Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Pemerintah Jepang mendesak rakyatnya merayakan akhir tahun dengan tenang. Ini menyusul terjadinya lonjakan kasus Covid-19 hingga memecahkan rekor.
Sementara di sisi lain, Jepang malah jor-joran menggenjot sektor pariwisata. Dana subsidi bahkan disiapkan untuk mempromosikan pariwisata meskipun banyak laporan media menyebut keputusan tersebut justru menghentikan kampanye pencegahan Covid-19.
" Laporan itu tidak benar, kami akan terus mengoperasikan pariwisata dengan cara yang tepat, berusaha untuk mencegah penyebaran infeksi," ujar Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato, dikutip dari Channel News Asia.
Infeksi virus corona baru di Jepang mencapai 2.848 kasus pada Kamis. Ini merupakan jumlah terbanyak penambahan kasus harian sejak awal pandemi.
Laporan media menyebutkan pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga sedang mempertimbangkan jeda dalam kampanye " Go To Travel" sekitar dua bulan pada akhir tahun dan memasuki Tahun Baru karena opini publik telah bergeser untuk mendukung penghentian.
Pemerintah Suga sejauh ini mendorong subsidi yang diperlukan untuk menjaga hotel dan maskapai penerbangan tetap beroperasi. Sehingga dapat memulihkan ekonomi yang terpuruk oleh pandemi.
Laporan dari tim peneliti di Universitas Tokyo dan Universitas California, Los Angeles (UCLA) menemukan insiden gejala Covid-19 yang lebih tinggi pada orang-orang yang berpartisipasi dalam kampanye perjalanan dibandingkan dengan masyarakat umum.
Para ahli mengatakan cuaca musim dingin yang lebih dingin dan kering membuat orang tetap di dalam rumah serta dapat memicu infeksi menjadi ganas. Sementara perayaan akhir tahun dan Tahun Baru tradisional dengan keluarga dan teman membuat orang berisiko lebih besar terkena.
" Penting bagi warga untuk sedikit bekerja sama dengan menghabiskan akhir tahun dan Tahun Baru yang tenang," kata Kato.
Dream - Bagi para penyitas Covid-19, salah satu masalah yang harus diwaspadai yakni terjadinya Long Covid. Kejadian ini bisa dialami para penyitas usai dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona.
Dokter spesialis paru, Agus Dwi Susanto, mengungkapkan, ada beberapa perbedaan antara gejala Long Covid dengan infeksi awal Covid-19.
" Kalau gejala Long Covid ini lebih banyak yang sifatnya kronik, sedangkan gejala Covid-19 adalah gejala akut," kata Agus dalam dialog di Graha BNPB, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Agus mengatakan, gejala Covid-19 misalnya seperti demam, batuk, pilek, atau sakit tenggorokan, yang bersifat akut dan muncul dalam beberapa hari hingga beberapa pekan.
Selain itu, diagnosis Covid-19 juga ditegakkan melalui adanya riwayat kontak dengan pasien terinfeksi Virus Corona lainnya, serta hasil swab test PCR yang positif.
Sementara, untuk Long Covid, seseorang harus terlebih dahulu dinyatakan sembuh dan negatif dari COVID-19.
" Jadi, kalau kita mau menyatakan itu adalah Long Covid, pasien COVID-19 harus sembuh dulu, dan biasanya dari swab-nya negatif," kata Agus.
Agus mengatakan, gejala Long Covid bisa menetap dan bervariasi. Namun berdasarkan beberapa riset yang dilakukan di China, Inggris, dan Amerika Serikat, ada beberapa beberapa gejala yang banyak ditemukan.
" Sebagian besar gejala yang muncul, pertama adalah kelelahan kronik, jadi badan terasa lemah, letih, beberapa minggu sampai beberapa bulan masih lemas. Itu riset di Inggris sekitar 60 persen mengalami kelelahan tersebut," ujarnya.
Gejala lain yang banyak dilaporkan adalah sesak napas atau napas berat. Agus mengatakan, hal ini karena Covid- 19 juga berdampak pada paru dan jantung, yang berimplikasi pada napas terasa berat.
Agus mengatakan, di beberapa riset persentase mereka yang mengalami sesak napas usai sembuh dari Covid-19 mencapai sekitar 42 persen.
" Gejala yang lain adalah seperti nyeri sendi, nyeri otot, itu juga bisa muncul. Bahkan ada gejala psikologis yang dilaporkan seperti depresi pasca Covid-19," terang Agus.
Terdapat sejumlah gejala lain yang dilaporkan terjadi walau dalam jumlah sedikit. Hal ini berupa masalah perut serta gangguan pada indera penciuman atau perasa.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam