Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Sudah satu dekade larangan hijab berlaku di Perancis. Banyak muslimah di sana terus berjuang untuk meluruskan kesalahpahaman tentang hijab.
Namun usaha itu rupanya belum cukup. Sampai akhirnya sebagian dari muslimah Perancis lelah dengan perlakuan tidak adil itu.
Memang ada yang tetap bertahan dan terus berjuang. Tapi Sebagian lain, memilih hengkang dari Perancis untuk memperoleh jaminan atas keyakinannya.
" Saya berkata kepada diri sendiri, masa depan saya mungkin tidak di sini. Jika saya tidak diterima di sini, saya akan pergi," kata muslimah Perancis, Sarah B dalam sesi wawancara dikutip OnIslam.net, Rabu 22 Oktober 2014.
" Saya tidak ingin selamanya berjuang untuk diterima. saya ingin hidup damai dan bebas seperti perempuan lainnya."
Sarah yang sudah lima tahun menetap di Perancis mulai berpikir serius pindah ke negara lain. Mungkin Kanada, Inggris atau kembali ke kampung halamannya di Maroko.
" Jujur saya mencintai Prancis. Negara ini menawarkan banyak hal tapi saya juga berhak atas kebebasan saya. Saya berhak menjadi diri sendiri. Sakit rasanya," kata dia.
Sarah mengaku sudah cukup menderita menjadi korban Islamofobia sejak memutuskan berhijab. Bahkan, ia harus rela melepas hijabnya ketika kuliah.
Opsi lain selain memilih meninggalkan Perancis, sebagian muslimah di sana berencana mengambil pekerjaan di dunia maya. Sehingga mereka terhindar dari masyarakat.
Adalah Laila Glovert, 33 tahun, yang memilih meninggalkan Perancis empat tahun lalu menuju London.
Wanita yang menjadi mualaf sejak usia 13 tahun ini, trauma setelah menjadi korban kekerasan Islamofobia di jalanan Paris.
" Saya tidak akan pernah kembali ke Prancis. Hanya satu hal yang membuat kembali, yakni mengunjungi anak-anak. Itupun saat liburan," kata Glovert yang kini bekerja sebagai konsultan kesehatan di klinik perokok. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya