Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pexels)
Dream – Sekelompok ilmuan menemukan virus purba yang telah membeku dalam dua sampel es yang diambil dari Dataran Tinggi Tibet di China. Bentuk virus tersebut pun tak pernah dilihat sebelumnya.
Temuan itu diterbitkan di jurnal Microbiome. Menurut para ilmuan, virus purba berasal dari inti es yang diambil pada 2015 yang telah membeku setidaknya selama 14.400 tahun lalu.
“ Gletser ini terbentuk secara bertahap bersama dengan debu dan gas, banyak virus yang juga tersimpan di es tersebut,” ungkap Zhi-Ping Zhong, penulis utama dan peneliti di Ohio State University Byrd Polar and Climate Research Center.
Para ilmuan mengungkapkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencerminkan lingkungan masa lalu dan virus tersebut merupakan bagian dari lingkungan itu.
Ketika para ilmuan menganalisis inti es, mereka menemukan kode genetik untuk 33 virus. Dari ke-33 virus tersebut empat diantaranya menunjukkan bagian dari keluarga virus yang biasanya menginfeksi bakteri.
Mereka percaya virus berasal dari tanah atau tumbuhan bukan dari hewan atau manusia.
“ Ini adalah virus yang akan berkembang biak di lingkungan yang ekstrem. Virus ini memiliki tanda gen yang membantu mereka menginfeksi sel di lingkungan yang dingin,” kata Matthew Sullivan, rekan penulis studi dan direktur Pusat Ilmu Mikrobioma Ohio State.
Sullivan mengatakan teknologi yang digunakan untuk mempelajari mikroba dan virus di dalam es akan mengarah pada pencarian urutan genetik serupa di lingkungan es ekstrem lainnya. Salah satunya di Mars.
Penulis senior studi Lonnie Thompson mengatakan penemuan virus di gletser es akan membantu para peneliti memahami bagaimana mereka merespons perubahan iklim.
“ Kami hanya tahu sedikit tentang virus dan mikroba di lingkungan ekstrem. Dokumentasi dan pemahaman tentang itu sangat penting,” kata Thompson.
(Sumber: usatoday.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya