineering, Nangyang Technological University (NTU) Singapura. Pemuda yang berfokus pada penelitian continual learning, deep learning, data streams, dan concept drifts.

Dia pernah menerima berbagai penghargaan diantaranya misalnya Institution of Engineers, Singapore (IES) Prestigious Engineering Achievement Award pada 2011, UNSW high impact publication award pada 2013 dan 2014, dan penghargaan publikasi prestisius IEEE TFS pada 2018.

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian