Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Nakes (Foto: Merdeka.com)
Dream - Kondisi wabah Covid-19 di Indonesia kembali mengkhawatirkan. Sejak pemberlakuan New Normal jumlah kasus baru terus meningkat bahkan mencapai di atas 3000 pasien per hari. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena banyak tenaga kesehatan (Nakes) turut menjadi korban meninggal dunia.
Pendiri KawalCovid19, Ainun Najib menilai kasus meninggalnya Nakes karena terpapar virus Corona merupakan hal yang sangat menyedihkan. Dia menyoroti adanya 180 Nakes mulai dari dokter, dokter gigi, dan perawat yang berpulang karena wabah tersebut.
“ Patut diangkat terus dan terus. Setidaknya 180 (terdiri dari) dokter, dokter gigi, dan perawat yang sudah berpulang dan ini sebetulnya menyedihkan sekali,” ujar Ainun dalam webinar Kata Data mengutip laman Liputan6.com.
Menurut Ainun, tenaga kesehatan ibarat tameng atau pelindung masyarakat dari paparan virus yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, China tersebut. Dia menilai banyaknya Nakes yang meninggal karena Covid-19 membuktikan bangsa ini tak berhasil melindungi mereka.
“ Baik kita sebagai masyarakat yang kurang disiplin mengikuti protokol kesehatan ataupun dari institusi yang seharusnya melindungi mereka.”
Dari fenomena saat ini, Ainun menyatakan kebijakan penyediaan alat pelindung diri (APD) dan berbagai macam protokol perlu ditinjau ulang guna mengurangi risiko paparan virus pada nakes
Di tempat terpisah, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Hasbullah Thabrany menyoroti kondisi DKI Jakarta yang dinilai sudah memasuki masa darurat Covid-19.
Kedaruratan itu berkaca dari kasus baru yang melonjak di atas 1.000 kasus dalam beberapa hari terakhir. Padahal Pemprov DKI sudah memperpanjang masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.
Menurut Hasbullah, peningkatan ini membuktikan kurang pedulinya masyarakat akan bahaya Covid-19. Pada akhirnya, kondisi tersebut membebani ruang perawatan khusus, terutama ruang isolasi dan ICU.
“ Yang terbaik kesadaran masyarakat. Jangan egois,” ujar Hasbullah dikutip dari Pojoksatu.id .
Hasbullan khawatir masih banyak masyarakat yang tidak memahami jika mereka tidak bisa tertangai ketika tertular Covid-19 karena keterbatasan sumber daya manusia.
Untuk mencegah bertambahnya Nakes yang gugur, Hasbullah meminta para tenaga medis di RS lebih cekatan dalam memilah pasien yang bisa diisolasi di rumah atau perlu isolasi di RS akibat kondisi darurat. Pemilahan juga termasuk dalam hal dokter umum dan spesialis yang layak menangani pasien sesuai tingkat risikonya.
“ Pasien yang ringan bisa ditangani dokter umum. Dokter spesialis terbatas. Mereka perlu istirahat. Jangan karena pekerjaan menumpuk begitu banyak. Mereka lupa disiplin diri, lemah dan menjadi korban,” katanya.
Indonesia sendiri, sambungnya, kekurangan dokter spesialis paru yang jumlahnya sangat sedikit. Sementara, produksi dokter spesiali jelas membutuhkan waktu panjang.
Dengan kondisi seperti ini, Hasbullah menyebut DKI Jakarta sudah darurat. Sebab ruang ICU sudah terisi sebanyak 77 persen.
“ (77 persen) Itu sudah kritis. DKI sudah darurat. Betul-betul harus melakukan kampanye massal besar-besaran. Jaga jarak. Kalau perlu harus mulai jam malam. Depok dan Bogor sudah mulai,” tegasnya.
“ Ini lebih parah dari awal-awalnya saat PSBB dijaga. Sekarang sudah 1.000 kasus per 10 juta penduduk berarti sudah ada kasus 100 per sejuta penduduk,” jelasnya.
Dia mendorong solusi tercepat harus dipikirkan Pemprov DKI Jakarta, yakni dengan menyulap berbagai ruang karantina khusus seperti apartemen kosong dan hotel untuk lokasi karantina pasien Covid-19.
“ Banyak apartemen kosong. Hotel juga banyak yang tak optimal okupansinya. Segera kontrak oleh Pemda. Harus siap-siap membuka cadangan lokasi karantina,” tegasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya