Ini Faktor yang Membuat Tingkat Kematian Pasien Covid-19 di Jerman Rendah

Reporter : Arini Saadah
Senin, 6 April 2020 19:00
Ini Faktor yang Membuat Tingkat Kematian Pasien Covid-19 di Jerman Rendah
Negara Jerman memiliki tingkat kasus kematian akibat COVID-19 yang relatif rendah. Mengapa bisa terjadi?

Dream – Sejak muncul di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu, virus corona telah menginfeksi lebih dari 1,2 juta orang di seluruh dunia. Dari angka tersebut, lebih dari 69 ribu orang meninggal dunia.

Negara-negara, seperti Italia, Spanyol, PPrancis, Amerika Serikat, dan Britania, merupakan negara yang memiliki kasus kematian tertinggi. Di Italia, sudah lebih 15 ribu orang meninggal dunia. Di Spanyol lebih dari 12 ribu. Di AS, sudah tembus sembilan ribu.

Namun, berbeda dengan negara Jerman yang tingkat kasus kematian yang relatif rendah. Meskipun 91.159 orang terinfeksi virus corona Covid-19, tingkat kematian di Jerman hanya satu persen, atau berjumlah 1.275 kasus kematian.

Lantas apa sebenarnya yang membuat negara Jerman memiliki tingkat kematian akibat virus corona yang relatif rendah?

Menurut laman  professor Hans-Georg Krausslich, seorang Kepala Virologi di Rumah Sakit Universitas Heidelberg, yang merupakan rumah sakit penelitian terkemuka di Jerman, mengatakan pada minggu pertama memang mengalami masa kritis, yaitu bagi mereka yang memiliki penyakit paru-paru akan cepat memburuk.

1 dari 6 halaman

Tingkat Kematian Kasus COVID-19 di Jerman Relatif Rendah

Menurut John Hopkins University, kasus infeksi virus corona di Jerman hingga Senin siang, 6 April 2020, telah mencapai 100.123. Akan tetapi angka kematian hanya menunjukkan 1.584 kasus, yakni hanya 1,5 persen. Angka ini lebih kecil daripada di Italia 12%, 10% di Spanyol, Prancis, dan Inggris, 4% di China, dan 2,5% di Amerika Serikat. Sedangkan di Korea Selatan sebanyak 1,7%.

Professor Hendrik Streeck yang merupakan Direktur Institue of Virology di University Hospital Bonn, mengaku mendapat pertanyaan dari koleganya di Amerika Serikat, " Apa yang kamu lakukan? Mengapa tingkat kematian di negaramu sangat rendah?"

Para ahli di Jerman memiliki beberapa jawaban untuk pertanyaan tersebut. Para ahli menyebut rendahnya tingkat kematian pasien Covid-19 karena campuran distorsi statistik dan perbedaan penanganan terhadap wabah ini.

2 dari 6 halaman

Faktor Usia Pasien

Ilustrasi© Pexels

Menurut Straits Times, pada awalnya rata-rata usia yang terinfeksi Covid-19 di Jerman relatif lebih muda. Professor Krausslich mengatakan, awalnya virus menjangkiti para pemain ski di Austria dan Italia yang relative muda usianya.

Kasus virus yang menyerang orang muda dampaknya tidak separah apabila menyerang orang lanjut usia seperti di Italia, Spanyol, dan Prancis, yang dikabarkan didominasi usia lanjut. Namun, disaat infeksi telah menyebar semakin banyak, orang berusia lanjut di Jerman juga terinfeksi.

3 dari 6 halaman

Jerman Melakukan Tes Secara Massal

Selain faktor usia, professor Krausslich juga menjelaskan kematian yang rendah di Jerman karena negara itu mengadakan tes massal kepada masyarakat. Tes massal ini dilakukan besar-besaran sehingga banyak orang yang dilaporkan terkangkit.

Dengan demikian, pencegahan oleh tim medis segera dilaksanakan. Sehingga jumlah kasus kematian bisa ditekan dengan baik. Berbeda dengan negara lain yang mengadakan tes Covid-19 tidak sebesar di Jerman.

Dokter Christian Drosten menyebut Jerman memiliki laboraorium diagnose Covid-19 yang sangat besar. Jerman dapat melakukan sekitar 350.000 tes virus corona per minggu, jauh lebih banyak daripada negara Eropa lainnya.

Tes yang dilakukan lebih awal dan menjangkau seluruh lapisan masyaraka, memungkinkan pemerintah Jerman memperlambat penyebaran pandemi. Caranya dengan mengisolasi kasus yang sudah diketahui supaya tidak menular. Ini juga memungkinkan penanganan dan penyelamatan yang lebih tepat waktu.

4 dari 6 halaman

Pelacakan dan Pengujian yang Lebih Detail

Ilustrasi© Pixabay

Professor Streeck menerima info untuk pertama kalinya seorang pasien di RS Bonn dinyatakan positif Covid-19. Seorang pemuda 22 tahun yang tidak memiliki gejala. Akan tetapi pihak sekolah membawanya ke RS tersebut karena diketahui pemuda tersebut baru saja mengikuti sebuah acara yang ternyata dalam acara itu ada orang yang dinyatakan positif.

Di sebagian besar negara, seperti AS, tes sebagian besar dilakukan terbatas pada pasien yang paling sakit. Pemuda di Jerman yang tidak memiliki gejala itu kemungkinan besar ditolak bila melakukan tes di AS. Setelah itu seluruh sekolah ditutup dan pemerintah meminta isolasi selama dua minggu.

Professor Streeck mengatakan, pengujian dan pelacakan adalah strategi yang sudah berhasil di Korea Selatan, sehingga Jerman belajar dari negara Korsel.

5 dari 6 halaman

Sistem Kesehatan Jerman yang Baik

Sebelum virus menyerang, rumah sakit di Universitas Giessen memiliki 173 tempat perawatan intensif yang dilengkapi dengan ventilator. Kemudian, dalam beberapa minggu terkahir, rumah sakit dnegan cepat membuat 40 tempat tidur tambahan. Tidak hanya itu, pihak RS juga menambah pekerja medis untuk bersiaga di ruang intensif sebanyak 50%.

Dokter Susanne Herold, seorang spesialis di RS tersebut, mengatakan, pihaknya memiliki banyak kapasitas, bahkan mereka juga menerima pasien dari Italia.

Seluruh rumah sakit di Jerman telah memperluas kapasitas perawatan intensif mereka. Bulan Januari, Jerman memiliki 28 ribu tempat tidur perawatan intensif. Sementara saat ini, 40 ribu tempat tidur perawatan intensif tersedia di negara Jerman.

6 dari 6 halaman

Kebijakan Pemerintah yang Cepat dan Tepat

Ilustrasi© Pexels

Seperti negara-ngara lain, pemerintah Kanselir Angelia Merkel juga memberlakukan lockdown dan juga pembatasan sosial di masyarakat. Karena pembatasan social dipercaya adalah kebijakan yang dapat memperlambat penyebaran virus corona.

Professor Krausslich menyebut keputusan rasional yang diambil pemerintah dan kepercayaan dari masyrakat merupakan kekuatan tersbesar untuk melawan penyebaran wabah virus corona COVID-19.

Itulah beberapa faktor mengapa Negara Jerman memiliki tingkat kasus kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Sudah saatnya negara-negara lain belajar dari Jerman dalam penanganan pandemik global virus corona COVID-19 ini.

Beri Komentar